Selawat Asyghil di Tengah Dinamika Pleno I Muktamar Ke-35 NU

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan pada Pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan pada Pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden

Sidang Pleno I Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, diwarnai dinamika pembahasan. Di tengah situasi tersebut, lantunan Selawat Asyghil terdengar dari dalam arena persidangan.

Sidang Pleno I dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Para muktamirin kemudian mengikuti pembahasan sejumlah agenda yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.

Dinamika muncul ketika peserta membahas mekanisme pemilihan, termasuk terkait mekanisme pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dan pemilihan Ketua Umum PBNU.

Wartawan yang melakukan peliputan berada di luar arena Sidang Pleno I. Pada beberapa menit awal, suara dari dalam persidangan masih dapat terdengar karena panitia menempatkan speaker di luar arena.

Pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Foto: Youtube/NU Online

Namun, situasi berubah setelah pembahasan di dalam sidang berlangsung cukup dinamis. Speaker yang berada di luar arena kemudian dimatikan sehingga wartawan kesulitan mengikuti secara langsung perkembangan pembahasan dan dinamika yang berlangsung di dalam ruang sidang.

Di tengah kondisi tersebut, terdengar lantunan Selawat Asyghil dari dalam arena Sidang Pleno I. Lantunan tersebut kemudian menjadi suara yang terdengar dari luar ketika suasana persidangan sebelumnya diwarnai perdebatan mengenai mekanisme Muktamar.

Sebelum lantunan selawat terdengar, salah satu peserta sidang, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pasuruan KH. Muzakki Birrul Alim menyampaikan pandangannya mengenai cara pimpinan sidang mengambil keputusan.

Dia meminta pimpinan sidang tidak membawa opini pribadi dalam mengarahkan jalannya persidangan. Abdul Halim menilai berbagai usulan yang telah disampaikan muktamirin sudah cukup untuk menjadi dasar mengambil keputusan.

"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pasuruan. Pak Profesor yang saya hormati, dari berbagai macam usulan tadi, sebetulnya Pak Prof sudah bisa mengambil satu kesimpulan bahwa... Tadi ada pertanyaan: apakah kita kembalikan kepada pasal atau kepada AD/ART dan hasil Muktamar ke-33?"

"Dari berbagai macam usulan tadi dan masukan tadi, sebetulnya itu sudah cukup untuk diambil keputusan oleh pimpinan sidang."

Abdul Halim kemudian meminta pimpinan sidang mengambil sari atau inti dari pendapat mayoritas peserta, bukan memasukkan pandangan pribadi.

"Saya berharap pimpinan sidang tidak membawa opini pribadi yang disodorkan kepada para muktamirin, tapi lebih bijak untuk mengambil sari yang terbanyak dari apa yang disampaikan oleh muktamirin."

Dia juga mengingatkan agar pimpinan sidang tidak mencari second opinion yang dapat menimbulkan kesan adanya agenda pribadi dalam mengarahkan Muktamar.

"Sehingga tidak mencari second opinion. Sehingga itu menggambarkan bahwa Pak Prof punya agenda pribadi yang mengarahkan arah Muktamar ini."

Abdul Halim kemudian meminta agar suasana Muktamar tetap teduh dan pimpinan sidang berada di posisi tengah.

"Mohon maaf, ngapunten, supaya Muktamar ini lebih teduh, sehingga pimpinan sidang harus berada di tengah-tengah, tidak membawa opini pribadi."

Makna Selawat Asyghil

Selawat Asyghil merupakan salah satu bacaan selawat yang dikenal luas di kalangan masyarakat Muslim Indonesia. Selain berisi pujian dan doa kepada Nabi Muhammad SAW, bacaan ini juga memuat doa agar Allah memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin dan menjaga mereka dari kezaliman.

Secara historis, Selawat Asyghil juga dikenal sebagai selawat yang berisi doa agar orang-orang zalim disibukkan atau dipertentangkan dengan sesama orang zalim, sehingga kaum Muslimin terlindungi dari kejahatan mereka.

Dalam praktik keagamaan masyarakat, Selawat Asyghil kerap dilantunkan dalam majelis-majelis zikir dan doa, terutama ketika umat menghadapi situasi yang dianggap membutuhkan perlindungan, ketenangan, serta pertolongan Allah.

Lantunan tersebut juga dapat dipahami sebagai bagian dari tradisi warga NU dalam meredakan suasana dan mengembalikan forum kepada ketenangan, doa, serta sikap menahan diri ketika terjadi dinamika dalam sebuah musyawarah.

Terlebih, sejak awal Muktamar ke-35 NU menekankan semangat musyawarah, guyub, dan menjaga suasana tetap teduh. Dalam konteks itulah, Selawat Asyghil terdengar di tengah dinamika Sidang Pleno I yang membahas mekanisme penting bagi masa depan organisasi.