Sempat Hilang dari Ingatan, Gedung Juang 45 Bercerita Kembali tentang Bekasi
Tulisan dari Aira Sembrani Luca tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah sudut Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, berdiri sebuah bangunan tua bercat putih dengan arsitektur Eropa yang berpadu dengan gaya Tionghoa. Bangunan itu adalah Museum Gedung Juang 45 Bekasi, saksi bisu panjang perjalanan sejarah Bekasi dari era tuan tanah kolonial, markas penjajah, hingga pusat komando perjuangan para pemuda yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Namun selama bertahun-tahun, gedung itu justru tak bersuara. Kosong, terbengkalai, dan disebut-sebut angker oleh warga sekitar. Kini, setelah direvitalisasi pada 2020-2021, Gedung Juang 45 kembali hidup, namun bukan sekadar sebagai bangunan bersejarah, tetapi sebagai museum digital yang mengajak siapa saja mengenal sejarah lokal Bekasi.
Perjalanan Gedung Juang 45 dari Masa ke Masa
Gedung Juang 45 bukan sekadar bangunan lama. Gedung yang dibangun sejak tahun 1906-1925 ini awalnya dimiliki oleh keluarga Khouw Tjian Sek, bangsawan keturunan Tionghoa yang memiliki hak atas tanah partikelir di wilayah Tambun. Selain sebagai tempat tinggal, gedung ini juga menjadi pusat administrasi perkebunan kelapa, padi, dan karet yang berada di sekitarnya. Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Bekasi (2004), turut mengonfirmasi proses pembangunannya yang bertahap. Bangunan sisi timur berdiri pada 1906, sementara bangunan utama yang lebih tinggi beserta dua sayap kanan-kirinya baru rampung pada 1925
Pada masa penjajahan, gedung ini beberapa kali berpindah fungsi. Tahun 1942, gedung ini direbut Jepang dan digunakan sebagai markas serta dapur umum. Setelah itu, Belanda menjadikannya sebagai markas pertahanan sebelum akhirnya gedung ini digunakan oleh para pejuang Bekasi sebagai markas komando, tempat latihan, dan pusat penyusunan strategi. Komite Nasional Indonesia (KNI) wilayah Bekasi turut menggunakan gedung ini sebagai tempat berkumpul dan bertukar pikiran.
Gedung ini bahkan pernah menjadi lokasi perundingan pertukaran tawanan perang antara pihak RI dan Belanda, sehingga kerap menjadi sasaran tembak pesawat udara maupun meriam Belanda selama masa perjuangan fisik (Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Bekasi, 2004).
Ketika Gedung Juang 45 Sempat Terlupakan
Usai masa perjuangan, Gedung Juang 45 sempat difungsikan sebagai kantor dinas, kantor DPRD, markas batalyon TNI, Legiun Veteran Indonesia, hingga area parkir Dinas Pemadam Kebakaran. Namun, gedung utamanya lama tidak digunakan hingga terbengkalai. Kondisi tersebut membuat warga sekitar mulai memiliki berbagai cerita mengenai gedung ini.
"Gedung ini tidak dipakai, dihuni ribuan kelelawar, sampai akhirnya ada yang bilang angker." ujar Wiki, staf sekaligus pemandu Museum Gedung Juang 45 Bekasi, saat diwawancara pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Perubahan baru terjadi pada 2020 saat Pemerintah Kabupaten Bekasi merevitalisasi gedung ini menjadi museum digital dengan anggaran sekitar Rp36 miliar (Anggraini et al., 2026). Tujuannya, untuk menghadirkan wisata edukasi bagi masyarakat Bekasi. Museum Gedung Juang 45 Bekasi kemudian resmi dibuka pada 19 Maret 2021.
"Jangan sampai ada bangunan bersejarah, tapi masyarakat Bekasi tidak tahu bagaimana seluk-beluk perjalanan panjang Gedung Juang ini." ujar Wiki, mengutip semangat di balik revitalisasi tersebut.
Mengenal Sejarah Bekasi Melalui Museum Gedung Juang 45
Museum Gedung Juang 45 tetap mempertahankan keaslian bangunannya yang bergaya Eropa-Tionghoa. Sejarah kemudian disajikan melalui teknologi digital yang membuat pengalaman belajar lebih interaktif. Secara keseluruhan, koleksi museum ini tersebar di 13 ruangan (hall) yang ditata berdasarkan babak sejarahnya, mulai dari masa prasejarah hingga perjuangan kemerdekaan (Untari et al., 2023).
Hall of Fame menyambut pengunjung dengan ringkasan profil para Bupati Bekasi sejak 1947 hingga kini, serta dilengkapi Smart Table interaktif. Perjalanan berlanjut ke Hall Masa Prasejarah yang menampilkan fosil dan artefak Kerajaan Buni dari 1.000 SM hingga 500 M. Hall Masa Kerajaan Tarumanegara menyajikan kisah Bekasi sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Tarumanegara di bawah Raja Purnawarman melalui Interactive Digital Book.
Pengunjung juga dapat menyusuri Hall Kerajaan Sunda yang menyajikan Augmented Reality Wall tentang penobatan raja hingga keruntuhan kerajaan akibat Kesultanan Banten. Ada pula koleksi tentang gerakan petani Tambun 1869, kisah Entong Tolo, dan berbagai hologram yang memperlihatkan perkembangan wilayah Bekasi dari masa ke masa.
Fasilitas theater tersedia dengan tiga sesi penayangan, yaitu pukul 11.00, 13.00, dan 15.00 WIB. Museum juga dilengkapi Pojok Baca Digital (POCADI) bagi pengunjung yang ingin mendalami referensi sejarah secara mandiri.
Museum ini juga meninggalkan kesan bagi para pengunjung. Sri, salah seorang pengunjung yang datang bersama anaknya, mengaku sengaja memilih Museum Gedung Juang 45 sebagai tujuan akhir pekan karena ingin mengenalkan sejarah Bekasi sejak dini.
"Saya memang sengaja ngajak anak ke sini buat jalan-jalan, tapi sekalian belajar. Selama ini kami lebih sering ke mall, padahal ternyata sejarah Bekasi itu banyak dan menarik. Di sini penyampaiannya juga interaktif, jadi anak lebih tertarik." ujar Sri, pengunjung Museum Gedung Juang 45 Bekasi saat diwawancara pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Informasi Wisata dan Panduan berkunjung
Museum Gedung Juang 45 Bekasi terletak di Jl. Sultan Hasanuddin No. 39, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Lokasinya mudah dijangkau karena hanya sekitar 200 meter (±3 menit berjalan kaki) dari Stasiun Tambun.
Museum buka setiap Selasa sampai Minggu pukul 08.00-16.00 WIB. Khusus hari Jumat, jam operasional lebih singkat, yaitu pukul 08.00-11.30 WIB. Museum tutup setiap hari Senin dan hari libur nasional.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 1 Tahun 2025, tiket masuk museum saat ini dikenakan biaya, yaitu Rp3.000 untuk dewasa, Rp2.000 untuk anak-anak, Rp10.000 untuk wisatawan asing, serta Rp2.000/orang untuk rombongan dengan minimal 50 orang. Untuk tarif kendaraannya sendiri mulai dari Rp5.000-Rp20.000.
Fasilitas di dalam museum cukup lengkap. Tersedia mushola, toilet, ruang laktasi, theater, serta POCADI. Di area luar gedung, pengunjung dapat menemukan kafe dan Galeri Dekranasda Kabupaten Bekasi yang menjual produk kerajinan lokal.
Sejak dibuka, Museum Gedung Juang 45 terus menarik banyak pengunjung, mulai dari rombongan sekolah pada hari kerja hingga mahasiswa dan keluarga di akhir pekan. Lebih dari sekadar tempat wisata, museum ini menjadi pengingat bahwa sejarah perjuangan tidak hanya hidup di buku pelajaran.
Jadi, saat berkunjung ke Bekasi, sempatkanlah mampir dan temukan kembali kisah perjuangan yang pernah terlupakan.
Referensi:
1. Anggraini, N. P., Mustika, L., Mumtaz, A., & Gunawan, J. (2026). Perubahan Pola Perilaku Pengguna Museum Gedung Juang 45 Tambun Kab. Bekasi. SAINSTECH: Jurnal Penelitian dan Pengkajian Sains dan Teknologi, 36(1), 48–56.
2. Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota Bekasi. (2004). Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Bekasi. Bekasi: In Media.
3. Pemerintah Kabupaten Bekasi. (2025). Peraturan Daerah Kabupaten Bekasi Nomor 1 Tahun 2025 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2023 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah. Lembaran Daerah Kabupaten Bekasi Tahun 2025 Nomor 1.
4. Untari, R., Indahsari, S., Dewi, H., & Mulyana, B. (2023). Perencanaan Penyusunan Materi Pemanduan Wisata dengan Pemanfaatan Teknologi Digital di Museum Gedung Juang Bekasi. SEMESTA, 3(1), 27–33.

