Konten dari Pengguna

Islam Tidak Mematahkan Logika

Ahmed Sybrakhoith Assamraqondy

Ahmed Sybrakhoith Assamraqondy

Saya merupakan seorang mahasiswa aktif di Perguruan Tinggi Negeri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan program studi Perbandingan Mazhab dan Hukum fakultas Syaria dan Hukum

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmed Sybrakhoith Assamraqondy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.capcut.com/editor-graphic/28c15e87dc5e4ca385f765459af436a3?workspaceId=7332169652551991297&spaceId=7332168507113096194
zoom-in-whitePerbesar
https://www.capcut.com/editor-graphic/28c15e87dc5e4ca385f765459af436a3?workspaceId=7332169652551991297&spaceId=7332168507113096194

Banyak orang lain yang terlalu kaku dan fanatik terhadap Islam sehingga meyakinkan akan suatu hal yang tidak sesuai dengan pemikirannya dianggap bukan dari golongannya dan ada pula yang meyakini bahwa Islam adalah agama yang tidak masuk akal karena yang “enak-enak dan leha-leha” di dalam Islam tidak diperbolehkan. Tentu hal itu semua memiliki sebab-akibat dan alasan tertentu kenapa hal tersebut tidak diperbolehkan dan itu semua hanya orang-orang yang melihat Islam sebagai agama yang kaku dan keras semata, padahal Islam adalah sebuah agama yang fleksibel bahkan terdapat kaidah umum yang di gunakan oleh Islam (terutama dalam metode pengambilan hukum syariah) “Asal dari pada segala sesuatu itu diperbolehkan, kecuali terdapat dalil yang mengharamkannya”. Tidak hanya itu di Al-Quran juga dinyatakan bahwa umat Islam umat yang tangah-tangah (Q.S Al-Baqarah 143) yang dimana tafsiran dari ayat itu adalah umat moderat (tidak terlalu fanatik dan tidak terlalu ekstrim)

Adapun orang yang berkata sedemikian rupa hanyalah orang yang mempelajari Islam secara umum saja, faktanya terdapat doktrinisasi yang merubah sturuktural Islam dari dalam, sehingga Islam diyakini sebagai agama yang kaku, kasar dan keras. Padahal kalau kita melihat lebih dalam lagi Islam adalah agama yang harus berlandasan secara keyakinan dan akal seseorang untuk menjadikan Islam sendiri Rahmatan Lil ‘Alamain karena jika tidak dibarengi oleh akal maka Islasm akan menjadi agama yang tidak terstruktur. Lalu mengapa orang lain masih beranggapan bahwa Islam itu agama yang kaku dan keras?, Apa yang dilihat oleh mereka?, Apakah meraka pernah diintimidasi oleh umat beragama Islam?, apakah Islam tidak mengajari cara berlogika yang benar?, Ketahuilah bahwa seseorang yang melakukan hal tersebut bukan seorang Islam sejati tetapi hanya sebuah identitas bahwa dia itu Islam bukan Islam Itu dia. Untuk mengetahui bahwa Islam itu tidak mematahkan logika, bacalah seterusnya ini hingga akhir.

Islam sendiri merupakan suatu program keyakinan seseorang untuk mencurahkan keyakinan spiritualnya kepada hal-hal yang tidak bisa di nalar oleh akal. Seorang tokoh publik yaitu habib jafar Al-haddar pada saat di podcastnya “Login” pernah menyatakan bahwa Islam merupakan sebuah kata benda tetapi secara hakikat dia itu merupakan kata kerja, dalam arti bahwa seseorang yang Islam tidak hanya sebuah label identitas tetapi segala tindak prilaku etika juga harus Islam. Islam adalah frasa kalimat dari bahasa arab yang jika diartikan kedalam bahasa Indonesia adalah selamat, selamat dari berbagai aspek dan persepsi dalam arti bahwa apa yang dia ucapkan kepada orang lain harus selamat (dari dirinya maupun orang lain), tindakannya, hatinya dan segala aktivitasnya.

Seharusnya, orang yang memahami Islam itu sendiri harus bertindak dengan fikirannya yang terstruktur karena di dalam kitab suci agama Islam banyak sekali singgungan-singgungan untuk berfikir secara logis untuk kehidupan manusia. Seperti contohnya Q.S Yaseen: 38 menyatakan bahwa matahari berjalan pada porosnya, dan Q.S Al-Baqoroh: 44 menanyakan hal yang berkaitan dengan logika bahwa seseorang menyuruh orang lain untuk melakukan perbuatan baik tetapi dia sendiri pun tidak melakukannya padahal dia adalah seorang yang beriman, maka seakan-akan para pembaca disuruh untuk berfikir dan menyambungkan logikanya dengan pernyataan-pernyataan Al-Quran. Tidak hanya itu, ayat pertama yang diturunkan di dalam Al-Quran adalah sebuah perintah yang menegaskan untuk membaca (ayat tersebut kepada nabi Muhammad sementara nabi Muhammad buta huruf), dalam hal ini kita dapat berfikir Islam memang diturunkan untuk manusia agar manusia itu juga berfikir, tidak hanya mengandalkan keyakinan saja.

Adapun contoh-contoh tersebut merupakan contoh yang memang secara jelas maknanya di dalam Al-Quran tetapi hal tersebut tidak banyak, bahkan terdapat ayat-ayat Al-Quran yang memiliki kandungan abstrak yang memang memperlukan penalaran logika yang sistematis dan terstruktur. Maka dalam hal tersebut banyak sekali buku-buku untuk memahami kandungan makna teks Al-Quran yang biasa di kenal dengan Kitab Tafsir Al-Quran. Buku-buku tersebut tidak hanya satu macam saja tetapi memiliki macam dan varian, dari tafsir Al-Quran classic hingga tafsir Al-Quran Modern. Tidak hanya itu saja, tokoh penulis-nya pun juga harus memiliki penalaran logika dan literasi yang luas karena yang sudah dijelas kan sebelumnya bahwa Al-Quran itu sendiri masih memiliki keabstrakan dan memerlukan dekriptif yang jelas. Maka dari itu di orang yang memahami isi dari teks Al-Quran akan menggunakan penalaran logikanya secara ekstra untuk memahami kandungan isinya. Banyak nya tokoh-tokoh filsuf, cendikiawan, ilmuan saintis beragama Islam juga membuktikan bahwa Islam sendiri berkembang dengan logika.

https://www.capcut.com/editor-graphic/28c15e87dc5e4ca385f765459af436a3?workspaceId=7332169652551991297&spaceId=7332168507113096194

Ternyata, masih banyak yang lain lagi tentang persepsi logika dalam Islam, sehingga terdapat cabang ilmu khusus di dalam keilmuan Islam yang di kaji oleh para cendikiawan dan para penuntut Ilmu agama Islam sebagai penalaran umum dalam berlogika. Tidak hanya itu saja, retorika, sastra, matematika, dan filsafat pun ada di dalam Islam yang di dukung oleh para ulama sebagai alat-alat pentafsiran politik, geologi dan lain-lainnya. Pada akhirnya umat Islam adalah umat yang disuruh untuk menjadi moderat karena hal tersebut sudah ditetapkan di dalam Al-Quran dan keajiban Islam tentang pelarangan hal yang enak-enak juga memiliki tujuan yaitu kepada kemaslahatan, secara penalaran kesimpulan apakah Islam disebut sebagai agama yang kaku? Apakah Islam dikenal sebagai terorisme? Padahal aselinya Islam adalah agama yang jalan berdampingan dengan akal manusia dengan tujuan agar terciptanya sebuah tatanan kehidupan yang seimbang dengan orientasi maslahah.

Namun, ada saja halangan bagi umat Islam yang dicegah dari pengaduan persepsi ideologi, padahal jika dilihat orang tersebut di bawah naungan yang sama dengan identitas yang sama. Pada akhirnya Islam dirusak logikanya dari internal, bukan dari external. Hal ini lah yang dikenal oleh kalangan non-Islam sebagai agama terorisme, padahal Islam sendiri tidak seperti penalaran logikanya. Seseorang yang terlalu fanatik tidak akan ingin melihat hal yang kontra di depan matanya, begitu juga dengan seorang yang terlalu extrim. Makanya dalam Al-Quran menyuruh agar umat Islam menjadi umat yang moderat. Bahkan secara dasar konsep Rahmatan Lil ‘Alamin adalah maslahah, kebaikan, ketenteraman, perdamaian bagi umat Islam dan selainnya. Secara tekstual memang tidak sama dalam Al-Quran tetapi secara konteks hal itu semua berkaitan. Bahkan di antara bagian akhir Al-Quran disinggung bahwa kepercayaannya adalah baginya dan untuknya sementara kepercayaan kita tentu saja untuk kita (Q.S Al-Kafirun 6), tentu saja ayat tersebut tanpa harus dianalogikan akan menimbulkan faham bagi para pembaca.

Banyak sekali dalil-dalil dan bukti bahwa Islam itu berjalan dengan logika bahkan tidak sedikit para cendikiawan menyatakan bahwa Islam bias diterima oleh mereka yang memiliki akal fikiran yang sehat. Beberapa literasi klasik dalam refrensi keislaman juga merujuk kepada landasaan pemikiran, tentang bagaimana tuhan itu, munculnya sebuah hokum, aliran atau mazhab dengan pola fikir berbeda juga merupakan salah satu bukti bahwa Islam itu tidak mematahkan logika. Pada akhirnya bahwa Islam harus dipandang sebagai agama yang tidak bertolak belakang dengan keilmuan ilmiah pada umumnya karena pedoman utama Islam sendiri adalah untuk kemaslahatan umat. Maka dengan ini marilah kita sebagai manusia religius sekaligus berlogika yang lurus untuk kemaslahatan hidup dan maslahah akhir tujuan hidup.