Ibu, Bertahan Lebih Lama Lagi

Aisha okta viadini
Mahasiswi semester 4 di Politeknik Negeri Jakarta dengan mengambil konsentrasi pada bidang Jurnalistik. Memiliki kemampuan komunikasi dan mempelajari hal baru.
Konten dari Pengguna
11 Juni 2024 15:48 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Aisha okta viadini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi ibu memeluk anak. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu memeluk anak. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Ibu merupakan sosok yang menjadi contoh bagi anak-anak dengan segala pengorbanan yang ia lakukan. Tapi pernahkah terlintas di kepalamu jika tidak ada ibu di dunia? Rasanya hampa, tidak ada yang menemani masa kecilku, semua kehidupanku dilakukan bersama ibu.
ADVERTISEMENT
Ibu selalu kuingat dalam memoriku. Seketika aku teringat ketika ibu melahirkanku. Ia harus berjuang dengan rasa sakit yang ia rasakan demi bertemu sang putri kecilnya.
Ketika ia melihat sang putri kecilnya lahir ke dunia, dengan wajah sedih sekaligus terharu ia pun langsung memeluk putri kecilnya dengan peluk yang hangat darinya.
Pelukan yang semua orang dapatkan, pelukan itu berbeda dari orang lain. Memiliki makna tersendiri bagi setiap orang yang mendapatkannya. Pelukan itu yang selalu kuingat hingga saat ini.
Seiring bertambah usiaku, ibu selalu mengajarkanku dari berjalan hingga mengenal abjad. Ia tak pernah kenal lelah, mengajarkan anaknya yang semakin bertambah usianya untuk mengenal dunia lebih jauh.
Ketika itu, aku masih digendong olehnya. Bertemu seseorang pun aku takut dan selalu menangis karena ingin selalu bersama ibu. Hingga orang lain melihat aku sebagai anak yang sangat manja.
ADVERTISEMENT
Menginjak usia balita, ibu menuntunku untuk jauh lebih mengenal dunia. Pada saat itu, ibu menyekolahkanku di salah satu taman kanak-kanak. Dulu, ketika ingin diantarkan sekolah, aku selalu menolak.
Bagaimana tidak, seorang anak kecil pasti ingin selalu menghabiskan waktunya dengan menonton kartun favoritnya. Tetapi perlahan aku mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.
Ibu menemaniku hingga selesai jam sekolah. Namun, ketika aku sedang bermain ayunan, aku terjatuh, “brak,” terdengar tubuhku yang sudah tergeletak di tanah dengan luka di bibir.
Alhasil, ibu langsung bergegas untuk melihat keadaan anaknya. Maklum saja, seorang anak kecil yang tidak bisa diam, berlarian ke sana ke mari bersama teman-temannya.
Setelah selesai belajar di taman kanak-kanak tersebut, aku dan ibu langsung diantarkan ojek langganannya menuju rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung membersihkan badanku dan makan.
ADVERTISEMENT
Ibu selalu mengingatkanku pulang ketika sudah jam makan siang, karena menurutnya terlalu berlama-lama bermain di rumah orang tidak sopan dan mengganggu istirahatnya.
Masa kecil yang aku selalu rindukan, sesekali mengingat dulu aku ternyata tidak bisa diam. Lari-larian ke sana ke mari, tak bisa diam di rumah. Begitulah anak kecil ingin mengetahui lingkungan sekitar.
Masuk ke Sekolah Dasar Islam, ibu dan ayah mengantarkanku untuk hari pertama masuk sekolah. Suasana yang terasa berbeda karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru.
Saat menuju ruang kelas, aku melihat banyak anak-anak seusiaku. Mereka menangis tidak mau masuk ke kelas. Apa mungkin semua anak kecil takut terhadap lingkungan baru?
Aku pun mulai masuk ke dalam kelas dan berkenalan. Di sana bertemu dengan wali kelasku. Beliau memiliki sifat lembut dalam mengajar.
ADVERTISEMENT
Sehingga aku merasakan kenyamanan yang ada di lingkungan itu. Ternyata sama saja, sifat anak seusiaku masih terbawa hingga duduk di bangku sekolah dasar.
Tepat pukul 15.00, bel sekolah pun berbunyi. Seluruh siswa dan siswi mempersiapkan diri untuk segera pulang. Hari ini sangat melelahkan, terlebih lagi untuk anak seusiaku.
Sesampainya di rumah, ibu pun menanyakan bagaimana hari pertama sekolah. Aku pun menjawab, “Baik, Ibu.” Ibu melihat keadaan anaknya yang lelah, langsung mengambil minum.
Ibu pun berpesan bahwa memang melelahkan beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, begitulah kehidupan, kita harus bisa menerima apa yang terjadi.
Setelah itu, tahun pun berganti, usia ibu semakin bertambah. Aku takut ibu meninggalkanku. Mau bagaimanapun keadaannya, aku tetap butuh ibu.
ADVERTISEMENT
Menginjak usia berkepala dua, aku merasa dunia ini sangat keras. Menjadi dewasa tidak semudah yang dibayangkan, banyaknya tantangan yang harus dihadapi.
Kadang kala menjadi orang dewasa bukanlah suatu pilihan, karena setiap orang harus melewati masa ini untuk melanjutkan hidupnya demi menggapai mimpi.
Hingga saat ini, perjuangan di balik ujian yang aku dapatkan, ibu menjadi orang paling berperan. Karena segala sesuatu yang aku lakukan, ibu pun mengetahuinya.
Seperti makna lagu yang berjudul “Beranjak Dewasa,” sebuah lagu yang berisikan mengenai perjuangan seorang dalam proses pendewasaan bersama sang ibu.
Setiap malam, aku memikirkan bagaimana ke depannya jika tidak ada ibu. Aku yang selalu menangis karena memikirkan itu, hingga setiap hari ketakutan pun datang kepadaku.
ADVERTISEMENT
Aku selalu berdoa dalam setiap sujudku, ibu dan ayah memiliki usia yang panjang. Jangan pergi sebelum aku sukses. Mereka harus melihatku bekerja di perusahaan impianku.