Program Magang untuk Support Karier dan Cara Mempersiapkannya!

Content Writer berlatar belakang Sastra Indonesia Universitas Pamulang. Hidup dengan menulis di media massa dan media sosial.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aisah Imaydah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak yang berlomba-lomba berburu lowongan magang saat sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir, bahkan fresh graduate. Padahal, kamu tidak perlu menunggu sampai pakai toga karena sejak menginjak semester 5, pintu magang biasanya sudah terbuka lebar. Gak jarang perusahaan membuka program magang dengan periode minimal 3 bulan.
Buat kamu yang punya status mahasiswa aktif, program ini bisa dikonversi menjadi SKS kuliah. Jadi, kamu bisa menukar waktu belajar teori di kelas dengan praktik langsung di lapangan. Tapi apa bener kalau pengalaman magang bisa jadi batu loncatan biar karier kita mulus kayak jalan tol?
Faktanya, pengalaman magang bisa memberikan nilai tambah, tapi bukan satu-satunya penentu kesuksesan karier. Punya pengalaman magang di perusahaan ternama memang bisa bikin tim recruitment melirik CV kamu. Namun, buat kamu yang belum sempat magang, jangan berkecil hati dulu. Pengalaman mengerjakan proyek kuliah, aktif di organisasi kampus, atau mengikuti course, bootcamp dan sertifikasi juga punya daya tawar yang tinggi asalkan relevan dengan kriteria posisi yang kamu lamar.
Saat pertama kali mulai magang, kamu juga gak usah takut bakal langsung dilepas sendirian kayak anak ayam kehilangan induknya. Sebagai anak magang yang berada di entry-level, biasanya kamu akan didampingi oleh seorang mentor atau penanggung jawab. Kalau kamu punya inisiatif tinggi, rajin bertanya, dan menunjukkan kinerja yang memuaskan, perusahaan bisa memperpanjang kontrak kerjamu. Bahkan, banyak banget kasus anak magang yang langsung diangkat jadi karyawan tetap setelah mereka lulus kuliah.
Biar kamu makin siap bersaing dan gak kalah start dengan kandidat lain, ada beberapa hal yang wajib kamu siapkan dari sekarang. Mulai dari berkas pendukung sampai latihan wawancara. Bisa dibilang, Curriculum Vitae (CV) itu "nyawa" sekaligus kesan pertama kamu di hadapan rekruter. Sama kayak pas mau kenalan sama gebetan baru, kamu pasti mau nunjukin versi terbaik, kan? Kamu harus bikin CV magang yang menjual biar bisa dilirik rekruter.
Penting juga untuk menulis CV dengan format ATS-friendly agar lebih mudah dibaca oleh sistem komputer perusahaan besar. Foto juga harus formal dengan latar berwarna polos, seperti abu-abu muda. Jangan pake foto selfie dengan filter estetik atau foto liburan di CV kamu, ya! Selain itu, kamu bisa menambahkan portofolio sebagai bukti nyata dari pernyataan kamu di CV. Meskipun beberapa lowongan tidak menjadikan syarat khusus, melampirkan portofolio bisa menjadi senjata rahasia kamu untuk memasuki tahap selanjutnya.
Tahap interview atau wawancara biasanya menjadi penentu apakah kamu bakal lolos magang atau tidak. Biar gak gugup atau blank, coba latihan jawab pertanyaan yang sering diajukan rekruter di depan cermin. Ini bisa melatih intonasi dan membuat artikulasimu lebih jelas saat berbicara. Setelah semua persiapan di atas sudah kamu lakukan secara maksimal, langkah terakhir tinggal bawa dalam doa dan berserah diri kepada Tuhan.
