Konten dari Pengguna

Bukan Lagi Perang Dua Negara, Tapi Awal Mula Hancurnya Kemanusiaan

Iqlima Aiko Yodia

Iqlima Aiko Yodia

Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iqlima Aiko Yodia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pribadi

Langit meledak, tanah bergetar, dan manusia runtuh bahkan sebelum dunia sempat bereaksi. Di Iran, malam itu bukan hanya tentang dentuman senjata, melainkan tentang hancurnya ilusi bahwa diplomasi masih punya tempat dalam konflik Timur Tengah. Rudal-rudal Israel menghantam fasilitas nuklir dan militer utama seperti Natanz, Isfahan, Parchin, hingga jantung pertahanan di Teheran. Korbannya? Sekitar 224 hingga 406 jiwa, sebagian besar warga sipil yang tak pernah punya pilihan selain bertahan hidup di tempat yang tidak mengenal rasa aman.

Saya sendiri merasa takut dan prihatin setiap membaca berita demi berita yang tiada hentinya ini. Bukan hanya karena skalanya yang besar, tapi karena dunia tampak tak terguncang. Seolah pembunuhan massal adalah statistik biasa di wilayah ini. Banyak yang tetap acuh dan memilih acuh dengan isu ini. Saya bertanya-tanya apakah karena yang terbunuh bukan dari negara yang “berkuasa”? Apakah nilai nyawa bergantung pada koordinat peta?

Tak lama kemudian, Iran tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan gelombang serangan lebih dari 270 rudal dan drone ke wilayah Israel. Dan yang mencengangkan, banyak dari proyektil itu mampu menembus sistem pertahanan paling mutakhir THAAD, Patriot, Iron Dome, David’s Sling, hingga Arrow. Dunia terperangah, seakan baru menyadari bahwa balasan bisa datang dan datang dengan kekuatan yang nyata.

Namun saya tidak terkejut. Saya hanya sedih. Karena saya tahu, setiap rudal yang terbang, setiap ledakan yang terjadi, pada akhirnya akan merenggut satu lagi kehidupan tak berdosa. Setiap pemimpin yang berbicara tentang “hak membela diri” lupa bahwa hak yang sama juga dimiliki oleh mereka yang setiap harinya hidup dalam blokade, ancaman udara, dan kehancuran bertahun-tahun.

Banyak pihak menyebut ini sebagai bentuk eskalasi. Tapi bagi saya, ini bukan eskalasi. Ini adalah puncak dari kemunafikan global yang dibiarkan terus bertumbuh. Serangan balasan itu terjadi bukan dalam ruang hampa. Ia adalah respons atas agresi bertahun-tahun. Mulai dari penghancuran Gaza, pembunuhan tokoh Iran di luar negeri, sabotase terhadap situs nuklir Iran.

Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan standar ganda yang sungguh ironis. Di satu sisi, mereka bicara tentang keinginan untuk menjaga perdamaian, resolusi damai, dan tatanan global. Di sisi lain, mereka mengaktifkan sistem pertahanan untuk Israel dan bahkan memveto resolusi yang bisa menyelamatkan nyawa warga sipil. Bahkan pada tanggal 22 Juni 2005, AS secara terang-terangan ikut menyerang untuk melumpuhkam fasilitas nuklir Iran. Saya tak lagi kaget dengan sikap AS, tetapi yang membuat saya kecewa adalah dunia yang masih berpura-pura terkejut.

Negosiasi nuklir Iran di Oman yang semula menjadi peluang damai, kini runtuh seketika. Tak ada meja perundingan yang bisa bertahan di tengah dentuman drone dan rudal. Ini adalah pesan keras bahwa ketika diplomasi selalu dikalahkan oleh militerisme, maka kepercayaan pun akan hancur. Dan ketika kepercayaan hilang, maka tidak akan ada damai, hanya penundaan meledaknya konflik.

Sementara itu, Gaza terus menjadi neraka terbuka. Berdasarkan laporan PBB dan organisasi HAM, sejak Oktober 2023, lebih dari 60.000 warga Palestina terbunuh, mayoritas perempuan dan anak-anak. Rumah sakit runtuh, sekolah hancur, akses bantuan ditutup, dan dunia hanya menyaksikan. Saya bertanya-tanya, berapa kematian lagi yang dibutuhkan agar keadilan dianggap penting?

Saya merasa muak setiap kali mendengar istilah “tragedi kemanusiaan”, seolah tidak ada yang bisa dilakukan. Seolah dunia ini hanya punya simpati, tapi tak punya keberanian untuk bertindak. Yang terjadi di Gaza bukan “tragedi” itu adalah kegagalan aktif komunitas internasional untuk mencegah pembantaian. Dan kita semua, termasuk saya, turut bersalah jika hanya diam apalagi menutup mata dan telinga.

Sebagai seorang warga biasa, saya merasa tidak berdaya. Saya menolak untuk bersikap netral ketika keadilan diputarbalikkan. Netralitas dalam situasi seperti ini bukanlah keadilan, tapi kepengecutan. Dunia internasional perlu lebih dari pernyataan pers, kita butuh keberanian moral. Jika badan-badan internasional hanya menjadi megafon tanpa aksi, lalu untuk apa mereka ada?

Ini bukan lagi konflik dua negara. Ini adalah kegagalan sistem global dalam menjaga nilai-nilai paling dasar kemanusiaan. Ketika hukum internasional hanya berlaku untuk yang lemah dan diabaikan oleh yang kuat, maka tidak ada keadilan, hanya dominasi. Jika “kekuatan” adalah satu-satunya hukum yang dihormati, maka dunia ini sedang kembali ke era kegelapan.

Jika kita masih ingin hidup di dunia yang bermoral, maka kita tidak boleh lagi memilih diam. Kita harus terus bersuara, mendesak, dan mengingatkan bahwa keadilan bukan milik satu bangsa, melainkan milik seluruh umat manusia. Jika tidak, maka kelak kita akan dikenang bukan karena keberanian kita, tapi karena kegagalan kita dalam membela sesama.