Scroll Media Sosial Berjam-jam, Tapi Kenapa Kita Tetap Merasa Bosan?

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ahmad Syauqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah berapa kali hari ini kita membuka TikTok, Instagram, atau YouTube hanya karena merasa bosan? Awalnya cuma ingin melihat satu video. Namun, satu video berubah menjadi puluhan video, bahkan bisa sampai berjam-jam. Anehnya, setelah layar ditutup, rasa bosan kadang masih tetap ada. Fenomena ini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Media sosial sudah menjadi bagian dari aktivitas masyarakat Indonesia. DataReportal dalam Digital 2026: Indonesia mencatat terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial aktif di Indonesia pada Oktober 2025, atau setara dengan 62,9 persen dari total populasi. Angka tersebut menunjukkan betapa besarnya ruang yang ditempati media sosial dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, pertanyaannya bukan hanya soal berapa lama kita menggunakan media sosial. Ada pertanyaan lain yang tidak kalah menarik: mengapa semakin lama scrolling, kita justru bisa semakin merasa bosan?
Ketika Bosan, HP Jadi Pelarian Pertama
Bagi banyak orang, membuka HP sudah menjadi respons otomatis ketika tidak ada kegiatan. Sedang menunggu kendaraan, membuka media sosial. Menunggu makanan, membuka media sosial. Bahkan ketika sedang belajar dan mulai kehilangan fokus, tangan sering kali kembali mencari HP. Media sosial memang menawarkan sesuatu yang sangat mudah: konten baru hanya berjarak satu kali geser. Kalau video pertama kurang menarik, tinggal scroll. Kalau video kedua membosankan, scroll lagi. Begitu seterusnya. Masalahnya, perpindahan konten yang terlalu cepat tidak selalu membuat kita lebih terhibur. Sebuah penelitian yang dipublikasikan melalui Journal of Experimental Psychology: General dan dibahas oleh American Psychological Association pada 2024 menemukan bahwa berpindah-pindah video ketika merasa bosan justru dapat meningkatkan rasa bosan dan membuat seseorang merasa kurang puas atau kurang terlibat dengan konten yang ditonton. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 1.200 peserta dalam tujuh eksperimen. Artinya, kebiasaan mencari video berikutnya belum tentu menjadi solusi dari rasa bosan.
Bukan Kurang Konten, tetapi Kurang Terlibat
Salah satu hal menarik dari penelitian tersebut adalah perbedaan antara menonton sebuah video sampai selesai dan terus berpindah dari satu video ke video lainnya. Katy Y. Y. Tam, peneliti utama studi tersebut, bersama timnya meneliti kebiasaan orang ketika berpindah-pindah video untuk menghilangkan kebosanan. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa peserta justru mengalami lebih banyak kebosanan ketika terus melakukan perpindahan konten. Psikolog Michael Inzlicht, salah satu peneliti dalam studi tersebut, menjelaskan bahwa ketika perhatian seseorang tersebar, pengalaman yang dijalani menjadi kurang memuaskan. Dalam wawancaranya dengan The Washington Post, ia mengatakan, “When you’re immersed, you don’t feel bored.” Secara sederhana, kita bisa memahami bahwa menikmati sesuatu membutuhkan perhatian. Ketika baru beberapa detik melihat sebuah video lalu langsung mencari video lain, kita sebenarnya belum sempat benar-benar menikmati atau memahami konten tersebut.
Algoritma Membuat Kita Terus Mencari
Ada faktor lain yang membuat scrolling sulit berhenti, yaitu cara media sosial menyajikan konten. Platform digital menggunakan sistem rekomendasi untuk menampilkan konten yang dianggap sesuai dengan minat pengguna. Akibatnya, selalu ada kemungkinan kita menemukan sesuatu yang lebih menarik setelah melakukan satu kali scroll lagi. Hal ini menciptakan pola sederhana: bosan → buka media sosial → cari konten → belum menemukan yang cocok → scroll lagi. Penelitian tentang kebiasaan scrolling juga menunjukkan bahwa praktik tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan individu. Desain antarmuka digital, termasuk fitur infinite scrolling, membuat pengguna dapat terus berpindah dari satu konten ke konten berikutnya dengan usaha yang sangat kecil. Karena tidak ada titik akhir yang jelas, kita bisa terus melihat konten tanpa sadar sudah menghabiskan banyak waktu.
Indonesia dan Kebiasaan Bermedia Sosial
Besarnya penggunaan media sosial di Indonesia membuat persoalan ini semakin relevan. DataReportal mencatat bahwa pada awal 2025 terdapat 143 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia. Jumlah tersebut kemudian tercatat meningkat menjadi sekitar 180 juta identitas pengguna aktif pada Oktober 2025 dalam laporan Digital 2026: Indonesia. Data tersebut perlu dibaca dengan hati-hati karena angka “identitas pengguna” tidak selalu berarti jumlah individu yang berbeda, sebab satu orang dapat memiliki beberapa akun. Dengan jumlah penggunaan sebesar itu, media sosial bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan. Media sosial sudah menjadi tempat berkomunikasi, mendapatkan informasi, mengikuti tren, membangun relasi, hingga menghabiskan waktu luang. Karena itu, kebiasaan scrolling menjadi sesuatu yang menarik untuk diperhatikan, terutama ketika penggunaan media sosial dilakukan tanpa tujuan yang jelas.
Bukan Berarti Media Sosial Selalu Buruk
Meski begitu, bukan berarti media sosial harus dianggap sebagai sesuatu yang selalu negatif. Media sosial memiliki banyak manfaat. Kita bisa berkomunikasi dengan orang lain, menemukan informasi, belajar hal baru, mengikuti perkembangan isu, mencari inspirasi, hingga menemukan komunitas yang memiliki minat yang sama. U.S. Surgeon General juga mencatat bahwa media sosial dapat memberikan manfaat bagi sebagian anak dan remaja, termasuk membantu koneksi sosial, ekspresi diri, dan akses terhadap konten yang mendukung. Namun, lembaga tersebut juga menekankan bahwa dampak media sosial dapat berbeda pada setiap orang dan masih terdapat banyak hal yang perlu diteliti. Jadi, persoalannya bukan sekadar “berapa jam kita menggunakan media sosial?”, tetapi juga “untuk apa kita menggunakannya dan bagaimana kita menggunakannya?”
Mungkin Kita Tidak Butuh Video Berikutnya
Pada akhirnya, rasa bosan tidak selalu harus langsung dihilangkan. Ketika sedang bosan, kita sering menganggap bahwa solusi tercepat adalah mencari stimulus baru. Buka HP, lihat video, pindah aplikasi, lalu mencari sesuatu yang lebih menarik. Padahal, penelitian mengenai scrolling menunjukkan bahwa terus berpindah konten justru dapat membuat seseorang semakin sulit merasa benar-benar terlibat dengan apa yang sedang dilakukan. Jadi, lain kali ketika kita sudah scrolling selama berjam-jam tetapi masih merasa bosan, mungkin masalahnya bukan karena kurang banyak konten. Mungkin kita hanya terlalu sibuk mencari sesuatu yang menarik sampai lupa menikmati satu hal dengan benar. Tidak semua rasa bosan harus diisi dengan layar. Kadang, membiarkan diri berhenti sejenak, berbicara dengan orang lain, melakukan hobi, atau sekadar menikmati waktu tanpa terus mencari stimulus baru justru bisa menjadi pengalaman yang lebih bermakna.
