Konten dari Pengguna

6 Tahun di Pesantren: Dari Sering Sakit Sampai Susah Pisah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahsanal Qoshosh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto setelah praktik mengajar (dokumen pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto setelah praktik mengajar (dokumen pribadi)

Waktu saya pertama kali masuk pesantren di kelas satu SMP, saya nggak pernah membayangkan bahwa saya akan bertahan selama enam tahun. Apalagi waktu itu saya lebih sering pulang ke rumah daripada ikut pelajaran.

Bukan karena manja. Tapi karena kondisi fisik saya memang belum kuat. Hampir setiap bulan saya sakit. Mulai dari demam, masuk angin, sampai yang bikin saya harus istirahat total. Akhirnya, saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dibanding di pesantren.

Ketika saya kembali ke asrama, saya merasa dunia sudah berjalan terlalu cepat. Teman-teman saya sudah hafal beberapa juz Al-Qur'an, sudah paham pelajaran fikih, sudah hafal jadwal piket. Sedangkan saya? Masih bingung cara setrika baju sendiri.

Waktu itu saya merasa down. Saya merasa pesantren bukan tempat saya. Bahkan sempat ada harapan kecil buat keluar dan pindah ke sekolah biasa. Yang lebih dekat dari rumah, yang bisa tidur di kasur empuk, dan yang ada mamah tiap hari. Tapi ternyata, yang bikin saya bertahan... bukan ustaz, bukan wali asrama, tapi teman-teman saya sendiri.

Mereka yang terus bilang, “Tenang, kita bantuin kok.”

Mereka yang ngajarin pelajaran yang saya ketinggalan.

Mereka yang nyuapin bubur pas saya nggak bisa bangun.

Mereka yang diam-diam nemenin saya menangis waktu malam.

Dan sejak itu saya sadar: mungkin yang saya butuhin bukan tempat baru, tapi orang-orang yang bikin tempat ini terasa kayak rumah.

Saat naik ke kelas 2 SMP, saya dipindahkan ke salah satu cabang pesantren di Bogor. Di sinilah saya mulai benar-benar merasa nyambung. Suasananya baru, tapi hangat. Tantangan tetap ada, tapi saya sudah lebih siap. Mulai dari belajar mandiri, jaga kebersihan sendiri, sampai ngatur waktu antara belajar dan ibadah. Di sini juga saya mulai menemukan "keluarga baru".

Mereka bukan sekadar teman sekamar, tapi jadi saudara. Kita saling bahu-membahu. Kadang ribut rebutan jemuran, kadang perang bantal tengah malam, kadang sedih bareng kalau ada yang kena marah. Tapi dari semua itu, justru rasa kebersamaan yang bikin kami kuat.

Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Ada masa-masa senang dan sedih. Ada momen jatuh dan bangkit. Tapi satu hal yang selalu saya ingat: di pesantren, saya belajar banyak hal yang nggak saya temukan di tempat lain.

Saya belajar mandiri.

Belajar sabar.

Belajar mengatur emosi saat harus tidur sekamar dengan 10 orang yang beda karakter.

Belajar menerima, kalau hidup nggak selalu sesuai rencana.

Saya juga belajar mencintai orang lain dalam diam. Mendoakan teman supaya kuat ketika dia sedang sakit, atau memberi semangat lewat tulisan kecil yang diselipkan di lemari. Saya belajar bahwa perhatian itu nggak selalu harus kelihatan.

Kini, setelah lulus, kadang saya kangen dengan semua itu. Kangen suara azan subuh, kangen rebutan odol, kangen duduk di lantai dingin sambil nyatet pelajaran. Kangen dimarahin karena telat ngaji, tapi juga kangen senyum-senyum waktu curi-curi makan mi instan malam-malam.

Saya dulu berpikir, pesantren tempat yang berat. Tapi sekarang saya sadar, justru tempat itulah yang membentuk saya.

Saya bukan orang paling kuat. Tapi saya cukup beruntung dikelilingi orang-orang yang nggak membiarkan saya menyerah. Dan dari situlah saya tahu: bertahan bukan soal hebat atau tidak. Tapi soal siapa yang ada di samping kita.