Respons Kemenkes Soal Ramai Dokter Komentar Nirempati ke Pasien BPJS

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Foto: Yohanes01/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Foto: Yohanes01/Shutterstock

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menanggapi ramainya unggahan di media sosial Threads yang memuat komentar nirmpati para dokter terhadap pasien BPJS. Dalam postingan itu, pasien akhirnya meninggal.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan pihaknya menyayangkan adanya komentar dari sebagian tenaga medis maupun tenaga kesehatan di media sosial yang terkesan tidak berempati terhadap pasien maupun keluarganya yang sedang menjalani pelayanan kesehatan.

“Kami mengimbau sebaiknya kita semua mengedepankan empati dan komunikasi yang baik dalam menanggapi sebuah peristiwa di masyarakat,” kata Aji kepada kumparan, Rabu (5/8).

“Hal ini juga merupakan bagian dari profesionalisme tenaga medis dan tenaga kesehatan,” lanjut dia.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Aji Muhawarman di depan Nusantara II, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (7/5/2025). Foto: Alya Zahra/kumparan

Aji menambahkan, masyarakat yang menemukan dugaan pelanggaran etik atau disiplin profesi tenaga medis maupun tenaga kesehatan dapat menyampaikan laporan melalui mekanisme pengaduan di Konsil Kesehatan Indonesia (KKI).

“Jika masyarakat menemukan dugaan adanya pelanggaran etik atau disiplin profesi tenaga medis/tenaga kesehatan, kami mengimbau agar disampaikan melalui mekanisme pengaduan di Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), sehingga dapat diperiksa dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Aji.

Media sosial tengah ramai membincangkan sikap sejumlah dokter yang berkomentar diutas seseorang. Dalam unggahan itu, warga bercerita pengalamannya menunggu 8 jam belum dapat kamar.

Utas itu dipenuhi oleh komentar sejumlah orang yang belakangan diketahui merupakan dokter. Beberapa hari kemudian, pasien ini dilaporkan meninggal.