Mensos Sebut Calon Siswa Sekolah Rakyat 2026/2027 Tembus 32.640 Orang
·waktu baca 4 menit

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menghadiri acara open house Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 10 Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6).
Hadir dalam acara tersebut Menteri Sosial Gus Ipul, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo, serta jajaran Kementerian Sosial. Dalam kesempatan itu, Gus Ipul berinteraksi langsung dengan para calon siswa dan orang tua sekaligus mendengarkan aspirasi mereka.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul menyampaikan jumlah calon siswa Sekolah Rakyat untuk tahun ajaran 2026/2027 telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah, yakni 32.640 orang. Sementara itu, proses penjangkauan secara nasional sudah mencapai lebih dari 42 ribu calon siswa.
"Per hari ini untuk tahun 2026 ini calon siswanya sudah lebih dari 30 ribu. Yang sudah dijangkau per hari ini ada 42 ribu sementara alokasinya itu 32.640 untuk alokasinya di seluruh Indonesia," kata Gus Ipul.
Ia menjelaskan, angka tersebut merupakan hasil penjangkauan yang dilakukan Kemensos di berbagai daerah dengan menggunakan data kesejahteraan sosial DTSEN dan temuan langsung di lapangan, termasuk anak-anak yang berada dalam kondisi rentan.
"Penjangkauan seluruh Indonesia sudah melebihi target. Jumlah yang dijangkau 42 ribu lebih. Penjangkauan paling banyak di tingkat SMP sebanyak 17 ribu lebih calon siswa, kemudian SMA sebanyak 16 ribu calon siswa lebih, dan SD 3 ribu lebih calon siswa," ujarnya.
Dalam sesi dialog, Gus Ipul meminta peserta yang pernah putus sekolah untuk mengangkat tangan. Ia menyebut lebih dari separuh calon siswa yang hadir memiliki latar belakang putus sekolah.
"Siapa yang pernah putus sekolah angkat tangan. Inilah calon-calon siswa Sekolah Rakyat yang sebelumnya putus sekolah. Ini cukup banyak ya, lebih dari 50 persen yang hadir di antaranya itu adalah putus sekolah," ucapnya.
Sebagai contoh, Gus Ipul menyoroti kisah calon siswa bernama Muhammad Revaldi, remaja asal Cengkareng, Jakarta Barat, yang putus sekolah sejak kelas 2 SD dan selama ini membantu ekonomi keluarga dengan mengumpulkan botol bekas.
"Revaldi ini calon siswa dari Cengkareng, Jakarta Barat. Putus sekolah dari kelas 2 SD, sudah 9 tahun tidak sekolah," kata Gus Ipul.
Dalam profil yang ditampilkan, diketahui Ayah Revaldi bekerja sebagai tukang ojek dengan penghasilan sebulan sebesar Rp 1,5 juta, sedangkan ibunya tidak bekerja.
"Kamu masih semangat sekolah? Masih ingin sekolah. Benar?" tanya Gus Ipul.
"Masih," jawab Revaldi.
Gus Ipul kemudian berinteraksi dengan Iis Anggel, ibunda dari Revaldi. Dalam interaksi itu, Iis berharap Revaldi dapat mengenyam pendidikan dengan baik, terlebih Revaldi merupakan tulang punggung di keluarga.
"Harapan saya, anak saya ke depan sukses, karena kecil sudah susah, sudah besar berpendidikan. Ini tulang punggung untuk sehari-hari makan, jadi Muhammad Revaldi yang nyari (nafkah). Bapaknya Revaldi kadang-kadang ngojek,” ujar Iis.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul menegaskan Sekolah Rakyat tidak membatasi usia peserta didik. Gus Ipul mengatakan akan ada penyetaraan, bahkan bagi anak yang belum pernah mengenyam pendidikan.
"Jadi Bapak, Ibu sekalian di Sekolah Rakyat itu memang tidak mengenal usia. Jadi meskipun sudah usia 15 tahun belum pernah sekolah, tetap diterima dan nanti akan ada penyetaraan. Jadi ada pendidikan khusus penyetaraan nanti tentu ada percepatan-percepatan jika bisa mengikuti pembelajaran dengan cepat maka dia akan bisa lulus lebih cepat di SD, bisa lulus cepat di SMP. Akan didampingi oleh guru-guru yang memiliki kemampuan agar bisa mengejar ketertinggalannya," ujar Gus Ipul.
Ia juga mencontohkan sejumlah siswa yang berhasil bangkit setelah mengikuti program Sekolah Rakyat, salah satunya kemampuan bertahan dan semangat belajar meski berasal dari keterbatasan.
Gus Ipul menegaskan, program Sekolah Rakyat merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak.
"Program ini adalah gagasan langsung dari Bapak Presiden Prabowo untuk keluarga paling tidak mampu. Ini adalah perhatian khusus dari Bapak Presiden, karena Bapak Presiden ingin seluruh anak Indonesia memperoleh pendidikan yang baik, tidak ada yang tertinggal," katanya.
