Saat Kompas Tak Lagi Menunjukkan Arah: Liburan ke Gili Ketapang Berujung Tegang

Mahasiswa Universitas Negeri Jember
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ahya Shova Tartila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tepat tanggal 2 Januari 2025, saya bersama keluarga besar berlibur ke Gili Ketapang. Kami berangkat dengan perasaan senang pagi itu, berharap bisa menikmati keindahan bawah laut di pulau kecil dekat Probolinggo tersebut. Snorkeling, naik banana boat, berfoto di spot-spot yang indah, dan menikmati ikan bakar di tepi pantai. Awal perjalanan terasa sangat menyenangkan bisa menikmati lautnya biru jernih, pasirnya yang halus, dan deburan ombak yang tenang.
Namun, semua berubah ketika sore tiba dan kami bersiap untuk pulang. Setelah menepi ke pantai untuk berganti baju, tidak ada firasat buruk apa pun. Tetapi, ketika kami hendak naik kapal, langit mulai mendung dan ombak sedikit lebih tinggi dari biasanya. Kami tetap naik kapal dengan santai, berpikir perlajanan pulang akan berjalan mudah seperti saat datang.
Tidak lama setelah kapal bergerak, hujan mulai turun dari langit, hujan turun dan langit tampak semakin gelap. Angin yang kencang membuat kapal bergoyang hebat. Suasana yang tadinya penuh tawa berubah menjadi tegang. Awalnya saya mengira awak kapal sudah hafal dengan jalurnya, tetapi ternyata mereka juga kesulitan menemukan arah menuju daratan karena cuaca buruk.
Saat itu kami tidak memiliki sinyal sama sekali, di situlah puncak kepanikan mulai terasa. Beruntung ada satu ponsel sepupu saya yang masih menangkap sinyal. Setelah hampir satu jam terombang-ambing dan tersesat di tengah laut, akhirnya dari kejauhan kamii melihat lampu-lampu kota Probolinggo. Rasa lega seketika menyelimuti seluruh keluarga.
Sesampainya di darat, kami hanya bisa tertawa lega karena berhasil selamat. Peristiwa tersebut membuat saya sadar bahwa liburan ke laut bukan hanya tentang keindahan, melainkan juga tentang kesiapan dan kewaspadaan. Gili Ketapang tetap menyimpan pesona yang luar biasa, tetapi pengalaman hampir tersesat di tengah laut itu akan tetap manjadi pengalaman yang tak terlupakan, meskipun sempat menimbulkan trauma untuk keluarga kami.
