Kisah Pensiunan Guru Bikin Bimbel di Yogya: Bikin Ortu War Tiket hingga Menginap

Sebuah rumah di gang Jalan Gayam, Gondokusuman, Yogyakarta mendadak ramai dikunjungi warga. Rumah ini memang sehari-hari menjadi tempat bimbingan belajar (Bimbel).
Bimbil ini dibangun oleh seorang pensiunan guru bahasa Indonesia bernama Yurin Gagarin pada tahun 2000-an silam. Yurin terakhir mengajar di SMA 4 Yogyakarta.
Sejak saat itu, Yurin bersama suaminya, membangun Bimbel. Awalnya, hanya satu mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia. Bayarnya Rp 150 ribu per anak.
"Karena kami dengan Bapak tinggal berdua itu semeleh. Yang penting barokahnya, hanya itu. Tidak dinaikkan, besok juga tetap Rp 150 ribu," katanya.
Saat ini, Yurin membuka Bimbel untuk 4 mata pelajaran. Tiga mata pelajaran tambahan, yakni matematika, IPA, dan Bahasa Inggris.
Setiap siswa membayar Rp 150 ribu per mata pelajaran per bulan. Jadi kalau ada siswa yang mengambil 4 mata pelajaran, biayanya Rp 600 ribu.
Yurin tak menyangka, tahun ini didatangi banyak warga. Rumahnya penuh, antrean mengular sampai ke depan gang. Para orang tua murid datang untuk mendaftarkan anaknya yang masih duduk di kelas 8, untuk tahun depan menghadapi ujian di kelas 9.
Untuk tahun depan, Yurin hanya membuka untuk 400 orang. Satu kelas diisi 20 orang. Tak ada sistem seleksi, siapa cepat dia dapat.
"Kami itu enggak pernah promosi, tetapi insyaallah ya dari mulut ke mulut hasilnya itu output-nya itu hampir semuanya (masuk SMA) negeri dan favorit," katanya.
"Ternyata (testimoni) dari temannya, dari teman getok tular gitu. Saya enggak pernah promo," jelasnya.
SMA favorit yang dimaksud seperti SMA N 1 Yogyakarta, SMA N 3 Yogyakarta, hingga Taruna Nusantara Magelang.
Anak Pratikno Sempat Jadi Murid
Yurin mengatakan, di awal membuka bimbel, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, sempat memasukkan anaknya ikut Bimbel.
"Tahun 2000-an, 2000 ke atas (bimbel buka). Sejak ini putranya Pak Menteri Pratikno di sini," kata Yurin.
