Konten dari Pengguna

Semarang, Katanya Kota Horor. Buatku? Kota Paling Romantis yang Pernah Ada.

Ahsanal Qoshosh

Ahsanal Qoshosh

Mahasiswi UIN Jakarta, Prodi Ilmu Hadist

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahsanal Qoshosh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semarang di malam hariby dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Semarang di malam hariby dokumentasi pribadi

Katanya, Semarang itu kota horor. Banyak yang cerita soal bangunan angker, lorong-lorong sunyi, dan kisah penampakan di Lawang Sewu. Tapi bagiku? Semarang justru kota paling hangat dan penuh cinta yang pernah aku temui. Nggak menakutkan sama sekali—malah bikin betah dan selalu ingin kembali.

Semarang adalah kota kelahiran ibuku. Sejak kecil, aku sering diajak liburan ke sana. Dan setiap kali kaki ini menginjakkan ke kota ini, rasanya seperti pulang ke bagian kecil dari diriku yang paling damai. Di sinilah aku merasa tenang, nggak perlu buru-buru, dan bisa jadi diri sendiri tanpa banyak pencitraan.

Salah satu yang bikin aku jatuh cinta adalah suasana vintage-nya. Aku memang penggemar bangunan tua, dan Semarang seperti museum hidup. Dari Kota Tua yang eksotis, Lawang Sewu yang megah, sampai museum-museum yang berdiri anggun di pinggir jalan. Bangunannya bukan cuma estetik, tapi juga penuh cerita.

Kalau kamu suka jalan-jalan santai, suka bangunan bersejarah, atau pengen ngilang sebentar dari hiruk pikuk kota besar, Semarang wajib masuk daftar perjalananmu. Coba deh main ke kawasan Kota Lama saat sore menjelang malam—suasananya seperti melangkah ke masa lalu, tapi tetap nyaman dan instagramable.

Dan jangan lupa nikmati malamnya. Jalan-jalan malam di kota ini tuh bagaikan surga kecil. Lampu-lampu kota menyala hangat, suasananya tenang, dan udara malamnya sejuk banget. Rasanya kayak masuk ke adegan film romantis, di mana kamu bisa jatuh cinta—entah pada kota, pada seseorang, atau bahkan pada diri sendiri.

Biasanya, aku suka duduk sendiri di trotoar, melihat lalu-lalang kendaraan, atau sekadar menikmati pantulan lampu di jalanan basah sehabis hujan. Momen-momen kayak gitu justru yang paling membekas. Semarang memberiku ruang untuk diam, berpikir, dan mengenang. Tentang masa kecil, tentang keluarga, tentang hidup yang nggak harus selalu cepat-cepat.

Mau yang lebih syahdu? Coba naik ke Gombel malam-malam. Dari sana, kamu bisa lihat pemandangan Semarang dari atas. Lampu-lampunya kelap-kelip kayak bintang yang jatuh ke bumi. Duduk sebentar di sana, kamu bakal ngerti kenapa kota ini layak dicintai.

Simpang Lima juga jangan dilewatkan. Duduk di bangku taman, makan tahu gimbal, dengerin suara pedagang kaki lima, sambil lihat anak-anak main bola atau naik sepeda. Ada kehangatan khas rakyat biasa yang bikin hati adem.

Jadi, buat kamu yang selama ini cuma dengar kisah seram soal Semarang, aku cuma bisa bilang: datanglah sendiri. Rasakan sendiri. Jangan cuma percaya cerita orang. Karena Semarang bukan kota yang menyeramkan. Semarang adalah kota yang menyembuhkan. Kota yang pelan-pelan ngajarin kita untuk mencintai hidup dengan cara yang lebih sederhana.

Buatku, Semarang punya cara sendiri untuk membuat orang jatuh cinta—bukan lewat gemerlap, tapi lewat ketenangan dan kehangatan yang jarang ditemui di kota besar lainnya. Nggak semua kota bisa membuat kita merasa pulang, walau kita bukan warganya. Semarang melakukan itu padaku.

Kalau kamu sedang lelah, atau butuh rehat dari riuhnya kehidupan, coba sempatkan waktu ke Semarang. Nggak harus lama, cukup sehari dua hari untuk berjalan tanpa target, duduk tanpa terburu-buru. Siapa tahu, seperti aku, kamu akan menemukan versi dirimu yang lebih jujur dan damai di sana.

"Kalo disana jangan lupa jalan-jalan malam, tapi jangan lupa pulang dan istirahat."