Konten dari Pengguna

Takut Bertanya kepada Dosen, Nyaman Bertanya kepada AI

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Airin De Silva tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI: Mahasiswa memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai pendukung proses belajar di ruang kelas.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI: Mahasiswa memanfaatkan kecerdasan buatan sebagai pendukung proses belajar di ruang kelas.

Saya duduk di kelas sambil melihat layar yang dipenuhi teori. Dosen sudah bicara cukup panjang tapi ada bagian yang masih membingungkan. Rasanya ingin angkat tangan dan bertanya sebenarnya Keraguan itu selalu muncul entah kenapa. Mungkin pertanyaan saya akan kelihatan terlalu sederhana. Atau teman teman mengira saya tidak paham hal yang seharusnya sudah jelas. Jadi saya diam saja.

Beberapa menit setelah perkuliahan selesai, saya membuka laptop dan mengetik pertanyaan yang sama ke ChatGPT. Dalam hitungan detik, saya mendapatkan penjelasan yang lebih sederhana dengan contoh yang mudah dipahami. Saat itu, saya mulai menyadari bahwa saya bukan satu-satunya mahasiswa yang melakukan hal ini. Banyak teman saya ternyata memiliki kebiasaan yang sama. Kami lebih sering bertanya kepada AI daripada kepada dosen.

Fenomena ini membuat saya merenung. Apakah kami benar-benar lebih percaya pada AI? Atau ada alasan yang membuat kami lebih nyaman bertanya kepada teknologi daripada kepada manusia?

Kehadiran kecerdasan buatan, khususnya generatif AI seperti ChatGPT, telah mengubah cara saya belajar. Dulu, saya harus membuka banyak buku atau menunggu jadwal konsultasi dengan dosen saat mengalami kesulitan memahami materi. Sekarang, saya hanya perlu mengetik pertanyaan. AI dapat memberikan jawaban kapan saja. Ia juga bisa menjelaskan ulang dengan bahasa yang lebih sederhana dan menyesuaikan tingkat kesulitan sesuai dengan kebutuhan saya.

Kemudahan tersebut tentu sangat membantu. Namun, saya juga teringat pada pernyataan UNESCO 2023 bahwa "Artificial intelligence should enhance, not replace, human agency in education." Bagi saya, kutipan ini mengingatkan bahwa AI hadir untuk mendukung proses belajar, bukan mengambil alih peran manusia dalam berpikir, berdiskusi, dan membuat keputusan. Sebagai mahasiswa, saya tetap memiliki tanggung jawab untuk menilai apakah informasi yang saya terima benar atau tidak.

Mengapa Saya Lebih Nyaman Bertanya kepada AI?

Setelah saya berpikir, sebenarnya pengampunannya bukan karena dosen tidak bisa menjelaskan materi. Saya sangat mengapresiasi pengalaman, wawasan dan ilmu yang dimiliki para dosen. Itu sebagian besar karena kesalahanku sendiri.

Saya sering merasa takut jika pertanyaan saya dianggap terlalu mudah atau bahkan "bodoh". Dalam suasana kelas yang penuh dengan siswa, rasa percaya diri terkadang menurun. Saya khawatir menjadi pusat perhatian jika ada pertanyaan yang menurut saya tidak penting bagi orang lain.

Ternyata bukan hanya saya saja yang merasakan hal ini. Pengalaman yang hampir sama saya lihat dalam percakapan dengan beberapa mahasiswa dari berbagai bidang studi.

Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris semester empat mengatakan bahwa ketika tidak memahami materi kuliah, ia hampir selalu membuka ChatGPT terlebih dahulu. Menurutnya, AI mampu menjelaskan materi menggunakan bahasa yang lebih sederhana, dan jika masih belum memahami, ia dapat meminta penjelasan ulang sebanyak yang dibutuhkan tanpa merasa malu.

Mahasiswa lain dari Fakultas Ekonomi juga mengatakan bahwa AI tampak jauh lebih praktis. Ia tidak dapat menghubungi dosennya saat mengerjakan tugas di malam hari. AI selalu tersedia 24 jam sehari sehingga dapat membantu menjelaskan materi, membuat ringkasan, dan memberikan contoh pertanyaan secara langsung.

Hal yang paling menarik adalah ketika salah satu mahasiswa mengatakan bahwa AI tidak pernah membuatnya merasa bodoh. Ia bisa mengulang pertanyaan berkali-kali tanpa takut dihakimi. Kata-kata itu membuat saya menyadari bahwa kenyamanan mental adalah salah satu alasan terbesar mengapa mahasiswa semakin banyak menggunakan AI untuk mengajukan pertanyaan.

AI Mengubah Cara Saya Belajar

Saya tidak dapat menyangkal bahwa AI memberikan banyak manfaat dalam proses belajar. Ketika saya membaca jurnal berbahasa Inggris yang sulit, saya sering meminta AI untuk menjelaskan isi artikel dalam bahasa yang lebih sederhana. AI membantu memberikan ilustrasi ketika mempelajari teori linguistik yang cukup kompleks, sehingga konsepnya lebih mudah dipahami.

AI juga membantu saya dalam membuat kerangka tulisan, mencari ide penelitian, merangkum materi kuliah, hingga memberikan contoh struktur akademik. Semuanya bisa dilakukan dalam hitungan detik.

Pengalaman saya ternyata sejalan dengan penelitian global yang dilakukan Chan dan Hu (2025). Mereka menemukan bahwa "Students primarily use ChatGPT to generate ideas, summarize readings, explain concepts, and support academic writing." Membaca hasil penelitian itu, saya merasa pengalaman saya sebagai mahasiswa tidak jauh berbeda. Saya menggunakan AI tidak hanya untuk mencari jawaban tetapi juga untuk memahami konsep-konsep sulit dan membantu mengatur pikiran saya sebelum mulai menulis.

Sebagai mahasiswa, efisiensi semacam ini tentu merupakan nilai tambah. Saya dapat menghemat waktu belajar, tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari informasi secara manual dari berbagai sumber.

Namun semakin sering saya menggunakan AI, semakin saya menyadari bahwa kemudahan juga bisa menjadi jebakan. Saya pernah mendapatkan jawaban AI yang tidak seakurat jurnal ilmiah ketika saya membandingkannya. Pengalaman itu mengajarkan bahwa AI bukanlah sumber kebenaran mutlak.

UNESCO (2023) juga menegaskan kembali bahwa “Berpikir kritis tetap merupakan kemampuan unik manusia yang harus diperkuat bersamaan dengan penggunaan AI.” Kutipan ini membuat saya menyadari bahwa kita tidak boleh kehilangan kemampuan berpikir kritis hanya karena kecerdasan buatan dapat memberikan jawaban dengan cepat. Saya masih perlu membaca sumber aslinya, memeriksa informasinya, dan membentuk pemahaman saya sendiri.

AI Menggantikan Dosen?

Tidak, saya rasa tidak.

Sebagai mahasiswa, saya berpendapat bahwa AI dan dosen memiliki peran yang berbeda.

AI itu beneran ngebantu banget pas saya perlu penjelasan cepat, contoh yang simpel, atau semacam ringkasan materi, tapi ya ketika saya pengin diskusi yang lebih dalam, semacam mengkritik argumen saya sendiri, atau minta masukan soal penelitian yang lagi saya kerjakan, saya tetap butuh dosen.

Pernyataan UNESCO (2023) yang bilang “AI can provide information, but educators provide wisdom, judgment, and human connection” menurut saya itu sangat pas, karena menggambarkan situasi sekarang, secara langsung. AI memang bisa ngasih informasi dalam hitungan detik, sedangkan dosen yang ngajarin cara berpikir, memberi pengalaman, dan membangun hubungan akademik yang rasanya nggak bisa ditukar begitu saja oleh mesin.

Saya berpendapat bahwa mutu pembelajaran di perguruan tinggi itu tidak cuma ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang mahasiswa dapatkan. Tapi juga, by the way, ditentukan oleh proses dialog yang terjadi selama kegiatan belajar berlangsung, entah di kelas atau di luar kelas.

Tantangan bagi Mahasiswa dan Dosen

Fenomena makin banyaknya mahasiswa yang bertanya pada AI menurut saya tidak harus langsung dilihat sebagai ancaman. Lebih tepatnya, ini semacam pengingat bahwa proses pembelajaran perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, bukan malah ditolak begitu saja.

Sebagai mahasiswa, saya merasa saya punya tanggung jawab buat memakai AI secara bijak. AI jangan dijadikan “jalan pintas” yang mengerjakan semua tugas sekaligus. Saya tetap perlu membaca buku sampai paham, memahami jurnal ilmiah, berdiskusi dengan dosen, dan juga melatih cara berpikir kritis. Kalau tidak begitu, pemahaman bisa terasa cuma permukaan.

Di sisi lain, saya berharap ruang kelas itu bisa dibuat jadi lebih nyaman, untuk mahasiswa supaya mereka berani bertanya. Tidak semua orang punya keberanian yang sama ketika harus bicara di depan banyak orang, dan kadang ada yang lebih nyaman menyampaikan lewat pertanyaan pelan-pelan. Lingkungan belajar yang terbuka, lalu menghargai setiap pertanyaan dengan cara yang wajar, akan membantu mengurangi rasa takut itu.

Refleksi Saya sebagai Mahasiswa

Semakin sering saya pakai AI, semakin saya ngerasa kalau teknologi itu ya cuma alat bantu . AI memang bisa ngasih jawaban cepat, tapi tidak semua jawaban itu mampu beneran membentuk cara berpikir saya

Saya malah jadi belajar paling banyak pas diskusi dengan dosen, dengar cerita-cerita pengalaman mereka, menerima kritik untuk tulisan saya, atau ngobrol dengan teman-teman di kelas. Hal itu nggak bisa diganti, atau disamakan begitu saja, dengan obrolan bersama mesin

Jadi sekarang saya nggak lagi melihat AI itu sebagai pengganti dosen. Lebih tepatnya saya lihat AI sebagai “teman belajar” yang bisa bantu saya bersiap diri sebelum berdiskusi dengan dosen. Dengan model begini, saya lebih siap, dan bisa mengajukan pertanyaan yang lebih tajam, lalu dapat pemahaman yang lebih dalam juga

Saya keingat lagi pada pesan UNESCO (2023), "The future of education is not AI versus humans, but AI with humans." Menurut saya, ini semacam gambaran pendidikan yang ideal. AI dan dosen itu bukan dua kubu yang mesti dipertentangkan, melainkan dua cara belajar yang saling melengkapi juga

Pada akhirnya, saya yakin tantangan terbesar mahasiswa di zaman kecerdasan buatan bukan urusan milih AI atau dosen. Tantangannya justru gimana caranya memanfaatkan teknologi secara bijak, tanpa kehilangan keberanian untuk berpikir kritis, bertanya, berdialog, dan belajar dari manusia. AI bisa bantu saya cari informasi dengan cepat, tapi keberanian buat angkat tangan di kelas dan diskusi langsung, itu tetap penting banget sebagai bagian dari proses saya bertumbuh sebagai seorang mahasiswa.