Konten dari Pengguna

Tanpa Pernah Menyebutnya Deep Work, Santri Sudah Menjalaninya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Husnul Yakin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tanpa Pernah Menyebutnya Deep Work, Santri Sudah Menjalaninya. Foto:Unsplas/Azmi Hidayat
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tanpa Pernah Menyebutnya Deep Work, Santri Sudah Menjalaninya. Foto:Unsplas/Azmi Hidayat

Hampir semua pekerjaan besar menuntut keahlian yang jarang dibicarakan, yaitu fokus. Kewajiban menumpuk, tenggat waktu mengejar, dan di tengah semua itu ada saja yang menarik perhatian kita ke arah lain. Padahal tugas utama sedang menunggu.

Kecemasan ini justru lebih sering saya dengar dari orang di luar pesantren. Mereka sadar hidupnya terlalu sering terganggu dan terseret arus media sosial. Maka mereka berusaha sekuat tenaga menjauh dari gawai demi bisa belajar, berbisnis, atau bekerja dengan tenang. Salah satu jalan keluar yang mereka tempuh bernama deep work, istilah yang dipopulerkan Cal Newport. Deep work (kerja mendalam) adalah aktivitas profesional yang dilakukan dalam konsentrasi penuh tanpa gangguan, yang mendorong kemampuan kognitif hingga batas maksimalnya.

Saya tertegun ketika membaca definisi itu. Sudah lebih dari satu dasawarsa alias puluhan tahun saya menimba ilmu di pondok pesantren. Bukankah ini yang kami (para santri) jalani setiap hari di pondok? Bukankah kami diajarkan fokus oleh pesantren? Bukankah kami didesain dan disistem untuk menempuh deep work yang orang luar inginkan?

Ikh,, kita (para santri) benar-benar tidak membawa handphone, tidak membaca novel, tidak ada notifikasi. Di pesantren, kita amat fokus, amat terjaga dan amat tersistem.

Bagi santri, belajar adalah makanan sehari-hari. Ia belajar dari bangun tidur sampai terlelap kembali. Semua yang ada di pesantren adalah bagian dari pendidikan, dan menjaganya menjadi kewajiban setiap santri.

Karena fokus itu dianggap wajib, lingkungan pondok menjaganya dengan caranya sendiri. Santri dijauhkan dari gawai dan media sosial, juga dari bacaan yang bisa membelokkan perhatian, seperti novel (kecuali bagi yang memang mengambil jurusan sastra). Tanpa banyak teori, tanpa seminar produktivitas, santri sudah menjalani deep work sejak hari pertama berikrar menjadi santri. Diam-diam, tanpa pernah menyebutnya begitu.

Ulama-ulama Deep Work

Kalau mau menelusuri akarnya, ternyata para ulama kita sudah lama menyarankan belajar mendalam tanpa gangguan.

Ada riwayat tentang seseorang yang bertanya kepada Abu Hanifah:

يروي أن رجلًا سأل أبا حنيفة: «بِمَ يُستعان على الفقه حتى يُحفظ؟» فقال: «يجمع الهم». فسأله: «وبم يُستعان على جمع الهم؟» فقال: «بحذف العلائق». ولما سأله كيف يتخفف من العلائق، أجابه: «تأخذ الشيء عند الحاجة ولا تزد».

“Seorang datang kepada Abu Hanifah. Orang itu bertanya, bagaimana cara mudah menghafal fikih? Beliau menjawab, dengan menghimpun kesungguhan hati. Lalu dengan apa menghimpun kesungguhan itu? Dengan membuang hal-hal yang menyibukkan. Dan bagaimana meringankan diri dari ikatan itu? Ambillah sesuatu sesuai kebutuhan dan jangan lebih.”

Abu Hanifah berpesan kepada lelaki itu bahwa konsentrasi lahir menuntut berkurangnya beban perhatian, dan beban itu berkurang ketika kita tidak berlebihan dalam hal yang tidak kita butuhkan.

Imam an-Nawawi dalam al-Majmūʿ menegaskan hal serupa:

وَيَنْبَغِي أَنْ يَقْطَعَ الْعَلَائِقَ الشَّاغِلَةَ عَنْ كَمَالِ الِاجْتِهَادِ فِي التَّحْصِيلِ وَيَرْضَى بِالْيَسِيرِ مِنْ الْقُوتِ وَيَصْبِرَ عَلَى ضِيقِ الْعَيْشِ

“Seyogianya pelajar memutus hal-hal yang menyibukkan dari kesungguhan yang sempurna dalam menuntut ilmu, rela dengan makanan seadanya, dan bersabar atas sempitnya kehidupan.”

Di kitab yang sama, beliau mengutip ucapan Imam asy-Syafi’i:

قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى لَا يَطْلُبُ أَحَدٌ هَذَا الْعِلْمَ بِالْمُلْكِ وَعِزِّ النَّفْسِ فَيَفْلَحَ وَلَكِنْ مَنْ طَلَبَهُ بِذُلِّ النَّفْسِ وَضِيقِ الْعَيْشِ وَخِدْمَةِ الْعُلَمَاءِ أَفْلَحَ

Tidak ada seorang pun yang menuntut ilmu ini dengan kekuasaan dan kemuliaan diri lalu ia beruntung. Yang beruntung adalah orang yang menuntutnya dengan kerendahan hati, kesederhanaan hidup, dan berkhidmat kepada para ulama.

Bayangkan! Berabad-abad sebelum kata distraksi digital ada, para ulama-ulama kita sudah merumuskan bahwa ilmu hanya akan terbuka bagi hati yang tidak terdistraksi.

Mengapa Fokus Sedalam Itu Penting

Pembelajaran yang bermakna membutuhkan konsentrasi tinggi, apalagi untuk materi yang rumit dan harus dipahami bertahap, seperti kaidah nahwu, ushul fikih, atau hafalan nadzam yang panjang. Ketika kita belajar sambil terganggu, otak terus berpindah antara materi dan gangguan. Perpindahan itu menggerus kualitas pemahaman dan memperlambat proses belajar secara keseluruhan. Santri yang ngaji sambil menoleh ke sana kemari tentu tidak akan sedalam santri yang menyerahkan seluruh perhatiannya kepada kitab dan gurunya.

Sebuah Prestasi yang Perlu Dievaluasi

Fokus yang terjaga di pondok memang patut kita syukuri dan acungi jempol. Tetapi, dengan jujur, ia perlu dievaluasi. Menurut saya, bagian yang perlu dievaluasi adalah mengapa fokus itu sering tidak bertahan lama, ia akan runtuh ketika liburan pondok tiba?

Saya menerka-nerka dan mungkin jawabannya sederhana. Fokus kita selama ini banyak ditopang oleh sistem dan lingkungan, bukan sepenuhnya oleh kebiasaan pribadi. Ketika santri pulang, perubahannya terlalu drastis, dari lingkungan pesantren yang ketat ke rumah yang serbabebas. Di sanalah kecanduan gawai dan media sosial menunggu. Konten pendek seperti TikTok dan Instagram Reels yang dikonsumsi terus-menerus memicu apa yang disebut brain rot, yaitu menurunnya fokus yang membuat kita sulit berkonsentrasi dan malas beraktivitas.

Ini renungan. Renungan untuk seluruh santri dan pastinya untuk saya pribadi juga. Jangan sampai deep work kita hanya berlaku di pondok. Di rumah, sebisa mungkin kita jalani. Jelas boleh untuk bermain handphone dan membuka media sosial di rumah, tapi hal itu ada batasnya. Kiranya kita tidak dibuat malas beraktivitas apalagi malas beribadah.

Penutup

Semoga semangat mondok, fokus belajar, dan mengembangkan diri yang kita bangun di pesantren terus berlanjut hingga ke rumah. Semoga kita tetap menjadi sosok yang deep work, bukan sosok yang brain rot.

Sekian. Semoga bermanfaat. Terima kasih.