Konten dari Pengguna

Kuliah Bukan Sekadar Duduk di Kelas, Ini Cerita Anak yang Masuk Tanpa Rencana

Ahsanal Qoshosh

Ahsanal Qoshosh

Mahasiswi UIN Jakarta, Prodi Ilmu Hadist

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahsanal Qoshosh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Nggak semua orang memulai dengan yakin, tapi semua orang bisa belajar menemukan makna dari perjalanan yang dijalani.”

Belajar di Perpustakan by dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Belajar di Perpustakan by dokumen pribadi

Awalnya aku merasa sendirian. Teman-teman di kelas terlihat seperti tahu apa yang mereka mau, aktif ikut organisasi, paham materi, dan punya semangat yang nggak ada habisnya. Sementara aku? Datang, duduk, dengar, pulang. Rasanya kayak jadi figuran di cerita orang lain.

Tapi makin lama, aku sadar: banyak dari mereka juga ngerasa sama. Kita cuma pintar menutupi. Di balik senyum dan tawa, ada yang juga bingung sama jurusan, ada yang kuliah sambil kerja karena harus bantu keluarga, ada yang struggling banget buat adaptasi. Kita semua sedang berjuang, cuma cara dan ekspresinya aja yang beda.

Dari situ, aku mulai pelan-pelan keluar dari zona nyaman. Nyoba ikut kegiatan lain walau masih canggung. Nyari temen ngobrol yang bisa diajak diskusi ringan, bahkan curhat. Dan yang paling penting: aku mulai jujur sama diri sendiri. Tentang apa yang aku rasain, butuhin, dan mau capai.

Aku mulai nulis jurnal kecil di ats kertas tentang hari-hari yang berat. Tentang momen-momen kecil yang bikin aku senyum. Tentang hal-hal sepele yang ternyata bisa bikin semangat balik lagi. Dan dari semua itu, aku belajar: harapan itu bisa tumbuh, bahkan dari pilihan yang awalnya kita anggap salah.

Sekarang, aku masih di jalan itu. Masih kadang overthinking, masih suka merasa “kok beda ya sama ekspektasi dulu?”. Tapi aku sudah nggak mau terus-terusan jadi korban keadaan. Aku memilih buat berdamai, dan terus jalan, meskipun pelan.

Karena ternyata, hidup bukan soal seberapa cepat kita nyampe tujuan. Tapi tentang bagaimana kita bertahan dan tumbuh selama perjalanan.

Dulu aku pikir, jadi dewasa itu soal punya semua jawaban. Tapi ternyata, jadi dewasa lebih banyak isinya tentang belajar menerima ketidaktahuan. Tentang berdamai dengan pilihan yang nggak sempurna. Tentang tetap melangkah walau kaki gemetar.

Kuliah mengajarkanku banyak hal—bukan cuma tentang teori atau mata kuliah, tapi tentang manajemen waktu, mental, dan ekspektasi. Aku belajar bahwa nggak semua hari akan produktif. Ada hari-hari di mana aku cuma bisa bangun, mandi, dan duduk termenung berjam-jam. Tapi nggak apa-apa. Itu juga bagian dari proses.

Aku juga belajar menilai ulang apa arti "sukses." Dulu, sukses bagiku adalah ranking, IPK tinggi, atau jadi mahasiswa berprestasi yang diliput kampus. Tapi sekarang, sukses versiku bisa sesederhana: bisa tidur nyenyak tanpa cemas, bisa ngobrol jujur sama orang tua, atau bisa menyemangati diri sendiri tanpa harus menunggu validasi orang lain.

Ada momen-momen di mana aku merasa nggak cukup. Tapi aku mulai sadar, perasaan itu bukan karena aku gagal. Kadang, kita terlalu sering membandingkan diri sama pencapaian orang lain, padahal jalan hidup setiap orang itu beda. Dan nggak semua keberhasilan harus diukur dengan standar yang sama.

Kini, setiap kali aku ngerasa berat, aku ingat satu hal: aku sudah jauh dari titik awal. Dulu aku hampir menyerah, sekarang aku bisa cerita. Dulu aku ngerasa nggak punya arah, sekarang aku bisa bikin rencana kecil, meski masih meraba.

Kuliah memang bukan segalanya. Tapi dari sini aku belajar banyak hal tentang diriku sendiri—dan itu nggak bisa diganti dengan apapun.

Dari perjalanan ini juga, aku mulai ngerti pentingnya punya support system, sekecil apapun itu. Entah itu satu teman yang bisa dengerin, dosen yang care, atau bahkan stranger di internet yang nulis pengalaman serupa. Kadang, validasi kecil dari orang lain bisa jadi penyelamat di tengah hari-hari yang terasa berat. Kita memang harus kuat, tapi bukan berarti harus sendiri. Kita tetap manusia—boleh lelah, boleh bingung, asal jangan berhenti.