Kemuliaan Hati Petugas Pemandian Jenazah

Serigala Andalas
Tulisan dari Ainul Qalbi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam Islam, memandikan Jenazah merupakan suatu prosesi yang harus dilakukan sebelum jenazah dikuburkan ke dalam Liang Lahat.
Tapi, apakah pernah terpikirkan oleh anda untuk menjadi petugas yang memandikan jenazah? Mungkin tidak pernah terlintas di pikiran kita untuk menjadi petugas jenazah. Namun, profesi itu memang ada di sekitar kita.
Pada siang yang teduh tapi panas itu (5/1), kumparan bertandang ke Yayasan Bunga Kemboja di bilangan Pasar Minggu. Yayasan Bunga Kemboja dikenal sebagai salah satu institusi yang menyediakan kelengkapan-kelengkapan untuk prosesi pemakaman. Di antara lain ada penyediaan peti mati, keranda, mobil jenazah, dan petugas yang memandikan jenazah. Kumparan berkesempatan untuk berbincang-bincang santai dengan 2 petugas mandi untuk jenazah laki-laki dan perempuan. Mereka adalah Bapak Abdul Aziz dan Ibu Muriyah.
"Sebelum menjadi petugas memandikan jenazah, kami berdua dulunya adalah guru Pendidikan Agama Islam di Madrasah," ujar keduanya ketika berbincang dengan kumparan. "Awalnya saya sempat merasa takut ya, soalnya belom terbiasa. Tapi lama2 juga udah biasa aja kok," ujar Aziz menambahkan mengenai pengalamannya menjadi petugas mandi jenazah. Ini berbeda dengan ibu Muriyah yang tidak merasa takut dalam pekerjaannya ini. "Alhamdulillah yah saya ga takut untuk ngelakuin pekerjaan ini. Insyaallah kalau kita ikhlas dalam ngejalaninnya, pekerjaan kita bakal diridhai Allah," kata Muriyah.
Abdul Aziz tinggal di Cililitan bersama istri dan kedua anaknya. Sementara Muriyah tinggal bersama kedua anaknya yang telah memberikan 7 orang cucu. Kebetulan suami beliau sudah almarhum. Penghasilan sebagai petugas mandi jenazah yang mendapat bayaran setara umr ini bagi mereka sudah cukup untuk menghidupi keluarga di rumah.
Keduanya juga sudah lama menjalani profesi ini. Aziz sudah 17 tahun, sementara Muriyah sudah 11 tahun. Tentu, dengan jam terbang yang tidak sedikit ini ada berbagai pengalaman unik dan menarik yang dialami oleh keduanya. "Pengalaman sih banyak ya. Cuman kita ga bisa ceritain, hal itu cukup kita dan keluarga almarhum/almarhumah yang tau," kata Muriyah.
Sayang, kumparan tidak bisa bercengkrama dengan keduanya karena ada jenazah yang harus segera dimandikan di rumah duka. Tapi, sebelum berpisah, ada sebuah pesan dari Ibu Muriyah mengenai pekerjaan kita.
"Bekerjalah dengan hati, agar pekerjaan itu diridhai allah." Ibu Muriyah (64), Petugas memandikan jenazah.
