Anggota Komisi XIII Usul Penyiar TV Ucap ‘Salam Pancasila’ Sebelum Baca Berita
·waktu baca 3 menit

Anggota Komisi XIII DPR Shadiq Pasadigoe mengusulkan agar penyiar televisi di Indonesia menyampaikan ‘Salam Pancasila’ sebelum membacakan berita sebagai bagian dari penguatan sosialisasi Pancasila kepada masyarakat.
Hal itu disampaikannya saat rapat Komisi XIII DPR dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6).
Ia menilai sosialisasi Pancasila perlu dilakukan lebih masif dan menyentuh ruang-ruang publik.
“Dari awal keberadaan Komisi XIII, waktu kita rapat-rapat, memang nggak ada teman-teman di Komisi XIII ini rasanya yang tidak mendukung program BPIP. Dan bahkan pada waktu itu, anggaran untuk BPIP kami mendukung sepenuhnya tanpa batas,” ungkap Shadiq.
Namun, ia menilai upaya yang dilakukan BPIP saat ini masih belum menunjukkan greget yang kuat dalam memperluas internalisasi nilai Pancasila di masyarakat.
“Tapi saya melihat dari greget yang dilakukan oleh BPIP masih jauh dari harapan. Contohnya saja, kita mensosialisasikan Pancasila. Kalau ada greget dari BPIP, bagaimana Pancasila itu betul-betul tersosialisasi secara massal di negara kita ini,” tutur Shadiq.
“Contohnya, penyiar TV setiap dia akan membacakan berita atau membuka acara, Salam Pancasila itu jangan lupa. Itu sudah sosialisasi dari Pancasila, sehingga Pancasila itu betul-betul membumi terhadap generasi muda,” sambungnya.
Shadiq juga menyinggung pengalaman pribadinya mengikuti penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) selama 120 jam.
“Kalau saya Pak, orang yang ikut penataran P4 120 jam pada waktu itu, yang paling tinggi Pak. Dan saya pegawai negeri pernah duduk eselon IV, III, II, I, bupati dua kali, dan salah satu faktor saya tidak tersangkut perkara hukum, jangankan kena periksa, kena panggil saja saya tidak pernah, karena saya pegang Pancasila itu sebagai karakter diri saya. Tidak ada maling Pak, merdeka! Boleh Bapak tanyakan,” tutur Shadiq.
Ia kemudian meminta agar BPIP lebih agresif dalam memperjuangkan anggaran sekaligus memperluas sosialisasi Pancasila.
“Jadi saya minta kepada Bapak kalau bisa greget tolong BPIP itu jangan lembek, harus ditembus. Ini anggaran aja tidak bisa. Saya kan mengerti itu bagaimana Kementerian Keuangan itu menetapkan suatu anggaran. Ece-ece aja semua kadang-kadang Pak, tapi dia tidak tahu apa itu pentingnya Pancasila ini,” tutur dia.
Ia juga mendorong adanya strategi lebih kuat dalam penganggaran dan implementasi program BPIP.
“Jadi saya mengharapkan kepada Bapak, greget itu perlu dan perjuangkan bagaimana anggaran itu bisa dapat. Kalau kata orang Padang dan saya praktikkan, mencari anggaran itu yang pertama dijuluk. Ada pohon rambutan, dijuluk dulu Pak. Nggak bisa dijuluk, panjat. Nggak bisa dipanjat, goyang. Nggak bisa digoyang, tebang. Itu cara mencari anggaran,” tegasnya.
Ia menegaskan kembali bahwa Pancasila harus menjadi identitas dan karakter bangsa, terutama di tengah berbagai persoalan moral di masyarakat.
“Jadi saya mohon Pak tolong greget dari BPIP itu ditambah dan bagaimana Bapak menembus itu dan kita bekerja sama dengan Komisi XIII,” ucap Shadiq.
“Tapi Pancasila itu harus menjadi identitas bangsa dan karakter bangsa kita, bahwa lihat aja sekarang Pak berapa banyaknya penyelewengan-penyelewengan dilakukan yang tidak ada pertimbangan-pertimbangan moral sedikitpun, yang nggak masuk di akal,” sambung dia.
Menurutnya, penguatan Pancasila tetap relevan untuk membentuk karakter bangsa Indonesia yang lebih baik di tengah tantangan zaman.
“Kan Bapak kita selalu, nggak perlu kita buka itu, tapi itu yang kejadian. Tapi dengan adanya Pancasila itu saya yakin di samping agama itu akan membentuk karakter orang Indonesia yang baik,” kata dia.
