AI dan Keamanan Internasional: Ketika Teknologi Mulai Menentukan Arah Perang

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Hubungan Internasional
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Ahmad Yassin Al-Manshuri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, ancaman terhadap suatu negara tidak selalu datang dalam bentuk serangan militer secara langsung. Serangan siber, penyebaran informasi palsu, dan penggunaan teknologi dalam peperangan juga dapat mengganggu keamanan sebuah negara. AI membuat sejumlah ancaman tersebut semakin mudah dilakukan dalam skala besar.
Persoalannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat membantu manusia, tetapi juga bagaimana teknologi ini digunakan dalam persaingan antarnegara. Jika tidak diatur dengan baik, teknologi yang seharusnya membantu manusia justru dapat menciptakan ancaman baru bagi perdamaian dunia.
Perang Tidak Lagi Hanya Mengandalkan Senjata
Selama ini, ketika membicarakan keamanan internasional, kita sering membayangkan tank, pesawat tempur, kapal perang, dan pasukan militer. Padahal, perkembangan teknologi membuat bentuk ancaman menjadi semakin beragam.
AI dapat digunakan untuk membantu menganalisis informasi intelijen, mendeteksi ancaman siber, dan mendukung pengambilan keputusan militer. Di sisi lain, teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk membuat serangan siber lebih efektif, menyebarkan propaganda, dan menghasilkan video palsu yang terlihat nyata. Bayangkan jika sebuah video yang menunjukkan seorang pemimpin negara mengumumkan perang ternyata merupakan hasil manipulasi AI. Jika video tersebut tersebar luas sebelum kebenarannya diperiksa, masyarakat dapat mengalami kepanikan dan hubungan antarnegara bisa semakin tegang.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa ancaman AI tidak selalu berbentuk serangan fisik. Informasi yang salah juga dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu konflik dan bagaimana pemerintah mengambil keputusan.
Dalam kondisi tertentu, masalahnya bukan hanya apakah informasi tersebut benar atau salah, tetapi juga seberapa cepat informasi itu menyebar sebelum pihak terkait sempat memberikan klarifikasi.
Persaingan Negara Besar dan Risiko Perlombaan Senjata
AI juga menjadi bagian penting dalam persaingan kekuatan global. Negara yang mampu mengembangkan teknologi AI untuk pertahanan, intelijen, dan keamanan siber memiliki peluang untuk meningkatkan kemampuan strategisnya.
Namun, perkembangan ini juga dapat memunculkan perlombaan teknologi militer. Ketika satu negara mengembangkan sistem pertahanan berbasis AI, negara lain mungkin merasa perlu melakukan hal serupa agar tidak tertinggal.
Masalahnya, jika setiap negara terus berusaha menjadi yang paling unggul tanpa kesepakatan yang jelas, persaingan tersebut dapat meningkatkan ketegangan internasional.
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah penggunaan senjata otonom, yaitu sistem senjata yang dapat memilih atau menyerang sasaran dengan tingkat campur tangan manusia yang berbeda-beda. Semakin besar keputusan yang diserahkan kepada mesin, semakin besar pula pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan.
Bagaimana jika sistem senjata salah mengenali warga sipil sebagai ancaman? Siapa yang harus bertanggung jawab jika keputusan yang dihasilkan teknologi menyebabkan korban jiwa?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan melihat kecanggihan teknologi. Ada persoalan hukum, etika, dan tanggung jawab manusia yang harus diperhatikan.
Karena itu, perkembangan AI dalam bidang militer perlu disertai aturan yang jelas. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi keputusan yang menyangkut nyawa manusia tidak boleh dilepaskan dari pengawasan dan tanggung jawab manusia.
AI juga menjadi bagian penting dalam persaingan kekuatan global.
Negara yang mampu mengembangkan teknologi AI untuk pertahanan, intelijen, dan keamanan siber memiliki peluang untuk meningkatkan kemampuan strategisnya.
Namun, perkembangan ini juga dapat memunculkan perlombaan teknologi militer. Ketika satu negara mengembangkan sistem pertahanan berbasis AI, negara lain mungkin merasa perlu melakukan hal serupa agar tidak tertinggal.
Masalahnya, jika setiap negara terus berusaha menjadi yang paling unggul tanpa kesepakatan yang jelas, persaingan tersebut dapat meningkatkan ketegangan internasional.
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah penggunaan senjata otonom, yaitu sistem senjata yang dapat memilih atau menyerang sasaran dengan tingkat campur tangan manusia yang berbeda-beda. Semakin besar keputusan yang diserahkan kepada mesin, semakin besar pula pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan.
Bagaimana jika sistem senjata salah mengenali warga sipil sebagai ancaman? Siapa yang harus bertanggung jawab jika keputusan yang dihasilkan teknologi menyebabkan korban jiwa?
Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan melihat kecanggihan teknologi. Ada persoalan hukum, etika, dan tanggung jawab manusia yang harus diperhatikan.
Karena itu, perkembangan AI dalam bidang militer perlu disertai aturan yang jelas. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi keputusan yang menyangkut nyawa manusia tidak boleh dilepaskan dari pengawasan dan tanggung jawab manusia.
Apakah Dunia Sudah Siap Menghadapi Ancaman AI?
Persoalan berikutnya adalah kemampuan dunia untuk mengatur perkembangan AI. Teknologi berkembang dengan cepat, sedangkan kesepakatan internasional membutuhkan proses panjang karena setiap negara memiliki kepentingan yang berbeda.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah membahas hubungan AI dengan perdamaian dan keamanan internasional. Dalam pidatonya pada 24 September 2025, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menekankan pentingnya aturan global dan pengawasan manusia terhadap penggunaan AI, terutama dalam bidang militer.
Pembahasan ini memperlihatkan bahwa AI bukan hanya persoalan perusahaan teknologi atau urusan dalam negeri suatu negara. Penggunaannya dapat menimbulkan dampak lintas batas yang memerlukan kerja sama internasional.
Namun, menyusun aturan bukan perkara mudah. Negara-negara bisa memiliki pandangan berbeda mengenai batas penggunaan AI, terutama ketika teknologi tersebut berkaitan dengan pertahanan nasional dan persaingan strategis.
Di sinilah tantangan diplomasi internasional muncul. Negara perlu mencari kesepakatan tanpa mengabaikan kebutuhan keamanannya masing-masing.
Menurut saya, dunia tidak harus menunggu sampai terjadi konflik besar akibat penyalahgunaan AI untuk mulai bertindak. Kerja sama internasional perlu dibangun sejak sekarang, termasuk melalui pertukaran informasi, penyusunan standar keamanan, dan kesepakatan mengenai penggunaan AI dalam operasi militer.
Indonesia Tidak Boleh Hanya Menjadi Pengguna
Bagi Indonesia, perkembangan AI dalam keamanan internasional juga perlu mendapat perhatian serius. Indonesia tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi yang dibuat negara lain, tetapi perlu memahami risiko dan dampaknya terhadap kepentingan nasional.
Salah satu tantangannya adalah keamanan siber. Serangan terhadap layanan publik, sistem keuangan, atau infrastruktur penting dapat menimbulkan gangguan yang berdampak luas bagi masyarakat. Penggunaan AI oleh pelaku kejahatan siber berpotensi membuat ancaman semacam ini semakin kompleks.
Selain itu, penyebaran informasi palsu berbasis AI juga dapat memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara. Jika masyarakat kesulitan membedakan informasi asli dan hasil manipulasi, ruang publik dapat dipenuhi kecurigaan dan kesalahpahaman.
Karena itu, Indonesia perlu memperkuat kemampuan keamanan siber, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai informasi digital, dan mengembangkan sumber daya manusia yang mampu memahami teknologi AI.
Indonesia juga perlu aktif dalam forum internasional yang membahas tata kelola AI. Sebagai bagian dari masyarakat internasional, Indonesia memiliki kepentingan agar perkembangan teknologi tidak hanya menguntungkan negara yang memiliki kemampuan teknologi paling maju, tetapi juga memperhatikan keamanan negara berkembang.
Kerja sama internasional penting agar negara-negara dapat berbagi pengetahuan, menyusun aturan yang dapat diterapkan bersama, dan mencegah penggunaan AI yang membahayakan perdamaian.
Teknologi Harus Tetap Berada di Bawah Kendali Manusia
Pada akhirnya, AI bukan sesuatu yang sepenuhnya baik atau buruk. Dampaknya bergantung pada bagaimana teknologi tersebut dikembangkan, digunakan, dan diawasi.
AI dapat membantu negara mendeteksi ancaman lebih cepat dan meningkatkan kemampuan pertahanan. Namun, AI juga dapat memperbesar risiko ketika digunakan untuk menyerang sistem digital, memanipulasi informasi, atau mengambil keputusan militer tanpa pengawasan yang memadai.
Karena itu, keamanan internasional di era AI membutuhkan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan tanggung jawab manusia. Negara memang memiliki kepentingan untuk melindungi dirinya, tetapi upaya tersebut tidak boleh mengabaikan keselamatan masyarakat dan stabilitas dunia.
Menurut saya, ukuran kemajuan teknologi seharusnya bukan hanya seberapa cepat AI dapat bekerja atau seberapa kuat kemampuan militer yang dapat dibangun dengannya. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut mampu meningkatkan keamanan tanpa menciptakan ancaman yang lebih besar.
Dunia tidak bisa menghentikan perkembangan AI begitu saja. Namun, dunia masih memiliki kesempatan untuk menentukan aturan dan batas penggunaannya.
Sebab, ancaman terbesar bukan semata-mata ketika mesin menjadi semakin pintar, melainkan ketika manusia mengembangkan teknologi yang semakin kuat tanpa memikirkan bagaimana mengendalikan dan mempertanggungjawabkan penggunaannya.
