Konten dari Pengguna

SDGs sebagai Konsep Pengembangan Model Kota Tangguh

Natanael Affarouqi Owen Jeremiah

Natanael Affarouqi Owen Jeremiah

Regional Economic Development Student in Universitas Gadjah Mada - Interest in Finance, Office Administration, Business Development, HR, and multidisciplinary science.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Natanael Affarouqi Owen Jeremiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Model Kota Tangguh. Sumber: Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Model Kota Tangguh. Sumber: Shutterstock.

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu tujuan pembangunan berkelanjutan yang mencakup 17 tujuan rencana aksi global. Kegerakan tersebut disepakati oleh pemimpin-pemimpin dunia termasuk juga dari Indonesia yang memiliki tujuan utama guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dalam kehidupan sosial masyarakat, dan melindungi lingkungan dari kerusakan baik yang disebabkan oleh tangan manusia maupun yang terjadi karena faktor alamiah. Target dan tujuan tersebut diharapkan akan tercapai pada tahun 2030 yang terdiri atas 17 tujuan dan 169 target. Isu yang menjadi perhatian khusus dalam SDGs mencakup isu kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, air, sanitasi, energi, lingkungan, dan keadilan sosial.

Pada masa pembangunan era reformasi seperti saat ini, definisi kota tangguh masih condong kedalam pembangunan kota yang memiliki kemampuan beradaptasi maupun mampu untuk bangkit kembali terhadap aspek bencana. Pemikiran tersebut masih didasari oleh aspek Indonesia yang berada di kawasan sirkum pasifik. Hal ini menunjukan bahwa model pemikiran pembangunan kota tangguh pada masa sekarang masih hanya berpatokan pada aspek pembangunan ketahanan infrastruktur fisik. Padahal dalam mencapai tujuan kota tangguh, hal ini masih dapat didukung oleh adanya berbagai aspek lain yang mampu mendorong terciptanya model pembangunan tersebut yang masih belum memiliki perhatian khusus.

Ilustrasi Perencanaan Infrastruktur Fisik. Sumber: Shutterstock.

Aspek persiapan infrastruktur fisik yang unggul menjadi faktor utama dalam pembangunan model kota tangguh yang berada di kawasan rawan bencana seperti di Indonesia. Kolaborasi para pakar dari berbagai macam disiplin ilmu diperlukan dalam mendukung model pembangunan tersebut dapat terjadi dengan tidak hanya melihat faktor fisik belaka namun juga memperhatikan aspek-aspek yang lain. Pembangunan infrastruktur fisik yang unggul dalam model pembangunan kota tangguh akan tercapai apabila perencanaan memperhatikan dari aspek penilaian proyek, perencanaan, tindakan dalam menindaklanjuti perencanaan, hingga proses evaluasi proyek. Hal tersebut akan menciptakan suatu model perencanaan yang inklusif dan terstruktur sehingga dapat memperkecil risiko yang dapat timbul serta memberikan kontribusi yang positif dalam kehidupan sosial masyarakat.

Peningkatan sarana dan prasarana kota menjadi salah satu cara untuk mencapai kota tangguh. Hal ini tidak hanya memperhatikan aspek mengenai sarana prasarana dalam mendukung jalannya aktivitas yang ada di perkotaan dalam situasi normal, namun juga memperhatikan sarana prasarana apabila kota tersebut dalam kondisi yang tidak terduga. Dalam penyediaan sarana dan prasarana dasar dalam perencanaan dan rancangan kota dapat memperhatikan aspek ketersediaan fasilitas jalan raya, transportasi umum, fasilitas publik, jenis kendaraan yang digunakan oleh masyarakat, pusat perdagangan, penerangan jalan, fasilitas jembatan, dan faktor lain-lain. Dengan melihat studi kasus yang telah terjadi di kota-kota besar dunia seperti Singapura, Sydney, dan Tokyo, sarana dan prasarana publik pada hakikatnya memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Ketersediaan sarana publik yang mendukung aspek 3E (ekonomis, efektif, dan efisien) telah berkontribusi menciptakan suatu aktivitas publik yang berkelanjutan dengan terciptanya aktivitas masyarakat yang terpadu serta berkontribusi dalam pengurangan emisi gas karbon dunia.

Wilayah perkotaan dinilai menjadi suatu kawasan dengan tingkat ketimpangan dan sumber masalah publik yang masif di masa sekarang. Hal ini dipengaruhi faktor pembangunan di kawasan kota yang begitu cepat namun terkadang tidak diikuti dengan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia yang memadai. Ketimpangan tersebut memicu timbulnya masalah perekonomian dengan terciptanya masalah kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan masalah sosial lainnya. Kondisi rantai pasokan pangan yang tidak terkoordinir dengan baik oleh pemerintah mendorong timbulnya masalah kelaparan dan keadilan sosial yang rendah. Hal tersebut dalam beberapa negara memberikan efek domino pada masalah sanitasi, energi, dan masalah lingkungan. Perubahan yang cepat di kawasan perkotaan juga mendorong masalah perubahan iklim lingkungan.

Pembangunan model kota dengan kiblat pembangunan kota tangguh yang berpatokan pada rencana aksi global dalam SDGs menjadi salah satu solusi menciptakan suatu kiblat pembangunan yang inklusif dan terstruktur di era reformasi pembangunan seperti sekarang ini. Pembangunan dalam masa sekarang sudah selayaknya tidak hanya memperhatikan faktor pembangunan fisik dan infrastruktur saja, namun juga memperhatikan tujuan yang ingin dicapai dunia dalam upaya menciptakan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang berkesinambungan, menjaga kualitas lingkungan hidup, pembangunan yang inklusif, dan pembangunan dengan konsentrasi mencapai terlaksananya tata kelola perkotaan yang baik. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan suatu trayek pembangunan yang berporos pada penuntasan masalah kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, air, sanitasi, energi, lingkungan, dan keadilan sosial yang melanda sosial ekonomi dunia seperti sekarang.