Semua Kehidupan Bernilai, Pesan di Balik Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Content Writer berlatar belakang Sastra Indonesia Universitas Pamulang. Hidup dengan menulis di media massa dan media sosial.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aisah Imaydah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu novel populer Brian Khrisna keluaran tahun 2025 bikin pembaca merasakan sedihnya jadi Ale, tokoh sentral yang ingin mengakhiri hidupnya. That’s why kita tidak boleh judge dan jahat terlebih ke orang yang tidak cukup kita kenal. We don’t know what they feel every single day. Di rumah, Ale jadi tulang punggung keluarga yang harus menafkahi ibunya. Meski demikian, apa yang Ale berikan masih belum mencukupi kebutuhan ibunya di kampung. Ale yang sudah lelah dengan perannya sebagai anak, mengalihkan dirinya pada peran lain. Bekerja sebagai pegawai kantoran tidak membuat hidup Ale lebih mudah, bahkan sebaliknya. Tidak good looking jadi salah satu orang memperlakukan Ale selayaknya manusia transparan. Sering dicuekin teman sekantor sampai merasa depresi, Ale mulai berpikir mengakhiri hidup.
Bagi Ale, kemewahan bukanlah bisa membeli yang diinginkan tetapi ketika dihargai meskipun tak menginginkannya. Sederhana, tapi tidak semua orang merasakan, diperlakukan baik tanpa memandang fisik. Insecure sudah pasti, Ale lelah dengan segala peran di hidupnya. Keputusan mengakhiri hidup sudah bulat. Kerjaan kantor mulai diabaikan dan tidak peduli kamar kosan berantakan. Sebelum mengakhiri hidup, Ale ingin merasakan kenikmatan mie ayam pinggir jalan agar tidak menyesal. Namun, tidak semua rencana hidup berjalan sesuai keinginan manusia. Tidak ada lapak mie ayam langganan, kosong. Semua bermula dari kekosongan seporsi mie ayam.
Untuk pertama kalinya, Ale merasa berguna untuk orang lain. Penjual mie ayam langganannya meninggal dan Ale membantu prosesi pemakaman hingga akhir. Hidup memang selalu tidak terduga. Di pagi hari sudah bersiap untuk mati, tapi siang hari sudah mengurusi kematian orang lain. Takdir yang sangat kontras.
Sepertinya belum masanya Ale minggat dari dunia, kesempatan untuk bunuh diri hilang begitu saja ketika terlibat narkoba. Hari apes juga tidak ada di kalender. Ale ditangkap sebagai buronan pengedar narkoba padahal cuma mau beli makan. Kehidupan di penjara bikin Ale mikir mau mati tapi bukan di sini. Lagi-lagi muncul alasan menunda kematian karena tempatnya tidak cocok. Berkenalan dengan Murad, ketua preman terkuat di pinggir kampung, bikin Ale tau sisi lain kehidupan yang gelap. Merasa terancam, Ale menyetujui ajakan yang terasa seperti paksaan untuk jadi anak buah Murad dengan nama Blek. Identitas Ale berubah sesuai nama barunya, Blek lebih terhormat dan punya kekuasaan mengatur preman lain. Menyedihkan ketika merasa dihargai bukan di tempat yang bagus melainkan di tempat terendah Jakarta.
Ale bukan orang yang beruntung, Ale hanya orang baik yang tidak memandang buruk orang lain. Dari sekotak kue bolu ulang tahun Ale yang tidak dihiraukan teman kantornya bisa jadi kue bolu ulang tahun yang berharga untuk anak karyawan kebersihan. Berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan. Tuhan membalasnya dengan mempertemukan Ale dengan orang yang memanusiakan manusia. Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati memberikan pesan bahwa melanjutkan hidup bukan berarti hanya bernafas dan tetap berdetak tapi juga berinteraksi kepada sesama dengan layak. Semua kehidupan itu bernilai tanpa harus membandingkan.
