Jakarta Harus Lebih Persija di Usia 499: Menolak Lupa Akar Sejarah Kota

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah prodi hukum keluarga
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Ahnaf Fawwaz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap menjelang akhir Juni, Jakarta selalu punya ritual yang sama: bersolek. Umbul-umbul warna-warni dipasang di sepanjang protokol, panggung hiburan rakyat didirikan, dan serangkaian seremonial digelar untuk merayakan hari jadi kota yang kini resmi menyentuh angka 499 tahun.
Namun, di balik gemerlap lampu metropolis dan transisinya yang kini bukan lagi menyandang status Ibu Kota Negara, ada satu pertanyaan mengganjal yang jarang masuk dalam pidato resmi gubernur: di manakah posisi identitas kultural akar rumput Jakarta hari ini?
Jakarta hari ini adalah ruang megapolitan yang semakin dingin, individualis, dan tersegmentasi. Proses modernisasi urban pelan-pelan mencerabut masyarakat lokal dari akar sejarahnya. Tanah-tanah kampung digusur menjadi beton, dan ruang publik gratisan makin menyusut.
Di tengah kepungan alienasi perkotaan itu, sepak bola—lewat eksistensi Persija Jakarta dan subkultur raksasanya, The Jakmania—hadir bukan sekadar sebagai hiburan pengusir penat di akhir pekan. Persija adalah manifestasi hidup, barangkali benteng terakhir, dari identitas kolektif "Anak Jakarta" yang menolak punah ditelan zaman.
Sebagai mahasiswa yang bergelut di bidang Hukum Keluarga, fenomena tribun sepak bola ini justru menjadi sangat menarik jika diteropong lewat kacamata ketahanan keluarga urban. Mengapa? Karena keluarga bukan sekadar unit biologis terkecil yang tercatat di Kartu Keluarga. Keluarga adalah ruang pertama tempat nilai budaya, proteksi sosial, dan rasa aman itu diwariskan.
Ketika ruang kota Jakarta semakin tidak ramah bagi interaksi remaja, subkultur sepak bola ini bertransformasi menjadi semacam "keluarga kedua" (extended family). Di sanalah anak-anak muda Jakarta menemukan ruang aktualisasi diri, solidaritas, dan perlindungan emosional yang terkadang absen di rumah atau sekolah mereka.
Oleh karena itu, menyambut usia kota yang ke-499, narasi "Jakarta Harus Lebih Persija" bukan sekadar bualan romantis suporter yang haus kebanggaan. Ini adalah sebuah gugatan kultural untuk menolak lupa pada esensi asli kota ini.
Menolak Lupa Modal Sejarah
Membahas Jakarta tanpa melibatkan Persija adalah sebuah kecacatan sejarah. Kita perlu melongok kembali ke belakang. Persija didirikan pada 28 November 1928 dengan nama Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), tepat satu bulan setelah ikrar Sumpah Pemuda dikumandangkan.
Sejak awal kelahirannya, VIJ tidak didirikan untuk sekadar pamer piala. Tokoh pergerakan nasional asli Betawi, Mohammad Husni Thamrin, menggunakan klub sepak bola ini sebagai alat perlawanan kultural dan politik melawan diskriminasi kolonial Belanda yang waktu itu mengoordinasikan klub-klub elit lewat VBO (Voetbalbond Batavia en Omstreken).
Melalui VIJ, MH Thamrin menyatukan berbagai etnis di Batavia—Sunda, Betawi, Jawa, Tionghoa, hingga Maluku—di bawah satu panji nasionalisme lapangan hijau. Ketika MH Thamrin merogoh kocek pribadinya untuk membangun lapangan VIJ di Petojo, ia sedang mendirikan ruang kesetaraan hukum bagi kaum bumiputera yang selama ini dianggap warga kelas dua oleh penjajah.
Artinya, urat nadi Jakarta yang egaliter, berani, dan multikultural justru tertanam kuat dalam DNA Persija. Menjelang usia Jakarta yang hampir setengah milenium ini, meminggirkan peran historis Persija dalam narasi kota sama saja dengan mengamputasi ingatan sejarah perjuangan warga Jakarta itu sendiri.
Stadion sebagai "Ruang Ketiga" dan Jaring Pengaman Sosial
Dalam teori sosiologi urban yang digagas Ray Oldenburg, manusia modern membutuhkan tiga ruang hidup: rumah (ruang pertama), tempat kerja atau sekolah (ruang kedua), dan ruang sosial tempat berkumpul secara sukarela (ruang ketiga). Di Jakarta, ruang ketiga yang inklusif dan murah meriah hampir punah tergeser oleh mal-mal mewah.
Di sinilah stadion dan koridor jalanan saat matchday mengambil alih peran. Tempat-tempat ini berubah menjadi ruang ketiga kolektif yang meruntuhkan sekat kelas sosial. Di tribun, anak seorang pejabat dan anak sopir angkot bisa berpelukan merayakan gol yang sama.
Lebih jauh lagi, kohesi sosial yang dibangun oleh subkultur suporter Persija kini telah bergeser menjadi sistem hukum informal yang mengatur solidaritas. Di Jakarta yang tingkat mobilitas warganya sangat tinggi, ikatan ketetanggaan sering kali rapuh. Namun, jaringan kolektif suporter justru punya soliditas mekanis yang luar biasa.
Tengok saja bagaimana basis-basis suporter lokal di tingkat korwil atau sub-korwil menjadi pihak pertama yang bergerak mendirikan posko bantuan saat banjir tahunan melanda Jakarta, atau ketika terjadi krisis sosial di wilayah mereka. Fungsi perlindungan sosial ini berjalan otomatis, melampaui sekat-sekat hukum keluarga inti yang konvensional. Mereka saling menjaga layaknya saudara kandung.
Suara dari Akar Rumput lewat Lembaran Zine
Kedalaman gerakan ini juga terbukti dengan maraknya industri zine—majalah independen berformat kecil yang diproduksi secara swadaya lewat kertas fotokopi oleh kolektif suporter Persija. Melalui tulisan-tulisan di zine ini, mereka menolak dicap hanya sebagai kelompok yang identik dengan gesekan di jalanan atau perusak fasilitas kota.
Lewat lembaran kertas-kertas tersebut, anak-anak muda ini menuliskan esai sejarah, kritik terhadap kebijakan tata ruang kota, hingga kegelisahan personal tentang kerasnya hidup di Jakarta. Ini adalah bentuk nyata dari perlawanan terhadap komersialisasi sepak bola modern sekaligus tuntutan atas hak warga terhadap kotanya (right to the city). Mereka menuntut agar Jakarta di usia 499 tahun tidak mengkriminalisasi ekspresi visual mereka di jalanan, melainkan menyediakan wadah publik yang ramah bagi literasi dan kreativitas.
Lalu, apa hubungannya dengan studi Hukum Keluarga yang saya tekuni? Dalam diskursus kesejahteraan anak dan remaja di wilayah urban, lingkungan makro kota sangat memengaruhi keutuhan mental sebuah keluarga. Tekanan hidup kota besar yang transaksional sering kali memicu stres lingkungan yang berujung pada tingginya angka kekerasan dalam rumah tangga hingga depresi remaja.
Kultur Persija hadir sebagai katup penyelamat emosi (emotional release) yang positif bagi para remaja urban. Dengan melebur ke dalam kolektif, mereka belajar tentang struktur organisasi, tanggung jawab hukum personal, loyalitas, dan nilai persaudaraan lintas ekonomi. Ini bertindak sebagai support system eksternal yang secara tidak langsung ikut menjaga ketahanan mental anggota keluarga dari kerasnya tekanan hidup di ibu kota.
Saatnya Jakarta Merangkul Rumahnya Sendiri
Menjelang perayaan usianya yang ke-499, Jakarta berada di persimpangan jalan kultural. Apakah kota ini akan tumbuh menjadi kota global yang amnesia pada sejarahnya, atau memilih tetap membumi bersama akar rumputnya?
Kalimat "Jakarta Harus Lebih Persija" adalah sebuah pengingat keras. Lewat Persija, sejarah perjuangan MH Thamrin dirawat. Lewat subkultur suporternya, fungsi sosial dan nilai kekeluargaan yang mulai luntur di ruang domestik justru dihidupkan kembali di ruang publik.
Sudah saatnya Pemerintah Provinsi Jakarta dalam merancang tata kota menuju gerbang usia 500 tahun nanti tidak lagi memandang komunitas suporter sebagai beban ketertiban umum. Mereka adalah aset kebudayaan hidup yang menjaga denyut nadi kota ini tetap bernyawa. Jakarta harus menyediakan lebih banyak ruang publik, mendukung gerakan literasi akar rumput, dan merangkul mereka yang selama ini sukarela menjaga identitas asli "Anak Jakarta" tetap tegak berdiri.
Sebab, merayakan ulang tahun Jakarta tanpa merayakan kultur Persija, tak ubahnya seperti merayakan pesta di rumah yang telah kehilangan jiwanya.
SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA
