Konten dari Pengguna

Akibat Menunda Penggantian Kampas Rem Kendaraan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zam Zami Mizan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa yang aktif di Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan Tegal, sebuah institusi pendidikan kedinasan di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Kementerian Perhubungan, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan keselamatan jalan, khususnya melalui pendidikan yang ringan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Simulasi Pengujian Rem oleh Mahasiswa PKTJ. (Dokumentasi Pribadi - Mizan)
zoom-in-whitePerbesar
Simulasi Pengujian Rem oleh Mahasiswa PKTJ. (Dokumentasi Pribadi - Mizan)

Salah satu masalah yang sering saya amati adalah mengenai kampas rem. Banyak pengemudi yang menunda penggantian kampas rem karena merasa mobil masih mampu berhenti dengan baik. Namun, kebiasaan ini menyimpan risiko yang signifikan. Tidak hanya kerusakan teknis, tetapi juga kemungkinan kecelakaan yang dapat membahayakan diri sendiri ataupun orang lain.

Kampas rem adalah bagian kecil namun sangat vital dalam sistem rem kendaraan. Fungsi utamanya adalah menghasilkan gesekan pada cakram atau tromol untuk mengurangi kecepatan kendaraan. Dengan penggunaan, rem ini akan aus dan perlu diganti secara teratur.

Sayangnya, sepatu rem sering kali dilupakan. Banyak pengemudi menunggu hingga terdengar suara gesekan keras atau bahkan sampai rem benar-benar tidak berfungsi. Hal ini tentu saja berisiko. Kampas rem yang aus dapat merusak cakram atau tromol, dan ongkos perbaikannya bisa jauh lebih tinggi dibandingkan biaya penggantian kampas tersebut.

Menunda penggantian kampas rem dapat menyebabkan berbagai masalah serius. Dalam hal keselamatan, rem dapat kehilangan responsivitas, meningkatkan jarak pengereman, bahkan menyebabkan rem gagal berfungsi akibat panas berlebih (brake fading). Dari segi teknis, piringan cakram dapat tergores atau melengkung, yang pasti memerlukan pengeluaran besar untuk diperbaiki.

Sebagai individu yang mempelajari secara khusus dalam bidang keselamatan transportasi, saya merasa bahwa mengabaikan kampas rem sama artinya dengan mengabaikan keselamatan diri kita sendiri.

Ciri-ciri kampas rem yang sudah tidak layak sebenarnya gampang diidentifikasi. Apabila saat melakukan pengereman muncul suara berdecit, pedal terasa lebih dalam atau lembek, atau kendaraan memerlukan jarak yang lebih jauh untuk berhenti, ini menandakan bahwa kampas rem telah mulai aus. Dalam beberapa situasi, getaran saat melakukan pengereman juga dapat menjadi indikasi adanya masalah.

Saya menyarankan agar pengemudi tidak menunggu sampai tanda-tanda semakin parah. Lakukan pemeriksaan rutin, terutama jika kendaraan sering dipakai dalam kondisi berat seperti mengangkut beban atau melewati jalur menurun.

Sebagai mahasiswa yang tengah belajar di bidang keselamatan transportasi jalan, saya ingin menekankan bahwa memelihara kondisi kampas rem bukan hanya masalah teknis, tetapi juga sebuah tanggung jawab sosial. Jangan menunggu sampai ada suara aneh atau rem terasa tidak berfungsi sebelum bertindak. Atur jadwal pemeriksaan rem secara rutin, terutama jika kendaraan sering dipakai untuk perjalanan jauh atau melewati jalur menanjak dan menurun.

Saya menganjurkan semua pemilik kendaraan untuk rutin memeriksa sistem rem, termasuk ketebalan kampas, setidaknya dalam setiap servis berkala. Mengganti kampas rem secara tepat jauh lebih ekonomis dan aman dibandingkan dengan harus mengeluarkan biaya besar untuk perbaikan cakram atau, yang lebih parah, menanggung risiko kecelakaan.

Kampas rem mungkin tampak kecil dan sering terabaikan, tetapi fungsinya dalam menjaga keselamatan sangat signifikan. Menunda penggantian hanya akan meningkatkan risiko kerusakan dan kecelakaan. Melalui tulisan ini, saya mengharapkan masyarakat menjadi lebih perhatian terhadap pemeliharaan sistem rem kendaraan, dimulai dari hal yang sederhana: tidak menunda dalam mengganti kampas rem.

Keamanan transportasi jalan merupakan tanggung jawab kolektif. Sebagai mahasiswa PKTJ Tegal, saya yakin bahwa pendidikan sederhana seperti ini dapat menghasilkan dampak besar di jalanan.