Mengapa Anak Suka Merokok? Jawaban dari Neurosains

Mahasiswa Manajemen Universitas Tazkia - Belajar dan meneliti tentang ekonomi mikro & investasi syariah - Berbagi edukasi finansial secara sederhana - Mendukung literasi untuk syariah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ahsan Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan ini, sebatang rokok menyala perlahan, asapnya meliuk seperti hipnotis, lalu dengan sopan menyusup masuk ke paru-paru sambil berbisik ke otak, “Tenanglah, ini hanya stres ringan.” Dan otak? Oh, dia percaya. Padahal itu bukan komunikasi. Itu kolonialisasi.
Di balik sebatang rokok, ada simfoni kimiawi yang lebih terencana dari orkestra Beethoven. Nikotin, sang maestro, menari-nari di antara reseptor dopamin, memainkan nada euforia, lalu membuat sang pemain ingin bis lagi dan lagi. Tapi ini bukan sekadar ketagihan biologis; ini adalah desain. Neurosains dalam industri tembakau bukanlah sekadar studi itu strategi pemasaran level dewa.
Mari kita melompat ke marketing, industri rokok telah lama memanfaatkan pemahaman mendalam tentang perilaku konsumen untuk memaksimalkan pengaruh iklan mereka. Momen-momen ketika orang sedang sendirian, lelah, atau baru selesai makan sering kali dianggap lebih rentan terhadap pesan promosi dan iklan rokok pun hadir dengan nuansa estetika kesendirian yang halus, kerap ditayangkan pada jam makan malam.
Bukan sekadar kebetulan. Itu peta otak yang dipelajari dengan rapi.
Di beberapa negara seperti Australia, peneliti kesehatan masyarakat menggunakan pemindaian fMRI dan studi persepsi untuk menilai reaksi bawah sadar terhadap desain kemasan rokok. Hasilnya? Warna cokelat kehijauan pucat (Pantone 448 C) dipilih karena terbukti secara neurologis memicu rasa tidak nyaman dan keengganan membeli bukan karena terlihat buruk, tapi karena otak manusia secara bawah sadar menolaknya.
Sayangnya, temuan ini bukan dari industri tembakau, tapi dari regulasi yang melawan mereka.
Indonesia? Ah, negeri di mana rokok sering muncul seperti kawan dekat di tengah iklan, sinetron, dan festival musik. Neurosains di sini bekerja lewat asosiasi emosional. Anak muda tak merokok karena nikotin, mereka merokok karena ingin jadi "dewasa", keren, punya citra, dan kadang... karena ayahnya juga begitu. Di sini, pemasaran rokok bukan hanya visual, tapi warisan emosional, diturunkan lewat iklan dan lagu tema.
Lalu datanglah era baru: ketika ilmu saraf akhirnya dipinjam oleh regulator dan aktivis.
Kini, kampanye anti-rokok juga menggunakan neurosains: menayangkan gambar yang mengaktifkan amigdala (pusat ketakutan otak), menggunakan testimoni emosional, dan mendorong disonansi kognitif.
Bahkan plain packaging adalah bentuk terapi visual massal untuk mengguncang persepsi otak terhadap "kenikmatan".
Neurosains yang dahulu digunakan untuk membius, kini mulai jadi alat kebangkitan. Ilmu yang sama yang dulu membentuk candu, kini membongkarnya.
Dan akhirnya kita sampai pada pelajaran besarnya: otak bukan hanya target, tapi juga alat perlindungan. Ketika kita tahu bagaimana iklan, merek, dan produk bicara langsung ke sistem limbik dan prefrontal cortex, kita jadi bisa memilih.
Setidaknya, kita bisa tahu saat si rokok itu menyapa dengan senyum palsu dan berkata,
“Cuma satu batang, kok.”
Kita bisa jawab,
“ohohoho.. tunggu kawan, Aku sudah tahu triknya.”
