Konten dari Pengguna

Demokrat Bukan Partai Politik Musiman

SAHIDIN

SAHIDIN

Mahasiswa STAI Khez Muttaqien Purwakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SAHIDIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi: Kegiatan Demokrat Peduli dan Berbagi di Kabupaten Purwakarta 2020
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi: Kegiatan Demokrat Peduli dan Berbagi di Kabupaten Purwakarta 2020

Partai politik, menurut Miriam Budiarjo (2007: 422) umumnya adalah suatu kelompok terorganisir, yang anggota-anggotanya memiliki orientasi nilai dan cita-cita sama. Bertujuan memperoleh dan mepertahankan kekuasaan politik dengan cara konstitusional untuk melaksanakan sebuah program. Habodin Muhtar dan Muh Arjul (2016: 184) memandang bahwa setiap negara demokratis senantiasa melibatkan rakyatnya dalam proses politik yang berlangsung, baik demi kepentingan kemanusiaan maupun untuk menjamin pengaruh dan partisipasi yang sama dalam proses politik. Salah satu wadah yang menjamin keterlibatan itu, adalah partai politik. Singkatnya, partai politik merupakan sarana bagi rakyat untuk berpartisipasi dalam proses pengelolaan negara.

Di negara demokrasi, partai politik setidaknya memiliki empat fungsi yaitu: pertama sebagai sarana komunikasi politik untuk melakukan proses penggabungan kepentingan (interest aggregation) dan perumusan kepentingan (interest articulation). Yang selanjutnya dijadikan usulan kebijakan berupa program atau platform partai (goal formulation) yang diperjuangkan melalui parlemen menjadi kebijakan umum (public policy). Kedua sebagai sarana sosialisasi politik, dengan mendidik anggotanya agar memposisikan kepentingan pribadi di bawah kepentingan negara. Selain itu, fungsi sosialisasi politik juga termasuk upaya membangun citra (image building) memperjuangkan kepentingan rakyat dengan menggulirkan berbagai program yang manfaatnya dapat dirasakan. Ketiga sebagai sarana rekrutmen politik, dalam rangka menjamin kontinuitas dan kelestarian partai sekaligus salah satu cara untuk menjaring serta melatih calon pemimpin di internal partai maupun negara. Keempat sebagai sarana pengatur konflik (conflict management), dimana partai politik dapat membantu mengatasi konflik yang terjadi ditengah kehidupan rakyat (Miriam Budiarjo, 2007: 405-409).

Persoalannya, fungsi partai politik tersebut belum berjalan sebagaimana mestinya. Dimana sebagian rakyat menilai keberadaan partai politik hanya muncul saat gegap gempita kampanye politik menjelang pemilihan umum saja. Penilaian itu, menunjukan bahwa sebagian rakyat menganggap partai politik tidak lebih dari sarana untuk mencapai kepentingan pribadi yang bersifat sesaat. Dampaknya, rakyat tidak lagi memposisikan ideologi sebagai landasan dalam menggunakan hak pilihnya dibilik suara. Namun lebih terlihat pragmatis dengan mengesampingkan pertimbangan normatif, termasuk didalamnya ada norma kebudayaan, kepercayaan atau aliran politik yang akrab disebut ideologi politik. Menurut Isharyanto (2017: 23-25), sikap pragmatis rakyat umumnya dipengaruhi oleh pilihan rasional (rational choice) rakyat yang merefleksikan sikap korektif terhadap kondisi politik yang dihadapinya, serta masalah kesehjateraan rakyat yang berdampak pada independensi perilaku politik. Alhasil, performa partai politik yang buruk dapat mengganggu jalannya demokrasi.

Demokrat, satu diantara banyak partai politik di Indonesia terlihat berupaya keras membangun pola pikir (mindset) rakyat terhadap partai politik sebagaimana mestinya. Hal itu, bukan perjuangan yang mudah apalagi disaat pandemi Corona Virus Disease 2019 yang tidak diketahui kapan berakhirnya. Dengan menggulirkan program “Gerakan Nasional Demokrat Lawan Corona” coba membuktikan bahwa kehadiran partai politik dibutuhkan rakyat bukan saat pemilihan umum saja. Dalam sebuah artikel berjudul “Semangat Kebangkitan Nasional Melawan Pandemi” Agus Harimurti Yudhoyono (Harian Sindo, 20 Mei 2020), menyampaikan:

“menghadapi situasi tersebut, kebersamaan seluruh elemen bangsa menjadi kunci bagi kita untuk keluar dari krisis ini. Kita semua tahu, negara memiliki keterbatasan sumber daya untuk menangani krisis pandemi ini. Kita juga tahu betul jika krisis kesehatan ini semakin berkepanjangan, negara tidak memiliki kapasitas memadai untuk menanggung beban ekonomi dalam jangka panjang. Karena itu, berbagai inisiatif warga dan kelompok di luar kekuatan negara (non-state actors) melalui gerakan filantropi, kegiatan peduli dan berbagi, menjadi hal yang patut diapresiasi.”

Selain itu, Demokrat adalah salah satu partai politik yang menjalankan fungsi sarana komunikasi politik dengan melakukan proses interest aggregation dan interest articulation ketika menolak RUU Cipta Kerja dibahas dan disahkan saat pandemic Corona Virus Disease 2019. Hal ini, dapat dilihat dalam artikel berjudul “Memperjuangkan Nasib Buruh di Tengah Pandemi” Agus Harimurti Yudhoyono (Harian Rakyat Merdeka, 4 Mei 2020), menyampaikan:

“kelak saat krisis Covid-19 berhenti dan pembahasan RUU Ciptaker dibahas kembali, saya mendorong agar pembahasan ini juga melibatkan komunitas serikat pekerja. Mereka adalah pihak yang terdampak langsung dari perubahan regulasi ini. Setiap aspirasi dari serikat pekerja dan juga kalangan pebisnis dan dunia usaha, harus dipertimbangkan secara adil agar regulasi ini menghasilkan aturan-aturan yang berpihak pada pembangunan dunia usaha dan juga nasib para pekerja nasional”

Selebihnya, rakyat dapat memperhatikan gerakan Partai Demokrat di berbagai platform media sosial. Sehingga apa itu partai politik dan ke-empat fungsinya dalam rumusan teoritis sangat diperlihatkan partai politik ini. Yang harapannya dapat merubah pola pikir (mindset) sebagian rakyat yang lebih baik, bukan hanya terhadap Partai Demokrat tetapi partai politik pada umumnya.

Referensi:

  1. Miriam Budiarjo (2007), Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta

  2. Habodin, Muhtar dan Arjul , Muh (2016), Pengantar Ilmu Politik, UB Press, Malang

  3. Isharyanto (2017), Partai Politik, Ideologi dan Kekuasaan, Absolute Media, Yogyakarta

  4. Agus Harimurti Yudhoyono (2020) “Semangat Kebangkitan Nasional Melawan Pandemi”, Harian Sindo, 2020 Mei, 5.

  5. Agus Harimurti Yudhoyono (2020) “Memperjuangkan Nasib Buruh di Tengah Pandemi”, Harian Rakyat Merdeka, 2020 Mei, 4.

  6. https://www.demokrat.or.id/. Diakses 16 Februari 2021