Merangkai Memori Lewat Kelas Keramik di Garasi Rumah

Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Iqlima Aiko Yodia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah sudut tenang di kawasan Awiligar, Bandung, tersembunyi studio keramik kecil. Namanya Isapoterie, berada tepat di samping rumah pendirinya, dengan pemandangan Kota Bandung yang terbentang di kejauhan. Tak banyak lalu lintas, tak banyak keramaian hanya ada suara burung, udara segar, dan ruang sederhana tempat orang datang untuk membentuk tanah liat menjadi sesuatu kerajinan yang indah atau sekedar mencari pengalaman.
Studio ini dibangun oleh Isa, seorang laki-laki lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung Jurusan Kriya. Isa baru saja lulus tahun lalu pada bulan Oktober. Isapoterie lahir dari keinginan sang pemilik untuk mengisi waktu luang sembari tetap berkarya untuk terus mengembangkan skillnya setelah kelulusan.
“Awalnya akun Instagram @isapoterie cuma untuk upload karya tugas akhir aku dan sekilas bangun personal branding si. Nah kebetulan ada temen aku yang udah punya bisnis studio duluan ngajakin untuk kerja sama akhirnya terbentuklah Isapoterie” ujar Isa.
Isapoterie pertama kali diperkenalkan pada bulan Desember tahun lalu dengan logo berbentuk bunga yang sekilas terlihat seperti awan yang melingkar. Nama studionya sendiri berasal dari nama sang pendiri, dengan alasan namanya dan keramik sudah seperti satu paket sejak saat perkuliahan.
Keinginan yang Terwujud di Garasi Rumah
Unggahan video pertamanya di Instagram menjadi langkah awal. Dari sana, teman-temannya banyak memberi dukungan dan mulai bermunculan peserta dari pihak luar yang tertarik. Perlahan tapi pasti, garasi di sebelah rumahnya berubah menjadi studio kecil, dengan alat throwing miliknya, meja kerja, dan rak untuk tanah liat.
Isa menekankan bahwa sejak awal, studio ini tidak mengharapkan banyak hal, hanya ingin menyediakan ruang belajar yang nyaman untuk orang-orang yang tertarik dengan pembuatan keramik terutama dengan teknik throwing.
“Aku gak pernah mimpi bikin studio. Tapi aku tahu, aku bakal terus kerja dengan keramik. Passion aku memang di situ,” ucapnya.
Ruang Belajar untuk Bereksplorasi dan Berekspresi
Salah satu nilai utama Isapoterie adalah kebebasan berekspresi. Kelas-kelas yang ditawarkan terbagi dalam beberapa paket, sekali pertemuan, dua kali, hingga lima kali pertemuan intensif. Meski begitu, struktur kelasnya fleksibel, tanpa tekanan menghasilkan karya yang “sempurna”.
“Yang penting mereka datang dan menikmati prosesnya. Di sini aku cuma fasilitator. Mau pakai tanah liat sepuasnya, coba teknik lain, atau gagal total sekalipun, itu semua bagian dari belajar,” tutur Isa.
Ia paham betul bahwa tiap peserta punya tujuan berbeda, ada yang hanya ingin untuk dijadikan konten, ada yang ingin cari pengalaman baru, dan ada pula yang serius mendalami teknik pembuatan keramik. Ia pun menambahkan bahwa ia selalu senang jika pesertanya memiliki banyak pertanyaan untuknya karena itu menunjukan keinginan sungguh-sungguh untuk belajar.
Pengalaman Singkat tapi Menyenangkan
Di tengah pusingnya akibat rutinitas kuliah yang padat Naila (20), mencoba meluangkan waktu untuk mengisi akhir pekannya dengan kegiatan baru. Ia tahu studio Isapoterie dari Instagram dan tertarik karena kelasnya yang terlihat santai dan nyaman dengan fasilitas yang lengkap. Setelah sampai di lokasi, ternyata sesuai ekspektasi tempatnya sederhana, tapi justru kesederhanaan itulah yang membuatnya nyaman.
Dalam sesi kelas hari itu, Naila belajar teknik dasar throwing untuk membuat mangkuk kecil. Prosesnya tidak mudah, waktu beberapa kali Naila membuat kesalahan, Isa selalu siap untuk membantu dan selalu menyemangati untuk terus mencoba lagi dan lagi sampai akhirnya terbentuklah mangkuk kecil bermotif bunga-bunga kecil buatannya.
“Cuma dua orang maksimal per kelas, pas itu aku bareng temen aku jadi bisa ngobrol dan belajar banyak hal deh tanpa harus buru-buru.” tambahnya.
Bagi Naila, meskipun hanya datang sekali, kelas di Isapoterie terasa singkat dan menyenangkan. Ia jadi bisa belajar banyak hal sekaligus menghabiskan akhir pekan dengan kegiatan baru yang menarik dan bermanfaat.
Studio Kecil, Keputusan Terbaik
Keputusan Isa untuk membuka studio di garasi rumah merupakan pilihan yang menurutnya paling tepat. Karena luas tempatnya cukup, alatnya lengkap, bahan-bahannya pun tersedia, maka tidak ada alasan untuknya tidak memakai garasinya sebagai home studionya. Isa juga lebih memilih untuk memiliki studio yang kecil dan terbatas.
"Aku gak berharap Isapoterie bakal viral atau menjadi tempat yang high demand. Aku lebih suka kalau dikenal di kalangan yang benar-benar suka dan tertarik sama keramik. Kalau demand-nya tiba-tiba besar, aku justru takut gak sanggup dan kehilangan rasa personalnya," ungkapnya.
Setiap karya peserta tidak langsung bisa dibawa pulang. Proses pembakaran dan glasir membutuhkan waktu 3-4 minggu. Setelah itu, karya akan dikirim ke rumah masing-masing, sudah siap digunakan dan diharapkan menjadi bukti memori yang berkesan selama sesi kelas di Isapoterie.
Menjaga yang Berarti
Saat ditanya apa yang ingin ia pertahankan dari Isapoterie, Isa menjawab dengan yakin, "Hospitality." Bagi Isa, keramahan dan cara memperlakukan peserta yang benar-benar ingin belajar dengan tulus adalah hal yang akan terus ia pertahankan.
"Kalau ada bertanya di luar sesi kelas, apalagi datang lagi dengan alasan ada ketertarikan yang tumbuh, aku pasti senang banget. Aku selalu terbuka buat diskusi," katanya.
Studio kecil ini bukan sekadar tempat belajar teknik keramik. la adalah ruang tumbuh-bagi orang-orang yang ingin mengenal medium tanah liat, yang ingin berhenti sejenak dari kesibukan, dan yang ingin mencipta tanpa tekanan.
