Konten dari Pengguna

Menjaga Budaya di Tengah Arus Pariwisata: Peran yang Dimulai dari Bangku Kuliah

Aisha Seriritta

Aisha Seriritta

Mahasiswi S1 Pariwisata UGM

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisha Seriritta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak hanya tentang estetika, dibalik pariwisata terdapat budaya yang perlu dijaga.

Sumber: dokumentasi pribadi penulis, pertunjukan Tari Kecak 2017.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: dokumentasi pribadi penulis, pertunjukan Tari Kecak 2017.

Sudah pernah melihat atau mendengar tentang Tarian Kecak asal Bali? Pertunjukan tari tradisional ini menjadi salah satu daya tarik yang diminati di Indonesia. Berbagai elemen dalam pertunjukan seperti sorotan lampu, kompaknya para penari dalam setiap “cak”, dan tepukan tangan para penonton yang ikut menyertai esensi pertunjukan. Namun, dibalik semua itu, sebuah pertanyaan timbul: Apakah Tarian Kecak yang diselenggarakan berkali-kali dalam sehari ditujukan untuk memenuhi permintaan wisatawan kini masih mengandung makna seperti pada awalnya? Pertanyaan ini sekaligus berfungsi sebagai mediator untuk memahami fenomena dalam dunia pariwisata yang disebut dengan “komodifikasi budaya”. Fenomena komodifikasi budaya terjadi ketika tradisi, ritual, dan ekspresi budaya berubah menjadi suatu produk bersifat komersial yang diperjual belikan.

Kemudian apa hubungannya dengan pembelajaran dalam kampus?

Ketika Budaya Masuk dalam Industri

Terdapat perbedaan antara suatu hal yang disebut “otentik” dengan yang disebut “orisinil”. Dari sisi orisinil, pertunjukan Tarian Kecak pertama kali diadakan di Desa Bona (Gianyar) dengan sejumlah penari pria dan suara yang berasal dari bagian tubuh sebagai iringan pengganti musik. Sementara dari sisi otentik, pertunjukan Tari Kecak mengandung otentisitas dari pertunjukan pertama seperti tidak adanya musik dan digantikan dengan suara tubuh, motif kotak-kotak hitam putih untuk kostum penari laki-laki, serta otentisitas penyelenggaraan pertunjukan yang biasanya dilakukan pad saat matahari terbenam, namun pertunjukan tidak harus persis dengan pertunjukan yang dilakukan prtama kali di Bona Gianyar.

Orisinil dan otentik tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan komodifikasi, dimana orisinl berperan sebagai suatu yang akan dirubah menjadi produk komersial, dan otentik sebagai nilai jual yang ditawarkan. Dalam pariwisata, komodifikasi budaya cenderung mengubah budaya yang murni menjadi suatu produk ekonomi. Sehingga seperti Tarian Kecak yang pada awalnya memiliki makna kuat dalam ke-sakral-annya semakin lama nilai dan makna asli dari Tari Kecak memudar. Sementara, yang disebut dengan “revitalisasi” merupakan upaya menghidupkan kembali nilai, makna, dan esensi budaya. Melalui revitalisasi, kepemilikan budaya yang mutlak jatuh kepada masyarakat lokal. Adapun pariwisata diposisikan sebagai tamu yang menghormati, bukan sebagai tuan rumah yang mendikte.

Siapa saja yang dapat membawa semangat revitalisasi ke realita lapangan?

Apa yang dipelajari dalam Kampus Pariwisata?

Beberapa waktu lalu, dalam mata kuliah pendidikan pariwisata yang diselenggarakan oleh program studi pariwisata, Universitas Gadjah Mada melakukan perbandingan kurikulum antara program SI Pariwisata di beberapa universitas termasuk program joint degree milik Breda University of Applied Sciences (BUas) dan Wageningen University & Research (WUR) di Belanda.

Hasilnya cukup menarik untuk dibahas.

Perlu diketahui, BUas dan WUR memiliki program joint degree selama tiga tahun (dua tahun di Breda dan satu tahun di Wageningen). Melalui program ini, pariwisata dipandang sebagai suatu sistem dalam Sosial-Ekologi dengan profil lulusan yang diarahkan menjadi konsultant bidang keberlanjutan, penganalisis kebijakan, dan ahli strategi pariwisata. Di sisi lain, UGM memandang pariwisata sebagai fenomena Sosio-Budaya dan Humaniora, dimana budaya dan kemanusiaan sebagai inti dalam kajian pariwisata. Profil lulusan difokuskan sebagai pengelola destinasi, pelaku hospitalitas, hingga entrepreneur pariwisata.

Masing-masing program studi memiliki kelebihan yang dibutuhkan industri pariwisata. Tapi disisi lain, di tengah keberadaan komodifikasi budaya, apakah kurikulum berbasis budaya dan lingkungan yang ada sekarang sudah cukup kuat dalam membentuk nalar kritis serta kesiapan mahasiswa untuk menghadapi realitas komodifikasi budaya secara langsung di lapangan?

Sikap dan Kepedulian Mahasiswa Pariwisata

Dimensi pemahaman dalam pendidikan pariwisata dibagi menjadi tiga yang ketiganya dikembangkan secara bersamaan untuk saling melengkapi:

  • Kognitif, berarti mahasiswa tahu dan memahami konsep-konsep pariwisata, hal ini termasuk komodifikasi, revitalisasi, dan keberlanjutan.

  • Afektif, berarti mahasiswa memiliki kepedulian terhadap komunitas lokal dan budaya disekitarnya yang terdampak pariwisata.

  • Attitude, berarti mahasiswa memiliki komitmen pada sikap dan nilai yang pegang untuk membentengi diri dari arud komersialisasi dalam industri pariwisata.

Hal yang masih ditemukan adalah dunia pendidikan berhenti pada penguasaan materi dalam kelas. Mahasiswa sebatas memahami konsep keberlanjutan dan komodifikasi namun belum memengaruhi empati dan karakter dalam diri. Padahal rasa empati dan karakter mahasiswa menjadi kunci ketika hendak terjun ke dunia kerja. Ketiga dimensi perlu menjadi bekal dasar seorang mahasiswa untuk menentukan peran mereka dalam perkembangan industri pariwisata.

Tanggung Jawab Baru sebagai Generasi Baru

Jika berbicara tentang regenerasi dalam industri pariwisata, tidak hanya sebatas siapa yang akan menjadi penerus posisi-posisi penting pada industri pariwisata kelak. Regenerasi berbicara tentang nilai-nilai yang dibawa oleh generasi baru dalam mengelola, mempromosikan, dan cara mereka menjaga pariwisata. Sebagai penerus yang kini mempelajari bidang pariwisata, pemahaman mahasiswa di bangku kuliah tentang bagaimana pariwisata memiliki peran dalam melestarikan budaya bukan untuk mengekploitasinya sangat diperlukan. Dengan pembekalan sebelum terjun ke lapangan, harapan pariwisata indonesia untuk lebih berkelanjutan semakin meningkat. Di sinilah kampus memegang peran penting.

Apa yang dapat dilakukan?

Terjadinya berbagai macam fenomena negatif pariwisata seperti komodifikasi, tidak dapat dikatakan sebagai kesalahan satu pihak saja. Komodifikasi terjadi akibat tekanan ekonomi, permintaan pasar, regulasi yang kurang memadai, dan kurangnya kesadaran bersama.

Kampus dapat menjadi batu loncatan dalam perkembangan pariwisata di Indonesia yan lebih baik. Mempersiapkan mahasiswa pariwisata melalui pendekatan kognitif, afektif, dan sikap sebagai upaya mendasar sehingga kampus dapat meluluskan sarjana dengan pemahaman dan kemampuan yang sesuai untuk industri pariwisata.

*Artikel ini ditulis sebagai refleksi mahasiswa dari diskusi dalam mata kuliah Pariwisata dan Pendidikan, dengan harapan dapat membuka percakapan yang lebih luas di antara para pelaku dan pemerhati pariwisata Indonesia.