Konten dari Pengguna

Riset MKSB UNAIR: Menaklik Identitas Masyarakat Manduro dalam Seni Sandur

Aidatul Fitriyah

Aidatul Fitriyah

Mahasiswa Sarjana Bahasa dan Sastra Inggris Universita Airlangga yang suka menulis dan bekerja dengan dunia kepenulisan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aidatul Fitriyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa manduro merupakan salah satu desa di Kabupaten Jombang yang memiliki keunikan tersendiri karena penghuni desa ini terdiri dari komunitas Madura yang menjadi minoritas di kalangan kebudayaan jawa. Pada desa Manduro terdapat kesenian Sandur yang digadangkan sebagai representatif dari eksistensi suku Manduro. Tulisan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahmi Febriani – Mahasiswa Magister Kajian Sastra dan Budaya – yang bertajuk “Menaklik Identitas Kultural Masyarakat Manduro dalam Seni Pertunjukan Sandur” yang diterbitkan pada Jurnal LAKON Universita Airlangga.

Pertunjukkan Seni Sandur di Desa Manduro, Jombang, Jawa Timur (Sumber: Dokumentasi Pribadi Peneliti).
zoom-in-whitePerbesar
Pertunjukkan Seni Sandur di Desa Manduro, Jombang, Jawa Timur (Sumber: Dokumentasi Pribadi Peneliti).

Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi terhadap pementasan seni tradisi Sandur Manduro di Desa Manduro, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Selain itu, peneliti juga melaksanakan wawancara tidak terstruktur dan terbuka dengan para aktor Sandur, sesepuh desa, dan masyarakat setempat yang terlibat dalam pementasan Sandur. Fokus dari penelitian ini mengungkapkan nilai-nilai kearifan lokal dan identitas budaya suku Manduro yang termuat dalam kesenian ini.

Selama ini, keberadaan Sandur Manduro gaungnya tidak selantang Sandur Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Nganjuk. Sandur Manduro lebih banyak ‘hidup dan dihidupi’ oleh masyarakat Manduro itu sendiri. Namun demikian, Sandur Manduro telah membuktikan keberhasilannya untuk tetap bertahan di tengah gempuran zaman. Hal ini membuktikan secara gamblang bahwa perkembangan Sandur Manduro dari masa ke masa cukup fluktuatif.

Sesuai namanya, suku Manduro berasal dari garis keturunan etnis Madura. Keberadaannya ditengah-tengah kebudayaan jawa membuat suku Manduro menjadi unik daripada etnis Madura lainnya. Terlebih lagi, tidak semua suku Jawa memiliki kemampuan seperti orang Manduro. Kemampuan ini semata-mata merupakan keistimewaan yang harus senantiasa dilestarikan.

Pada dasarnya setiap kebudayaan diciptakan unik dan khas karena memiliki identitas tersendiri yang membedakannya dengan kebudayaan lain. Sehingga dapat dikatakan bahwa Sandur Manduro tidak hanya suguhan hiburan, melainkan rekam jejak identitas suku Manduro. Sayangnya makna ini belum banyak dipahami secara kontras oleh Masyarakat Manduro.

Sebagai kesenian khas lokal, seyogyanya Sandur tetap ada dan terpelihara. Perlahan, melemahnya animo masyarakat terhadap kesenian Sandur juga berdampak pada melemahnya eksistensi Sandur itu sendiri. Kebutuhan akan hiburan yang lebih praktis dan dinamis meningkatkan standar hiburan yang diinginkan.

Perkembangan zaman tak dipungkiri telah memberikan dampak yang cukup serius terhadap keberadaan Sandur Manduro ini. Mengindikasikan suguhan hiburan di era modern seperti alat musik yang menawarkan sesuatu lebih ringan, praktis, dan lebih luwes dalam memenuhi kebutuhan yang didamba para penikmatnya. Keberalihan selera masyarakat dari kesenian tradisi kepada kesenian yang lebih modern menunjukkan adanya regresi peminat seni tradisi.

Dengan demikian, eksistensi Sandur sebagai kesenian lokal perlahan mulai kehilangan peminat sekaligus penikmat. Dalam konteks ini, upaya membawa Sandur pada ruang kontemporer kerap kali dilakukan. Tak tanggung-tanggung Pemerintah Jombang juga turut andil melakukan upaya pelestarian kesenian ini, tetapi sukar dilakukan karena kurangnya sumber daya manusia sebagai peniup terompet dan penari.

Kendati demikian, makna paling esensial dalam pemertahanan seni tradisi lokal terletak pada rasa tanggung jawab seluruh masyarakat sebagai pemilik tradisi. Sebab, seni tradisi juga merupakan bagian penting dari identitas kultural masyarakat tersebut.

Makna Simbolisasi Penampilan Kesenian Sandur

Secara filosofis, bentuk dan fungsi yang terkandung dalam kesenian lokal khas Sandur Manduro merepresentasikan nilai-nilai, falsafah, adat istiadat, dan sistem pengetahuan tradisional masyarakat setempat. Sandur mengejawantahkan identitas kultural dan potret diri orang Manduro yang dikemas secara halus melalui seperangkat seni pertunjukan.

Secara konseptual, Sandur ditampilkan berwujud teater tradisional guna mempertahankan tradisi kebiasaan masyarakat lampau. Seni Sandur menceritakan kehidupan masyarakat Agraris yang terdiri dari pertanian, perburuan, perdagangan dan kebudayaan urban. Segala alur cerita dielaborasikan dalam sebuah pertunjukan, baik melalui gerak, suara, maupun tata busana dengan makna-makna yang tersirat di dalamnya.

Perbedaan lain juga tampak pada latar belakang sosial budaya masyarakat. Masyarakat Manduro memiliki latar belakang sosial budaya yang jauh lebih kompleks. Berlatar cerita masyarakat agraris, Sandur Manduro lebih sarat akan nilai-nilai sastrawi. Pada setiap kemunculan tokoh, terdapat tembang yang dinyanyikan sebagai prolog dari adegan. Pada bagian tertentu terdapat parikan yang dibawakan oleh dalang. Parikan tersebut dibawakan dengan cara dinyanyikan menggunakan nada dari lagu-lagu populer.

unsur yang tidak ditemukan dalam Sandur yang terdapat di daerah lain, yaitu penggunaan topeng sebagai identitas tokoh yang bermain dan didukung oleh pemain pendukung berupa karakter hewan hewan, seperti sapi dan burung.

Perbedaan lain yang juga menonjol adalah tidak terdapat atraksi kalongking - atraksi salah satu tokoh yang kerasukan roh kalong (kelelawar) - dalam Sandur Manduro layaknya Sandur yang berkembang di Bojonegoro dan di Tuban. Tokoh ini melakukan gerakan tari selayaknya kalong pada seutas tali yang membentang pada ketinggian kurang lebih 15 meter. Sedangkan, Sandur Manduro cenderung lebih sederhana, namun tetap menarik dan mampu memantik gelak tawa para penontonnya.

Dalam seni pertunjukan, gerak memiliki nilai tersendiri yang dimunculkan. Meskipun tidak terdapat koreografi khusus dalam seni pertunjukan Sandur Manduro, namun perpaduan gerak ritmis dalam pertunjukan ini merangkai kisah yang merepresentasikan kebiasaan masyarakat Manduro sejak lampau.

Pada penelitian ini dijelaskan bahwa Setiap adegan seni Sandur mengandung nilai-nilai kearifan lokal masyarakat manduro. Dalam salah satu adegan terdapat nilai-nilai kepatuhan ini juga tergambar di masyarakat subkultur Pandhalungan.

Sedangkan pada media pengiring, kesenian ini menggunakan instrumen dari gong sebul sebagai ciri khas dari kesenian Sandur Manduro. Tak hanya itu saja, pada reka tarian Gunung Sari terdapat pula tokoh yang menggunakan atribut menyerupai hewan sapi. Pada kesenian ini tidak hanya melambangkan masyarakat agraris saja, namun juga menggambarkan sosok seekor hewan yang baik dan penurut kepada pemiliknya.

Adegan ini menyiratkan pesan-pesan ekologis yang terepresentasi melalui hubungan antara manusia dengan hewan. Pesan mendalam yang terkandung dalam adegan ini adalah adanya keselarasan perlakuan manusia terhadap hewan sehingga di antara keduanya terjalin hubungan yang harmonis.

Dalam konteks ini, Sandur Manduro secara nyata telah memproyeksikan bagaimana pluralisme, nilai-nilai kepatuhan, serta potret masyarakat agraris terintegrasi dalam satu nafas kehidupan. Aspek-aspek itulah yang senyatanya menjadi identitas diri masyarakat Manduro.

Seni Sandur sendiri memiliki peran penting dalam melahirkan budaya yang berintegritas. Perlu adanya pemahaman secara komprehensif terhadap kesenian Sandur sebagai entitas sosial budaya yang terintegrasi dengan identitas masyarakat Manduro.

Dengan demikian, diperlukan upaya pelestarian kesenian ini dengan serius melalui revitalisasi seni tradisi Sandur Manduro. Sebuah upaya untuk menghidupkan kembali kebudayaan lokal ditengah gempuran zaman. Adapun untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan sinergi antara berbagai pihak. Terutama, dukungan penuh dari pemerintah, baik secara material maupun non material demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih bernuansa lokal.