Konten dari Pengguna

AI Dialogue AS–China: Gestur Diplomasi atau Rem Darurat?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizky Ridho Pratomo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Persaingan China-Amerika Serikat - Photo by https://kaboompics.com/: https://www.pexels.com/photo/american-and-chinese-flags-and-usa-dollars-4386371/
zoom-in-whitePerbesar
Persaingan China-Amerika Serikat - Photo by https://kaboompics.com/: https://www.pexels.com/photo/american-and-chinese-flags-and-usa-dollars-4386371/

Beberapa hari setelah pertemuan Donald Trump-Xi Jinping yang kedua kalinya, mereka berencana untuk mengadakan diskusi AI dua bulan kemudian. Perkembangan ini menarik karena kedua negara selama ini sedang berlomba siapa yang mengembangkan AI paling canggih. Adanya AI Dialogue ini patut untuk kita amati.

Namun, pertanyaannya adalah bagaimana implikasi pertemuan tersebut terhadap dinamika persaingan kedua negara ini, terutama pada isu kecerdasan buatan.

Ketika mereka berdiskusi, salah satu hasil dari pertemuan tersebut adalah mengurangi tarif barang China yang masuk ke Amerika Serikat. Itu merupakan hasil yang cukup baik bagi China, tetapi sebenarnya bukan itu yang dinantikan oleh para pengamat maupun pemimpin global. Isu yang menjadi sorotan, yaitu kecerdasan buatan dan mineral kritis justru tidak banyak dibahas dalam diskusi.

Capaian tarif pun terbatas. Pemangkasannya timbal balik, hanya untuk barang non-sensitif senilai sekitar US$30 miliar, dan gencatan dagang cuma diperpanjang dari 10 November ke 10 Januari. Di mineral kritis, China menguasai sekitar 91% pemurnian logam langka dan Amerika Serikat tidak mendapatkan penghapusan atau kelonggaran soal kontrol ekspor yang dilakukan China.

Ilaria Mazzocco, Deputy Director and Senior Fellow CSIS mengatakan bahwa tidak ada kesepakatan bermakna terjalin di antara kedua negara. Hal ini pun terlihat dari bagaimana penggunaan istilah yang berbeda. Amerika Serikat menggunakan istilah Super Intelligence, sedangkan China tetap mempertahankan istilah AI. Perbedaan tersebut menunjukkan kalau tidak ada kesepakatan atau setidaknya pernyataan bersama terkait ini, yang mengindikasikan bahwa isu ini belum terselesaikan.

Apa yang disepakati dalam dialog ini adalah adanya intensi untuk menyelenggarakan AI Dialogue. Tujuannya adalah menetapkan rambu-rambu dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), yang akan diselenggarakan dalam dua bulan ke depan. Meskipun mungkin ini terlihat seperti gestur bahwa ada keinginan untuk berdiskusi lebih lanjut, tetapi menurut penulis, adanya AI Dialogue ini menghindarkan mereka dari isu sebenarnya: bagaimana mereka menyelesaikan ketegangannya.

Di sisi AI, tidak ada perjanjian yang ditandatangani, seperti pada pertemuan Mei. Tidak ada mekanisme spesifik seperti notifikasi insiden atau evaluasi model terbaru. Xi menekankan AI harus selalu di bawah kendali manusia, sedangkan Trump ingin membiarkan isu Super Intelligence apa adanya. AI Dialogue lahir dari kebutuhan citra diplomasi, bukan konvergensi posisi.

Manajemen Risiko, Bukan Rem

Berbicara mengenai AI Dialogue, fokusnya adalah bagaimana kedua negara ini membangun channel komunikasi membahas risiko dan manfaat dari pengembangan AI. Berarti, ada kerangka bersama yang ingin dibangun supaya kedua negara dapat mengembangkan AI berdasarkan “kerangka acuan” dialog tersebut.

Urgensinya tampak dari data. Menurut Stanford AI Index 2026, selisih performa model terbaik AS dan China menjadi sangat sedikit, hanya 2,7%. Ketika selisih menyempit, tidak ada pihak yang mau melambat. Sentimen ini boleh jadi menjadi salah satu upaya membangun tata kelola AI yang bertanggung jawab. Terlebih, AI Dialogue ini dapat berperan sebagai rem bagi perusahaan-perusahaan AI dalam mengembangkan AI-nya. Alhasil, ada kemungkinan AI Dialogue ini menjadi acuan dalam pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Risikonya ikut naik. Insiden AI terdokumentasi melonjak dari 233 menjadi 362 menurut Stanford AI Index 2026. Namun Trump menolak memperlambat pengembangan AI, sehingga fungsi realistis dialog ini adalah manajemen krisis, seperti sistem peringatan insiden yang diusulkan AS, bukan rem.

Namun demikian, ada dua tantangan agar AI Dialogue ini dapat mencapai tujuannya. Pertama, China dan Amerika Serikat harus meminimalisir memandang masing-masing sebagai ancaman. Kenapa demikian? Karena kalau masih menganggap masing-masing sebagai ancaman, AI Dialogue ini akan hanya menjadi hiburan diplomatis tanpa substansi.

Kedua adalah bagaimana mereka membangun space of trust yang dapat diterima. Meskipun AS dan China sedang mereplikasi apa yang dilakukan AS dan Uni Soviet saat perang dingin, mereka perlu rambu-rambu yang menjadi kesepakatan bersama. Rambu-rambu itulah yang menjadi koridor kepercayaan yang dapat diterima, sehingga AI Dialogue ini dapat berjalan lebih optimal.

Gestur atau Realisasi?

Dalam dua bulan mendatang, Xi Jinping dan Donald Trump akan bertemu lagi. Tentunya, dalam dua bulan ke depan, akan banyak dinamika yang terjadi. Perusahaan AI Negeri Tirai Bambu dengan perusahaan AI Negeri Paman Sam akan terus mengembangkan aplikasi kecerdasan buatan hingga batas maksimalnya. Pertanyaannya adalah apakah AI Dialogue ini hanya menjadi gestur diplomasi semata atau dapat terealisasi.

Pertanyaan ini menjadi krusial karena kedua negara memegang peran kunci dalam pengembangan AI. China dengan AS terjebak dalam isu-isu krusial, mulai dari Taiwan hingga nuklir Iran. Apabila salah satu negara ini melakukan hal yang tidak disukai, AI Dialogue ini akan menjadi angan-angan.

Oleh karena itu, dua bulan ini menjadi krusial untuk merealisasikan AI Dialogue ini. Apa yang kedua negara ini perlihatkan sebagai ajang diplomasi hiburan dapat menghasilkan hal-hal yang konkret. Apa yang dilakukan oleh kedua negara menjadi game changer bagi pengembangan AI ke depannya.