Konten dari Pengguna

Sekali Buka TikTok, Tahu-Tahu Satu Jam: Kenapa Kita Sulit Berhenti Scrolling?

Ahmad Syauqi

Ahmad Syauqi

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ilmu Komunikasi

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Syauqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Ai
zoom-in-whitePerbesar
Source: Ai

Awalnya cuma ingin melihat satu video. Setelah itu muncul video lain yang lebih menarik, lalu video berikutnya. Tanpa terasa, waktu sudah berjalan puluhan menit. Fenomena “sebentar buka TikTok” yang berubah menjadi sesi scrolling panjang mungkin terasa familiar bagi banyak pengguna media sosial. Kebiasaan tersebut bukan sesuatu yang terjadi tanpa alasan. TikTok memang menggunakan sistem rekomendasi pada fitur For You yang menyesuaikan video dengan aktivitas dan minat pengguna. Interaksi seperti video yang ditonton, disukai, dibagikan, akun yang diikuti, komentar, hingga pencarian dapat menjadi bagian dari sinyal rekomendasi. Di Indonesia sendiri, penggunaan media sosial berada pada skala yang besar. DataReportal mencatat terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025. Angka tersebut setara dengan 62,9 persen populasi Indonesia saat itu. DataReportal juga mencatat bahwa angka tersebut merupakan user identities, sehingga tidak selalu berarti 180 juta orang yang berbeda. Dengan penggunaan yang begitu luas, menarik untuk melihat mengapa seseorang bisa merasa sulit berhenti scrolling, bahkan ketika sebenarnya sudah berniat menutup aplikasi. Satu Video Selesai, Video Berikutnya Sudah Menunggu Salah satu karakteristik TikTok adalah aliran video yang terus berlanjut. Pengguna tidak perlu mencari video baru secara manual setiap kali satu video selesai. Cukup melakukan satu gerakan untuk berpindah ke konten berikutnya. TikTok menjelaskan bahwa For You Feed merupakan halaman yang dipersonalisasi berdasarkan minat dan keterlibatan pengguna. Sistemnya mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk interaksi pengguna dan informasi dari video. Bahkan, TikTok menyebut bahwa apakah seseorang menyelesaikan tontonan video yang lebih panjang dapat menjadi salah satu indikator minat yang lebih kuat. Hal tersebut membuat pengalaman setiap pengguna berbeda. Dua orang yang membuka TikTok pada waktu yang sama belum tentu melihat susunan video yang sama. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin banyak pula sinyal yang tersedia bagi sistem untuk menyesuaikan rekomendasi berikutnya. “Cuma Satu Video” Bisa Berubah Jadi Puluhan Persoalannya bukan hanya karena jumlah video yang tersedia sangat banyak. Cara kita berpindah dari satu konten ke konten lain juga dapat memengaruhi pengalaman menggunakan media sosial. Penelitian Katy Y. Y. Tam dan Michael Inzlicht yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology: General pada 2024 meneliti hubungan antara kebiasaan berpindah-pindah video dengan rasa bosan. American Psychological Association (APA) melaporkan penelitian tersebut melibatkan lebih dari 1.200 peserta dalam tujuh eksperimen. Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang terus berpindah video justru melaporkan rasa bosan yang lebih tinggi dan tingkat kepuasan atau keterlibatan yang lebih rendah dibandingkan ketika mereka menonton konten secara lebih utuh. Tam menjelaskan bahwa perpindahan digital yang terlalu cepat dapat membuat konten terasa kurang bermakna karena pengguna tidak memiliki cukup waktu untuk benar-benar terlibat atau memahami apa yang sedang ditonton. Jadi, semakin banyak video yang kita lihat belum tentu berarti semakin banyak hiburan yang kita dapatkan. Algoritma Membuat Pengalaman Terasa Personal Ada alasan lain mengapa scrolling terasa sulit dihentikan: konten yang muncul sering kali memang terasa sesuai dengan kita. TikTok menjelaskan bahwa sistem rekomendasinya memanfaatkan berbagai bentuk interaksi pengguna, seperti menyukai, membagikan, berkomentar, mengikuti akun, serta menonton konten tertentu. Informasi video seperti teks, suara, dan tagar juga dapat menjadi bagian dari sistem rekomendasi. Misalnya, seseorang beberapa kali menonton video tentang fotografi. Setelah itu, kemungkinan ia akan kembali menemukan konten fotografi, kamera, editing, atau topik yang masih berkaitan. Dari sisi pengguna, pengalaman tersebut bisa terasa seperti aplikasi “tahu” apa yang sedang kita cari. Padahal, sistem tersebut terus belajar dari pola interaksi kita. Kenapa Sulit Menutup Aplikasinya? Ketika setiap video selesai langsung tersedia video berikutnya, pengguna tidak mendapatkan batas yang jelas seperti ketika menonton satu episode film atau membaca satu artikel sampai selesai. Tidak ada titik yang mengatakan, “Ini sudah selesai, waktunya berhenti.” Sebaliknya, selalu ada kemungkinan video berikutnya lebih menarik. Pola tersebut membuat pengguna dapat terus mencari konten yang dianggap lebih menarik. Bahkan ketika video yang sedang ditonton sebenarnya sudah cukup menghibur, perhatian bisa kembali berpindah ketika muncul konten berikutnya. Penelitian Tam dan Inzlicht memberikan gambaran bahwa perpindahan konten yang terus-menerus bukan selalu cara yang efektif untuk menghilangkan kebosanan. Dalam eksperimen mereka, peserta yang diberi kesempatan untuk terus berpindah video justru merasa lebih bosan dibandingkan ketika mereka menonton konten secara lebih utuh. Bukan Berarti TikTok Selalu Buruk Namun, fenomena ini tidak berarti bahwa TikTok atau media sosial harus dianggap sepenuhnya buruk. Media sosial juga memberikan berbagai manfaat. Pengguna dapat menemukan informasi, hiburan, komunitas, tutorial, karya kreator, hingga peluang untuk berkomunikasi dengan orang lain. TikTok sendiri menjelaskan bahwa sistem For You dirancang untuk membantu pengguna menemukan konten dan kreator berdasarkan minat mereka. Platform tersebut juga menyediakan fitur seperti Not Interested, pengaturan topik, filter kata kunci, dan opsi untuk menyegarkan kembali For You Feed. Artinya, pengguna sebenarnya memiliki sejumlah pilihan untuk mengatur pengalaman mereka di platform. Yang menjadi persoalan adalah ketika membuka aplikasi sudah berubah menjadi kebiasaan otomatis setiap kali merasa bosan atau tidak memiliki kegiatan. Jadi, Apa yang Sebenarnya Membuat Kita Terus Scrolling? Jawabannya bukan hanya karena TikTok memiliki banyak video. Ada kombinasi antara konten yang terus tersedia, sistem rekomendasi yang dipersonalisasi, kebiasaan pengguna, dan rasa penasaran terhadap video berikutnya. Ketika satu video selesai, kita tidak perlu berhenti. Kita hanya perlu menggeser layar. Dan mungkin justru di situlah masalahnya. Kita sering membuka TikTok dengan tujuan sederhana: mencari hiburan sebentar. Namun karena selalu ada konten berikutnya, “sebentar” bisa berubah menjadi setengah jam atau bahkan lebih. Pada akhirnya, pertanyaan yang menarik bukan hanya “Kenapa kita suka scrolling?”, tetapi juga “Kapan kita sebenarnya sudah cukup?” Karena terkadang, yang membuat kita terus berada di depan layar bukan karena ada satu video yang benar-benar ingin kita tonton, melainkan karena kita terus berharap video berikutnya akan menjadi lebih menarik.