Konten dari Pengguna

Underconsumption Core: Ketika Generasi Muda Lelah Pamer

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisha Nisrina Nurfaza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita menyadari bahwa stereotip tentang anak muda hari ini perlahan mulai bergeser ke arah yang jauh lebih sehat?

Jika dulu narasi tentang anak muda identik dengan gaya hidup konsumtif yang merugikan seperti menghabiskan malam di klub, budaya boros (flexing), hingga terjebak dalam toxic relationship, hari ini kita melihat pemandangan yang berkebalikan. Generasi muda justru mulai membawa kebudayaan baru yang lebih berkualitas. Mereka beralih ke tren jalan kaki, mendaki gunung, membawa tumbler air putih ke mana-mana, memilih kopi ketimbang minuman keras, serta mengalokasikan waktu dan energinya untuk mengejar hobi serta impian.

Sekelompok anak muda berolahraga di luar ruangan, mencerminkan gaya hidup sehat yang mencerminkan budaya Underconsumption Core. (Foto: Unplash/Gabin Vallet)
zoom-in-whitePerbesar
Sekelompok anak muda berolahraga di luar ruangan, mencerminkan gaya hidup sehat yang mencerminkan budaya Underconsumption Core. (Foto: Unplash/Gabin Vallet)

Lantas, apakah tren ini terjadi begitu saja seiring perkembangan zaman, atau ada faktor struktural yang mendorongnya?”

Mengenal Underconsumption Core dan Pergeseran Nilai

Dalam istilah digital masa kini, fenomena ini dikenal sebagai "Underconsumption Core". Ini adalah sebuah gerakan komunal di mana seseorang secara sadar memilih untuk mengurangi konsumsi barang yang berlebihan baik dalam hal belanja pakaian, gaya hidup, hingga penggunaan teknologi. Dibanding membeli barang demi gengsi, mereka hanya berinvestasi pada barang-barang yang benar-benar memberikan fungsi dan manfaat jangka panjang (benefit-oriented).

Tren ini merupakan bentuk reaksi dari budaya overconsumption (konsumsi berlebihan) yang sempat menjadi ciri khas generasi digital. Kalau dulu orang berlomba-lomba menunjukkan apa yang mereka miliki, kini mulai banyak anak muda yang merasa lebih nyaman untuk tidak selalu membeli barang baru dan tidak perlu selalu terlihat “up to date” di mata orang lain.

Pergeseran tren ini bahkan telah diakui oleh pasar global. Laporan resmi dari industri fashion global, ThredUP, mencatat bahwa Gen Z dan Milenial muda kini menjadi penggerak utama pasar baju bekas (thrifting) dan gaya hidup hemat. Data tersebut membuktikan secara nyata bahwa generasi ini lebih memilih memaksimalkan fungsi barang yang sudah ada sebelum memutuskan untuk membelanjakan uang mereka kembali.

Kacamata Media: Menakar Tren Lewat Uses and Gratifications

Pergeseran budaya ini tentu tidak lepas dari peran media sosial. Saat ini, algoritma feed kita mulai dipenuhi oleh konten-konten dari para influencer yang membagikan tips hidup minimalis, budgeting, hingga rutinitas harian yang produktif.

Jika dibedah menggunakan kacamata komunikasi melalui Teori Uses and Gratifications, fenomena ini menjadi sangat masuk akal. Teori ini percaya bahwa audiens bukanlah makhluk pasif yang menelan mentah-mentah apa yang disajikan media, melainkan audiens aktif yang secara sadar memilih media dan konten untuk memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial mereka.

Aktivitas digital anak muda dalam memilih dan memilah informasi serta tren gaya hidup di layar ponsel. (Foto: Unplash/ John Tuesday)

Dalam konteks ini, generasi muda mengalami apa yang disebut FOMO Fatigue, yaitu kelelahan mental akibat terus-menerus disuapi ilusi kesempurnaan dan kemewahan di dunia digital. Sebagai audiens yang aktif, mereka sengaja memilah dan memilih konten gaya hidup hemat serta produktif untuk mendapatkan gratifikasi (gratifications) baru, yakni ketenangan mental, rasa aman secara finansial, dan validasi sosial bahwa hidup sederhana itu keren. Media sosial tidak lagi digunakan sebagai panggung pamer, melainkan ruang kolektif untuk saling menguatkan dalam kesederhanaan.

Tekanan Ekonomi Melahirkan Survival Mode yang Cerdas

Menariknya, perubahan perilaku ini bukan sekadar lahir karena idealisme anak muda yang mendadak ingin hidup sehat atau estetis. Ada faktor pendorong makro yang jauh lebih realistis di balik layar.

Generasi muda saat ini dipaksa hidup dan tumbuh di tengah tantangan ekonomi yang luar biasa berat. Bayang-bayang inflasi yang tinggi, ketatnya persaingan mencari lapangan kerja, hingga ketidakpastian situasi global memicu kecemasan kolektif, yaitu ketakutan akan kemiskinan atau kesulitan finansial di masa depan.

Kondisi inilah yang memaksa anak muda untuk mengaktifkan "Survival Mode" mereka. Namun hebatnya, alih-alih meratapi keadaan, mereka mengemas mekanisme bertahan hidup ini dengan cara yang cerdas dan keren di media sosial melalui estetika underconsumption core. Hidup hemat tidak lagi dipandang sebagai tanda "tidak mampu", melainkan simbol dari kecerdasan finansial, kepedulian pada keberlanjutan (sustainability), dan keberanian melawan tekanan sosial budaya pamer.

Pada akhirnya, underconsumption core bukanlah tren musiman yang akan hilang dalam hitungan bulan. Fenomena ini adalah fondasi awal dari budaya digital baru yang jauh lebih sehat, baik bagi kesehatan mental maupun bagi dompet anak muda. Generasi ini sedang membuktikan bahwa untuk menjadi keren dan berharga, mereka tidak perlu didikte oleh keranjang belanjaan algoritma.