Konten dari Pengguna

Sekolah Tangguh Bencana: Mengapa Siswa Perlu Belajar Menghadapi Gempa dan Banjir?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ahmadfauzipohan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Ahmad Fauzi Pohan, M.Sc., Tim Dosen dan Mahasiswa Fisika Universitas Andalas

Indonesia berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, sehingga gempa bumi menjadi ancaman yang selalu mengintai. Di saat yang sama, perubahan iklim, curah hujan ekstrem, kerusakan lingkungan, dan alih fungsi lahan meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.

Sumatera Barat rentan terhadap keduanya. Ancaman gempa datang dari zona subduksi Mentawai dan Sesar Sumatra yang aktif. Banjir dipicu kombinasi curah hujan tinggi, kondisi daerah aliran sungai, drainase yang buruk, dan cara manusia mengelola lingkungan.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak cukup dibangun lewat infrastruktur fisik. Pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan mengambil keputusan saat darurat sama pentingnya. Salah satu tempat terbaik untuk membangunnya adalah sekolah.

Sekolah Bukan Hanya Tempat Belajar

Penyampaian materi edukasi mitigasi bencana kepada siswa SMA Negeri 7 Padang oleh Tim Dosen Fisika Universitas Andalas. Materi mencakup pemahaman tentang risiko bencana serta langkah-langkah penyelamatan diri dan tindakan tanggap darurat, khususnya saat terjadi gempa bumi dan banjir. (Sumber: Penulis)

Setiap hari, siswa, guru, dan tenaga kependidikan berkumpul di sekolah dalam waktu lama. Jika gempa atau banjir terjadi saat pembelajaran berlangsung, seluruh warga sekolah menghadapi bahaya secara bersamaan.

Pertanyaannya, apakah semua warga sekolah tahu apa yang harus dilakukan saat gempa? Apakah siswa mengenal jalur evakuasi yang aman dan lokasi titik kumpul? Apakah mereka tahu cara menyelamatkan diri ketika halaman dan ruang kelas mulai terendam?

Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan tidak boleh sekadar materi tambahan. Ia harus menjadi bagian dari budaya keselamatan di sekolah.

Penyampaiannya pun perlu mudah dipahami siswa. Penjelasan ilmiah tentang penyebab gempa, pergerakan lempeng, curah hujan, dan proses terjadinya banjir harus dihubungkan dengan tindakan praktis sehari-hari. Dengan begitu, siswa tidak hanya tahu bahwa bencana bisa terjadi, tetapi juga mampu mengurangi risiko dan melindungi diri.

Memahami Gempa dan Banjir lewat Fisika

Fisika membantu kita menjelaskan fenomena alam di balik bencana. Gempa bumi adalah pelepasan energi dari dalam bumi akibat proses tektonik. Energi itu menjalar sebagai gelombang seismik dan membuat permukaan tanah bergetar.

Memahami karakter gelombang gempa membuat kita mengerti mengapa bangunan bisa rusak dan benda di dalam ruangan bisa jatuh. Kita juga jadi paham mengapa penyelamatan diri harus dilakukan cepat dan tepat.

Salah satu prinsip yang perlu dikuasai siswa adalah Drop, Cover, and Hold On: merendahkan tubuh, berlindung di bawah meja yang kokoh, dan berpegangan sampai guncangan berhenti. Setelah situasi aman, barulah evakuasi dilakukan lewat jalur yang aman menuju titik kumpul.

Banjir dapat dijelaskan lewat konsep hidrologi dan mekanika fluida. Ketika hujan lebih deras daripada kemampuan tanah menyerap air, dan sungai maupun saluran drainase tidak lagi sanggup menampung aliran, air akan meluap dan menggenangi permukiman.

Pemahaman ini membantu siswa mengenali tanda-tanda potensi banjir. Mereka juga jadi sadar pentingnya menjaga saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, dan menghindari arus deras.

Saat banjir, keselamatan adalah prioritas utama. Siswa tidak boleh memaksa melintasi genangan dalam atau arus deras, harus menjauhi instalasi listrik yang terendam, dan wajib mengikuti arahan guru maupun petugas kebencanaan.

Edukasi Kebencanaan Harus Keluar dari Ruang Kelas

Kesadaran inilah yang melandasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Ahmad Fauzi Pohan, M.Sc. bersama Tim Dosen Fisika Universitas Andalas di SMA Negeri 7 Padang, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan ini disambut baik oleh Kepala SMA Negeri 7 Padang, Azwarman, S.Pd., M.M., serta para guru dan siswa. Sebanyak 150 siswa mengikuti kegiatan tersebut.

Kegiatan mitigasi gempa bumi dan banjir tersebut menjadi kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat literasi kebencanaan di sekolah. Keterlibatan akademisi, terutama dari bidang fisika, diharapkan bisa menjembatani pemahaman ilmiah tentang fenomena alam dengan pengetahuan praktis yang dibutuhkan masyarakat.

Teori saja tidak cukup. Pengetahuan harus diubah menjadi kemampuan mengenali risiko, menentukan tindakan penyelamatan, dan memahami prosedur evakuasi, sekaligus menumbuhkan sikap tanggap terhadap lingkungan sekitar.

Sekolah juga perlu memiliki sistem kesiapsiagaan yang melibatkan semua pihak. Guru, siswa, tenaga kependidikan, dan manajemen sekolah harus memahami perannya masing-masing saat keadaan darurat.

Edukasi kebencanaan juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Pencegahan banjir, misalnya, tidak lepas dari kebiasaan menjaga kebersihan dan mengelola sampah. Jadi, mitigasi bukan hanya soal menghadapi kejadian darurat, tetapi juga membentuk perilaku yang mengurangi risiko sejak dini.

Dokumentasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh Dosen Fisika Universitas Andalas bersama siswa dan guru SMA Negeri 7 Padang. Kegiatan ini merupakan bagian dari edukasi dan penguatan kesiapsiagaan warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi dan banjir. (Sumber : Penulis)

Generasi yang Tidak Panik, tetapi Siap Bertindak

Kepanikan adalah salah satu tantangan terbesar saat bencana. Orang yang tidak punya pengetahuan dan pengalaman tentang prosedur penyelamatan cenderung kesulitan menentukan langkah yang tepat.

Maka, kesiapsiagaan harus dibangun lewat edukasi yang berkelanjutan. Siswa perlu dibiasakan mengenali jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, memahami prosedur keselamatan, dan rutin mengikuti simulasi kebencanaan.

Ini juga tanggung jawab bersama. Sekolah dapat bekerja sama dengan perguruan tinggi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, dan komunitas untuk mengembangkan program pendidikan kebencanaan yang berkesinambungan.

Perguruan tinggi pun berkewajiban membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang akademik agar bermanfaat nyata bagi masyarakat. Lewat pengabdian kepada masyarakat, ilmu fisika kebumian, gelombang seismik, hidrologi, dan fenomena alam lainnya dapat diterjemahkan menjadi edukasi yang mudah diterapkan.

Pada akhirnya, sekolah tangguh bencana bukan sekolah yang hanya memasang papan jalur evakuasi atau menyimpan dokumen prosedur darurat. Sekolah tangguh adalah sekolah yang seluruh warganya memahami risiko, tahu cara menyelamatkan diri, peduli lingkungan, dan mampu bekerja sama saat darurat.

Budaya sadar bencana memang tidak terbentuk dalam satu kegiatan. Namun, setiap upaya edukasi adalah investasi untuk melindungi generasi muda. Ketika bencana datang, pengetahuan yang dipelajari, kesiapan yang dilatih, dan keputusan yang tepat bisa menyelamatkan nyawa.

Mitigasi bencana bukan hanya tentang cara menghadapi bencana, tetapi juga tentang membangun masyarakat yang lebih siap, peduli, dan tangguh.

Kegiatan PKM ini di biayai oleh Dana: Pengabdian kepada Masyarakat BATCH I tahun 2026 Fakultas MIPA Universitas Andalas Sesuai dengan Kontrak Pengabdian Masyarakat Nomor: 09/PKM BACTH I/RKAT-UNAND/FMIPA/1613/2026. Ketua Tim Pelaksana Ahmad Fauzi Pohan, M.Sc

Referensi

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

BNPB. 2020. Pedoman Sekolah/Madrasah Aman Bencana. Jakarta.

Carter, W. Nick. 2008. Disaster Management: A Disaster Manager’s Handbook. Manila: ADB