Panggilan Hati untuk Bersinergi Menghadapi Pandemi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Tulisan dari Devira Ailen I tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ditemui di kediamannya di Dusun Kropak, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Kamis (29/10), Pak Sumana atau biasa dipanggil Pak Bagus berbagi cerita selama menjalankan tugas menjadi relawan Covid. Beberapa kegiatan yang beliau lakukan bersama dengan relawan lainnya adalah penyemprotan di daerah zona merah untuk antisipasi penyebaran virus, mengedukasi warga yang belum terdampak sebagai antisipasi penularan, dan memetakan daerah untuk memprioritaskan daerah zona merah agar tidak semakin melebar.
Pak Bagus sendiri tergabung dalam SAR DIY Distrik Gunungkidul. Dari penjelasan beliau, yang terlibat dalam kegiatan ini adalah seluruh relawan Gunungkidul meliputi Tagana, PMI, dan MDMC yang berada di bawah naungan BPBD Provinsi Yogyakarta. Pak Bagus juga menjelaskan ada beberapa relawan terpilih, termasuk beliau yang ikut di Bawah Kendali Operasi (BKO) dengan tugas sebagai Tim Kubur Cepat (TKC), tim pengantar pasien positif Covid ke rumah sakit, dan tim yang menjemput jenazah untuk diantarkan ke pemakaman.
Sewaktu kita di kantor terus dapat telfon dari BPBD untuk mengantarkan jenazah ke pemakaman, kita kan belum tahu jenazah itu terdampak Covid atau cuma meninggal karena penyakit biasa. Setelah kita memakai peralatan komplit dengan APD jadi kita sudah tidak bisa berbicara lagi, baru di situ dijelaskan pakai speaker bahwasannya yang mau kita makamkan itu positif Covid. Jadi hati kita itu ada semacam rasa was-was, takut juga, tapi memang itu tugas kita ya kita harus berangkat,” tutur beliau ketika ditanya hal yang paling diingat saat bertugas di BKO.
Beliau menambahkan karena kematian yang tidak berbatas waktu, ketika ditelfon jam 2 pagi maka harus siap menguburkan. Penguburan jenazah tidak bisa ditunda karena harus selesai tidak boleh lebih dari 4 jam. Hal ini membuat para petugas harus siap 24 jam. Di mana pun tempat kematian di seluruh wilayah DIY, para petugas harus meluncur.
Ketika ditanya alasan Pak Bagus ikut menjadi relawan karena panggilan hati untuk membantu.
Pertama memang itu panggilan hati. Di mana pemerintah kurang personil. Kita sebelumnya sudah ada di tim relawan otomatis tergerak hatinya untuk membantu masyarakat yang intinya meminimalkan tingkat kehawatiran masyarakat dalam menghadapi Covid. Kita memang langsung terjun tanpa ada komando dari pemerintah. Dari setiap distrik langsung ada inisiatif untuk terjun langsung ke lapangan. Relawan sebagai wadah untuk menyalurkan keinginan dalam hati untuk membantu, " jelas Pak Bagus.
Selama menjalankan tugas ada banyak pengorbanan yang dilakukan Pak Bagus. Beliau mengatakan bahwa banyak pekerjaan skala kecil di rumah yang terbengkalai. Lebih baik meninggalkan pekerjaan yang bisa dilakukan lain waktu, karena tugas sebagai relawan tidak bisa ditunda. Selain itu, kekhawatiran terhadap keluarga ketika tugas di luar menurut Pak Bagus juga sebuah pengorbanan, karena sedikit banyak menganggu psikis anak dan istri. Begitu juga untuk makan, minum, dan bensin memang selalu beli sendiri tidak ada orang yang memberi.
