Konten dari Pengguna

Petani di Era Gen Z: Modal Tinggi, Harga Tak Pasti

Ahmad Bagus Manihtada

Ahmad Bagus Manihtada

Saya adalah adalah freelance videografer berpengalaman dalam produksi konten kreatif dan dokumenter. Aktif di beberapa organisasi, terbiasa bekerja kolaboratif dan adaptif dalam berbagai proyek.

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Bagus Manihtada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isu regenerasi petani semakin mendesak untuk dijawab. Di tengah krisis pangan global dan urbanisasi yang masif, sektor pertanian Indonesia membutuhkan darah baru. Generasi Z yang lahir dan tumbuh di era digital hadir membawa harapan, mereka punya akses pada teknologi, berorientasi solusi, dan memiliki kesadaran sosial serta lingkungan. Namun, antusiasme mereka justru terhambat oleh realitas sistem pertanian yang tidak berpihak pada petani, terutama dari sisi ekonomi dan struktur distribusi hasil tani.

Lahan pertanian di kaki gunung Merapi. Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Foto: Ahmad Bagus Manihtada/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Lahan pertanian di kaki gunung Merapi. Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Foto: Ahmad Bagus Manihtada/kumparan

Di banyak sentra pertanian, sayuran seperti bayam, sawi, kangkung, hingga cabai dan tomat sering kali dihargai sangat rendah di tingkat petani. Di Pasar Cepogo, misalnya, harga wortel sempat anjlok hingga Rp2.500/kg, sawi Rp1.500/kg, dan kubis turun drastis menjadi Rp2.000/kg pada masa panen raya. Harga ini jelas tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan. Biaya benih, air, tenaga kerja, dan pupuk yang terus meningkat, terutama pasca-pandemi dan konflik geopolitik global, menciptakan tekanan berat bagi petani.

Ketimpangan struktural ini membuat banyak petani generasi muda gugur di tengah jalan. Mereka bertani dengan semangat dan pendekatan modern: memanfaatkan Internet of Things (IoT), metode pertanian presisi, hingga promosi digital lewat media sosial dan e-commerce. Namun semangat saja tidak cukup jika sistem ekonomi pertanian tidak berubah. Harga jual tetap tidak bisa menutupi biaya tanam. Bahkan, tidak jarang hasil panen hanya cukup untuk membeli sebungkus gorengan.

Tantangan ekonomi menjadi penghalang pertama. Harga hasil pertanian yang rendah tidak sebanding dengan biaya produksi yang tinggi, menyebabkan banyak petani muda langsung merugi sejak musim tanam pertama. Tantangan kedua adalah akses pasar. Rantai distribusi panjang dan dominasi tengkulak membuat petani tidak punya posisi tawar. Ketiga, keterbatasan dukungan dari pemerintah dan lembaga keuangan. Banyak petani muda tidak bisa mengakses subsidi atau pinjaman karena terbentur birokrasi atau syarat administrasi yang kaku. Keempat, minimnya perlindungan harga dasar serta ketidakpastian iklim, membuat pertanian menjadi sektor yang sarat risiko.

Jika ingin menyelamatkan sektor pertanian dan regenerasi petani, negara harus bertindak cepat. Ada lima langkah konkret yang perlu diprioritaskan:

Pertama, distribusi pupuk subsidi harus tepat sasaran. Digitalisasi data petani dan sistem distribusi bisa mengurangi kebocoran dan meningkatkan efisiensi.

Kedua, bangun platform pemasaran digital yang menghubungkan petani langsung dengan konsumen. Dengan memangkas rantai pasok, petani bisa mendapatkan harga lebih adil.

Ketiga, berikan insentif dan pelatihan bagi petani muda. Fokus pada teknologi pertanian, manajemen usaha tani, dan akses pembiayaan mikro yang ramah anak muda.

Keempat, terapkan kebijakan harga dasar untuk komoditas strategis. Ini penting agar petani tidak terombang-ambing saat harga jatuh drastis di musim panen raya.

Kelima, dorong pembentukan koperasi atau kelompok tani milenial. Kelompok ini harus dikelola secara profesional, transparan, dan terkoneksi dengan pasar modern.

Sebagai generasi yang lahir di tengah krisis iklim dan ancaman krisis pangan, Gen Z melihat bertani bukan sebagai pelarian dari kota, tetapi sebagai aksi membangun masa depan. Namun tanpa perubahan sistem, idealisme ini akan padam sebelum menyala. Mereka tidak hanya butuh pujian atau program karikatural, tetapi ekosistem yang melindungi dan menumbuhkan.

Saya menyaksikan sendiri banyak anak muda yang memulai pertanian urban, membangun kebun organik di pekarangan rumah, membuat komunitas pangan lokal, bahkan memasarkan hasil panen lewat Instagram dan TikTok. Namun, tidak sedikit dari mereka akhirnya menyerah karena kenyataan pahit: modal tidak kembali, pupuk mahal, dan pasar tak peduli siapa yang menanam.

Semangat Gen Z adalah aset nasional. Jika tidak dijaga, kita tidak hanya kehilangan petani muda, tapi juga kehilangan masa depan pangan bangsa. Negara tidak cukup hanya menjadikan pertanian sebagai narasi romantis dalam kampanye atau kurikulum sekolah, tetapi harus hadir sebagai pelindung dan fasilitator.

Jika Indonesia ingin tetap menjadi negara agraris yang berdaulat pangan, maka mulailah dengan menjamin keberlangsungan hidup petani muda. Tanpa mereka, lahan subur hanya akan menjadi ladang kosong dan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia akan tinggal cerita.