Budaya Pamer Gaya Hidup di Media Sosial dan Tekanan ke Anak Muda

Mahasiswa Sistem Informasi, Universitas Pamulang. Gemar mengurai isu nasional dari sudut pandang teknologi, data, dan keberlanjutan. Menulis bukan hanya untuk tahu, tapi untuk mengajak bertindak.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aina Ramadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial seharusnya jadi tempat untuk berbagi cerita, tapi perlahan berubah menjadi ajang pembuktian diri. Banyak anak muda merasa harus tampil sempurna, punya barang branded, nongkrong di tempat estetik, jalan-jalan ke luar kota, bahkan menyembunyikan hal-hal sederhana dalam hidup mereka karena dianggap “nggak menarik” untuk diposting.
Fenomena ini akhirnya menciptakan tekanan baru: hidup harus terlihat mewah agar dianggap sukses.
Namun jarang disadari, apa yang kita lihat di layar bukanlah kenyataan penuh. Banyak konten adalah potongan terbaik dari hidup seseorang, dipilih dengan pencahayaan paling bagus dan caption paling manis. Tapi ketika anak muda terus membandingkan hidup mereka dengan highlight orang lain, rasa minder dan merasa kurang menjadi hal yang wajar muncul.
Lebih parahnya lagi, algoritma media sosial ikut memperkuat budaya ini. Konten glamor akan muncul lebih sering di halaman rekomendasi, sehingga seolah-olah “semua orang” hidupnya sempurna. Padahal tidak. Namun otak kita tetap memprosesnya sebagai standar yang harus dicapai.
Akibatnya, banyak yang memaksa diri mengikuti tren: membeli barang yang sebenarnya tidak perlu, memaksakan gaya hidup di luar kemampuan, atau merasa tidak berharga ketika tidak bisa mengikuti gaya hidup yang sedang viral. Semua ini hanya demi terlihat “keren” di mata orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal secara nyata.
Sementara itu, influencer yang sebenarnya punya modal, sponsor, atau pendapatan tinggi, sering memberi kesan bahwa kehidupan mewah adalah hal normal. Padahal bagi banyak anak muda, itu tidak realistis. Tanpa sadar, tekanan hidup datang bukan dari kebutuhan, tetapi dari keinginan untuk terlihat tidak kalah.
Padahal, hidup tidak seharusnya menjadi kompetisi visual. Tidak semua harus dibuktikan lewat foto liburan, kopi mahal, outfit kekinian, atau gadget terbaru. Yang lebih penting adalah rasa cukup, stabil secara mental, dan keuangan yang sehat,
sesuatu yang sering tidak terlihat di layar, tapi menentukan kualitas hidup yang sebenarnya.
Budaya pamer tidak akan hilang sepenuhnya. Namun yang bisa dilakukan adalah belajar mengenali batas: bahwa hidup orang lain tidak perlu menjadi standar untuk hidup kita sendiri. Media sosial hanyalah etalase, bukan ukuran kesuksesan.
Pada akhirnya, hidup “biasa saja” bukan berarti gagal. Justru itu sering kali yang paling realistis, sehat, dan membebaskan.
