Konten dari Pengguna

BIPA: Instrumen Diplomasi Budaya dan Jembatan Politik Internasional Indonesia

Ainun Nisa Apriliani

Ainun Nisa Apriliani

Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Pamulang (UNPAM)

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ainun Nisa Apriliani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pembelajaran BIPA. Sumber foto: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pembelajaran BIPA. Sumber foto: Pexels.com

Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) bukan hanya sebuah pelatihan bahasa dan pertukaran budaya biasa. Program BIPA memiliki potensi besar sebagai alat diplomasi budaya dalam memperkuat hubungan individu internasional Indonesia. Setiap pembelajar asing yang belajar dan menguasai bahasa Indonesia dari program BIPA secara otomatis menjadi "duta tidak resmi" yang membawa pemahaman mendalam terkait sejarah, budaya, serta nilai-nilai bangsa Indonesia sehingga meningkatkan pengaruh lunak (soft power) ke negara asal mereka. Dengan ini pembelajar asing memahami Indonesia melalui penguasaan bahasa dan nilai-nilai yang dimiliki Indonesia, sehingga Indonesia juga memiliki peluang untuk dipahami secara akurat oleh negara lain. Jadi, jika ada pemahaman yang benar dan mendalam tentang Indonesia, akan menciptakan lingkungan yang lebih menguntungkan untuk bekerja sama yang lebih stabil serta produktif. Pada akhirnya program BIPA dapat meningkatkan posisi Indonesia di forum dan diskusi Internasional.

Untuk meningkatkan fungsi diplomasi budaya, kurikulum sastra perlu diperbanyak dalam program BIPA. Sastra Indonesia, baik dalam bentuk cerpen, novel, puisi, maupun drama, merupakan alat representatif yang merekam keadaan sosial, sejarah, dan perspektif masyarakat. Pembelajar asing dapat memahami masalah sosial seperti perubahan sosial, keberagaman agama dan suku, perjuangan sejarah, hubungan gender, kehidupan pedesaan dan perkotaan, dan dinamika politik dengan membaca sastra. Dengan memasukkan sastra ke dalam kurikulum BIPA, pembelajar asing tidak hanya dapat mempelajari bahasa secara struktural, tetapi juga dapat merasakan ruang dalam masyarakat Indonesia, memahami konteks budaya di balik penggunaan bahasa, dan memahami nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam karya sastra Indonesia.

Ilustrasi Buku-buku Indonesia. Sumber foto: Pexels.com

Penguatan kurikulum sastra BIPA juga membantu diplomasi politik. Sastra Indonesia sering menggambarkan peristiwa masa lalu tentang perjuangan bangsa, nasionalisme, kolonialisme, ketidakadilan struktural, multikulturalisme, dan dinamika nasionalisme. Novel seperti "Bumi Manusia", "Amba", dan "Gadis Kretek" memberikan pemahaman kontekstual tentang perjalanan demokrasi Indonesia, masalah HAM, hubungan kekuasaan, dan transformasi sosial. Pembelajar asing tidak hanya belajar bahasa, tetapi mereka juga belajar tentang identitas politik Indonesia dan bagaimana toleransi, demokrasi, dan patriotisme diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Pemahaman kultural-politik yang mendalam ini dapat membantu mengurangi persepsi politik yang sering terjadi di seluruh dunia.

Selain itu, alumni program BIPA dapat mendorong diplomasi publik melalui keterlibatan mereka dalam institusi akademik, ekonomi, dan politik negara asalnya. Setelah memperoleh pemahaman yang luas tentang Indonesia melalui literatur dan bahasa, mereka akan lebih siap untuk menjalin hubungan politik yang menguntungkan satu sama lain. Ini memperluas ruang diplomasi Indonesia dari ranah pemerintah menjadi diplomasi berbasis masyarakat. Model ini selaras dengan paradigma diplomasi modern yang menekankan soft power, komunikasi lintas budaya, dan pembangunan citra negara Indonesia.

Oleh karena itu, program BIPA tidak hanya sebuah pelatihan bahasa dan pertukaran budaya biasa, tetapi juga merupakan alat strategis untuk memperkuat peran Indonesia dalam politik internasional. Pembelajar asing dapat menjadi jembatan untuk komunikasi, kerja sama, dan persepsi positif antarnegara dengan menguasai bahasa, sastra, dan nilai budaya-politik Indonesia. Dengan menambahkan elemen sastra ke dalam kurikulum BIPA, diplomasi budaya menjadi lebih penting dan efektif. Ini semakin mengokohkan BIPA sebagai jembatan penting dalam hubungan politik luar negeri Indonesia.