Perjalanan Memaknai Fase "Sendiri" Lewat Buku Kelana

Content Writer berlatar belakang Sastra Indonesia Universitas Pamulang. Hidup dengan menulis di media massa dan media sosial.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Aisah Imaydah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sendiri tidak langsung membuat diri jadi menyedihkan atau malang. Toh, sebagian besar hidup memang harus dilewati sendirian. Lewat Kelana, buku self-improvement karya Wangsa Loka, menyadarkan kita pentingnya memperhatikan dan menata diri. Terkadang, menepi dari keramaian adalah cara terbaik untuk menghargai waktu sendiri. Tanpa harus mementingkan pandangan orang lain, yang utama tetaplah dirimu sendiri.
Membaca Kelana: ketika sendiri juga bagian dari menata diri seperti mengintip buku harian. Berbeda dengan novel fiksi yang mengajak kita berimajinasi menjadi tokoh utama, membaca buku Kelana Wangsa Loka ini rasanya seperti diajak menyusuri pengalaman hidup penulis. Menariknya, buku ini tidak hanya sekedar kata-kata motivasi, tapi juga cerita perjalanan menempuh negara India, Pakistan, dan Nepal dengan keindahan alamnya. Storytelling yang mirip buku fiksi bikin pembaca betah menyelesaikan lembaran demi lembaran.
Perjalanan selalu memberikan pelajaran yang dibutuhkan dalam hidup. Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orang yang berbeda untuk menyadarkan bahwa hidup pasti berjalan ke depan. Masa lalu biarlah menjadi pelajaran demi memperbaiki diri dalam arti lebih baik. Lepaskan keterikatan dari belenggu masa lalu yang menahan diri untuk melangkah pasti menuju mimpi.
Kelana cuma buku nonfiksi yang bisa bikin kita sadar bahwa hidup bukan hanya tentang hubungan kita dengan manusia lain, tapi juga dengan jiwa. Sering disalahkan atas apa yang dialami diri, bahkan di luar keinginannya. Bukan hanya harus mengetahui, kamu juga harus memahami bahwa jiwa juga butuh perhatian. Maafkan semua keputusan yang pernah disesali. Hiduplah untuk seluruh bagian dirimu, untuk jiwa juga ragamu. Sungguh klise, sampai banyak orang yang tidak menyadari hingga abai pada diri sendiri.
Mungkin, dari perpisahan yang terjadi dalam hidup akan membawa kita menuju pertemuan lain, seperti siklus. Terus berputar, kembali pada titik yang sama dengan pengalaman berbeda sampai kita bisa menguasainya. Terbiasa bukan berarti menolak rasa, tapi tetap bahagia, kecewa, marah, sedih sesuai porsinya. Kelak di perjalanan masa depan, masih banyak perasaan yang datang silih berganti.
Ada fase saat sendiri agar kamu bisa mengenali sisi lain diri tanpa bergantung pada orang lain. Cerita perjalanan Kelana memberikan sudut pandang berbeda tentang hidup, manusia dan segala perubahan yang terjadi. Buku setebal 216 halaman ini penuh dengan kalimat-kalimat healing dan relate. Cocok dibaca untuk kamu, generasi yang sibuk menempuh quarter-life crisis.
