Surplus Konsepsi, Defisit Aksi

Penulis menyelesaikan program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta pemerhati isu-isu sosial.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ahmad Syahrus Sikti Official tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu kelemahan bangsa berkembang adalah terlalu banyak konsep namun sedikit aksi. Kita lebih gemar berdebat, adu pendapat dalam simpul argumentasi demi terlihat hebat namun minim aksi sehingga banyak gagasan dan ide tercecer di atas kertas belaka. Padahal problem dan permasalahan membutuhkan aksi cepat dan solusi nyata, bukan setumpuk teori, apalagi retorika asal bunyi. (Alatas, S.H. (1977). Intellectuals in Developing Societies. Routledge).
Manerep Pasaribu (2025) mengatakan untuk melahirkan aksi dan inovasi yang canggih dibutuhkan seperangkat wawasan yang memadai. Bagaimana membuat inovasi jika kita defisit pengetahuan. Dengan pengetahuan, inovasi yang dilahirkan semakin beragam, perspektif semakin luas sehingga solusi yang ditawarkan lebih kompatibel atas berbagai persoalan. Menariknya, ternyata stok pengetahuan cukup ampuh membentengi inovator agar tidak terjebak dalam sekat dan pikiran sempit sehingga bisa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. (Nonaka, I., & Takeuchi, H. (1995). The Knowledge-Creating Company: How Japanese Companies Create the Dynamics of Innovation. Oxford University Press)
Inovasi itu tidak ada agamanya. Inovasi tidak mengenal “halal haram”, yang terpenting adalah bagaimana persoalan segera ditangani secara cepat dan akurat. Hal ini terafirmasi dari berbagai praktik inovator dunia misalnya perusahaan Alibaba, Google dan Amazon yang memberikan ruang 2 % untuk merumuskan kajian konseptual sedangkan 98 % untuk mematangkan aksi, teknis dan kendala yang dihadapi.
Dari sana, kita ambil pelajaran; bahwa perusahaan kelas kakap selalu menerima ide baru dan segera mengimplementasikannya sambil dievaluasi kemudian. Mereka menyadari bahwa setiap inovasi pasti ada risiko, tidak perlu menghindar atau takut melangkah lalu kalah. Mereka lebih memilih aksi di depan mata yang dapat memperbaiki keadaan ketimbang diam tak ada perubahan. (Anthony, S. D., Johnson, M. W., Sinfield, J. V., & Altman, E. J. (2008). The Innovator's Guide to Growth: Putting Disruptive Innovation to Work. Harvard Business Press).
Secara teoritis, inovasi terbagi 2 (dua) yaitu inkremental dan radikal. Inovasi inkremental hanya untuk menyelesaikan persoalan “recehan” yang dapat berubah sekejap mata tanpa ada perubahan secara total sedangkan inovasi radikal adalah tawaran inovasi dalam rangka merombak total sistem sebelumnya karena sistem tersebut tidak mencapai target, tidak berjalan efektif justru menambah beban persoalan baru. Di atas kertas, pembagian ini tidak akan memberi manfaat apabila kita tidak mewujudkannya dalam tataran aplikatif.
Hampir setiap dunia kewirausahaan, kedua strategi ini diterapkan dalam rangka memberikan nilai tambah (value added) bagi produk dan layanan. Misalnya Alibaba, perusahaan Tiongkok yang tidak pernah lelah untuk berinovasi radikal demi menguasai pangsa pasar. Jejak cemerlangnya semakin dipengaruhi oleh daya saing kompetitif (competitive advantage) di antara pelaku usaha yang tidak pernah finish sehingga otak para karyawannya "diperas" demi melahirkan cara-cara baru yang berbeda dari pesaingnya. (Christensen, C. M. (1997). The Innovator's Dilemma: When New Technologies Cause Great Firms to Fail. Harvard Business School Press).
Lompatan Strategi
Para pionir inovasi tidak pernah berpuas diri. Mereka memikirkan apa yang tidak dipikirkan orang lain. Strategi baru dimunculkan untuk menjawab berbagai persoalan. Salah satu strategi yang menarik adalah strategi kewirausahaan (entrepreneurship strategic). Strategi ini dipelopori oleh Duane Ireland dan David G. Sirmon. Strategi ini menggunakan paradigma double system yaitu satu sisi mencari peluang di sisi lain mencari keunggulan kompetitif. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan mutu produk dan layanan dengan mencari titik kelemahan sehingga menjawab espektasi masyarakat. Jika harapan terpenuhi maka kepercayaan akan terlindungi. (Ireland, R. D., Hitt, M. A., & Sirmon, D. G. (2003). "A Model of Strategic Entrepreneurship: The Construct and its Dimensions". Journal of Management, 29 (6), 963–989).
Instrumen strategi kewirausahaan adalah pemanfaatan teknologi informasi dan kecerdasan buatan. Organisasi modern saat ini dituntut bertransformasi digital di tengah keterbatasan sumber daya. Perubahan bisnis proses dari manual ke digital akan terwujud berkat uluran tangan kecerdasan buatan yang semakin eksponensial. Platform digital dengan sentuhan artificial semakin mudah, lebih murah dan lebih cepat digunakan konsumen ketimbang cara-cara lama tradisional. Bisnis proses digital semakin membuat sistem transparan dan memudahkan deteksi dini atas risiko yang akan terjadi di kemudian hari. (Verhoef, P. C., Broekhuizen, T., Bart, Y., Bhattacharya, A., Qi, J. O., & Fabian, N. (2019). "Digital transformation: A multidisciplinary reflection and research agenda". Journal of Business Research, 122, 889-901).
Orientasi Aksi
Sudah terlalu lama bangsa berkembang terlena dalam kenyamanan retorika, mengubur potensi kemajuan di bawah tumpukan konsep teoretis yang tak pernah beranjak dari atas kertas. Saat dunia bergerak cepat mengeksekusi inovasi radikal dan mendobrak batas melalui kecerdasan buatan, kita justru masih sibuk berdebat dalam simpul argumentasi demi tepuk tangan semu, saatnya bangkitkan keberanian untuk bertindak nyata, memodifikasi sistem lebih baik, dan memaksa setiap gagasan menjadi peluru eksekusi demi masa depan bangsa yang tidak lagi tertinggal.
Pada akhirnya, transformasi menuju masyarakat yang kaya aksi dan inovasi menuntut adanya perombakan mentalitas birokratis yang kaku menjadi budaya kerja yang gesit dan berorientasi pada eksekusi nyata. Organisasi tidak lagi bisa berlindung di balik kenyamanan birokrasi yang lamban dan berlapis-lapis, melainkan harus berani mengambil risiko terukur demi merespons dinamika zaman yang bergerak cepat.
Dengan memadukan wawasan pengetahuan yang mendalam, strategi kewirausahaan yang adaptif, serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan, gagasan-gagasan besar tidak akan lagi berhenti dan tercecer di atas kertas, melainkan menjelma menjadi solusi konkret bagi kemajuan bangsa.
