Konten dari Pengguna

Tantangan Pendidikan dalam Menghadapi Bonus Demografi

Syarifah Camelia Faridah

Syarifah Camelia Faridah

KEPALA SMAN 2 TANA TIDUNG, KALIMANTAN UTARA

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarifah Camelia Faridah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Foto: Mengajar teknik perbanyakan tanaman hias secara vegetatif kepada siswa. Koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Foto: Mengajar teknik perbanyakan tanaman hias secara vegetatif kepada siswa. Koleksi pribadi

Bonus Demografi, istilah ini pertama kali disampaikan oleh Menko Perekonomian Hatta Radjasa pada Rapat Pimpinan Nasional Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Makassar pada tahun 2012. Menjadi isu strategis di dunia pendidikan karena sangat hubungannya dengan peran pendidik dalam mempersiapkan mutu generasi muda dalam rangka menghadapi Era Bonus Demografi.

Menurut siaran pers Bappenas (2017), pada 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diprediksi mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Agar Indonesia dapat memetik manfaat maksimal dari bonus demografi, ketersediaan sumber daya manusia usia produktif yang melimpah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dari sisi pendidikan dan keterampilan, termasuk kaitannya dalam menghadapi keterbukaan pasar tenaga kerja.

Indonesia diperkirakan mengalami puncak bonus demografi 2040. Menjelang 20 tahun itu, Indonesia perlu mempersiapkan diri dengan kehadiran banyaknya lapangan kerja. Pasalnya pada puncaknya itu, usia produktif di Indonesia bakal berlimpah.

Bonus demografi merupakan keadaan yang sangat menguntungkan sekaligus meresahkan bagi bangsa ini. Terjadi hanya sekali dalam perjalanan suatu negara dan sangat menguntungkan dari segi produktifitas akan tetapi meresahkan jika generasi usia produktif yang melimpah ini tidak dikelola dengan baik. Dibutuhkan keinginan yang kuat dari semua pihak terutama para guru dan kepala sekolah.

Tanggung jawab dunia pendidikan tentu saja sangat menentukan keberhasilan Indonesia dalam mengisi masa bonus demografi. Mempersiapkan generasi muda yang memiliki keterampilan 4 C yaitu Creativity (kreatifitas), Critical Thinking and Problem Solving (berpikir kritis dan penyelesaian masalah), Collaboration (kolaborasi) dan Communication (komunikasi) adalah kewajiban setiap satuan pendidikan.

Disparitas mutu pendidikan di kota dan di desa

Bagi penulis yang merupakan seorang guru yang menghabiskan hampir seluruh masa pengabdian di daerah terpencil di Provinsi Kalimantan Utara, disparitas mutu pendidikan antara satuan pendidikan di kota dan di desa sangatlah besar. Dibutuhkan usaha yang lebih besar untuk mengurangi kesenjangan tersebut.

Permasalahan yang sering timbul adalah terbatasnya jenis satuan pendidikan menengah di desa sehingga siswa tidak dapat memilih sekolah yang mereka inginkan. Sebagai contoh, siswa tidak bisa memilih sekolah kejuruan karena rata-rata sekolah kejuruan berada di kota. Untuk bersekolah di kota sudah barang tentu akan memberatkan perekonomian keluarga, sehingga siswa hanya pasrah bersekolah di sekolah menengah yang tidak mereka inginkan. Berangkat ke sekolah hanya sebagai syarat agar tidak menganggur dan mendapatkan ijazah untuk bekerja.

Kesadaran bahwa kepala sekolah selaku manajer harus dapat memastikan bahwa visi dan misi sekolah sejalan dengan standar kompetensi lulusan yang diharapkan membuat kami harus terus berbenah. Untuk mempersiapkan lulusan yang dapat berdaya saing dengan lulusan di kota, SMAN 2 Tana Tidung tengah menjalankan beberapa program yang diharapkan mampu membentuk karakter siswa dan dapat menjadi bekal pengalaman setelah lulus nanti.

Program peningkatan kualitas siswa

Ada 8(delapan) program yang dikembangkan antara lain: program Sekolah SKS, program literasi sekolah, program kewirausahaan, program adiwiyata, program pengembangan seni budaya daerah, program pendidikan keluarga dan program sekolah ramah anak.

Baru ada 12 sekolah yang menjalankan Program Sekolah SKS (Sistem Kredit Semester) di Provinsi Kalimantan Utara. Program SKS ini diyakini mampu mengakomodir siswa dengan kemampuan akademik yang beragam, sehingga diharapkan siswa terlihat potensinya. Program SKS memungkinkan siswa menyelesaikan sekolahnya dalam waktu 2 sampai 4 tahun tergantung kemampuan akademiknya. Tidak ada sistem tidak naik kelas sehingga diharapkan psikologis siswa lebih terjaga dan meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) peserta didik.

Program literasi sekolah menjadi hal yang wajib di sekolah setelah melihat hasil tes PISA (Programme for International Student Assessment). Hasil studi PISA 2018 yang dirilis oleh OECD menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam membaca, meraih skor rata-rata yakni 371, dengan rata-rata skor OECD yakni 487 (Kemendikbud, 2019). Hal ini menjadikan hasil siswa Indonesia berada di bawah skor rata-rata dunia. Sehingga dengan adanya program literasi sekolah, siswa diharapkan memiliki keterampilan literasi yang meningkat dari sebelumnya. Output dari program ini adalah tulisan siswa, guru dan tenaga kependidikan yang dibukukan dan memiliki nomor ISBN.

Pada tahun 2019 pula, SMAN 2 Tana Tidung mendapatkan Bantuan Pemerintah bidang Kewirausahaan setelah melalui seleksi proposal yang cukup ketat. Tercatat 3 (tiga) sekolah di Provinsi Kalimantan Utara yang lolos mendapatkan bantuan ini. Program kewirausahaan membantu siswa dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan kemandirian serta kreativitasnya.

Para siswa tergabung dalam KUS (Kelompok Usaha Siswa) dengan mayoritas bidang usaha kuliner dengan sistem pemasaran offline maupun online. Untuk membantu KUS yang kesulitan modal maka Penanggung Jawab Program (PJP) Kewirausahaan meluncurkan program bantuan PUAS (Pinjaman Usaha Andalan Siswa) dengan cicilan yang lunak.

Program Adiwiyata diluncurkan untuk mewujudkan visi dan misi sekolah agar semua warga sekolah peduli terhadap lingkungan. Selain itu kegiatan utama di dalam program ini adalah menumbuhkan kebiasaan baik seperti zero waste sampai pendidikan kecakapan hidup yang mencakup pelatihan hidroponik, pelatihan pembuatan pupuk organik dan pembuatan media tanam, serta teknik perbanyak tanaman secara vegetatif.

Program pengembangan seni budaya daerah merupakan implementasi dari Program Kemdikbud yaitu GSMS (Gerakan Seniman Masuk Sekolah) dimana tahun 2020 yang lalu SMAN 2 Tana Tidung mendapatkan bantuan kegiatan dan bantuan alat kesenian tradisional daerah. Melihat antusiasme siswa dalam mengikuti program ini, penulis optimis sekolah dapat memberikan satu lagi keterampilan yang dapat meningkatkan kompetensi siswa pada khususnya dan membantu pelestarian seni budaya daerah pada umumnya.

Program Sekolah Ramah Anak (SRA) dan Program Pendidikan Keluarga diharapkan mampu menghadirkan wajah sekolah yang nyaman dan sehat bagi peserta didik serta mampu merangkul orang tua peserta didik menjadi lebih peduli dan terlibat dalam pendidikan dan kegiatan siswa di sekolah. Keterlibatan orang tua dalam kegiatan di sekolah diharapkan meningkat dengan dibentuknya paguyuban orang tua kelas yang nantinya menyelenggarakan kelas motivasi bagi siswa, kelas parenting bagi orang tua siswa serta menyelenggarakan pameran kreatifitas siswa di akhir tahun sebagai program kerja utama paguyuban orang tua kelas.