Konten dari Pengguna

Di Antara Dosa yang Tertinggal dan Kebaikan yang Diingat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisya Adzka Adzkia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap manusia memiliki pengalaman hidup yang tidak selalu mudah diterima. Ada kesalahan yang dapat diperbaiki, penyesalan yang membekas, serta peristiwa yang membuat seseorang merasa tidak lagi pantas memperoleh kesempatan kedua. Persoalannya, apakah masa lalu benar-benar menentukan siapa seseorang sepanjang hidupnya? Ataukah manusia masih memiliki peluang untuk memperbaiki diri melalui pilihan dan tindakan yang diambilnya hari ini? Pertanyaan inilah yang akan dijawab oleh novel Janji karya Tere Liye.

Diterbitkan pada 2021 oleh Sabak Grip Nusantara, novel ini mengangkat perjalanan hidup, pencarian jati diri, pengorbanan, dan makna sebuah janji. Melalui kisah para tokohnya, Tere Liye tidak sekadar menyajikan rangkaian peristiwa, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan persoalan moral yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sosok Bahar Safar menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa penilaian terhadap seseorang tidak selalu mampu menggambarkan keseluruhan pribadinya.

Perjalanan Hasan, Baso, dan Kaharuddin dalam Mencari Bahar—Hasil Pengeditan Pribadi dari Aplikasi Gemini
zoom-in-whitePerbesar
Perjalanan Hasan, Baso, dan Kaharuddin dalam Mencari Bahar—Hasil Pengeditan Pribadi dari Aplikasi Gemini

Awal Perjalanan yang Mengubah Pandangan

Cerita berpusat pada tiga santri bernama Hasan, Baso, dan Kaharuddin. Ketiganya dikenal nakal dan kerap membuat masalah di pesantren. Ketika perilaku mereka kembali memancing keresahan, Buya memberikan tugas yang tidak biasa: mencari Bahar Safar, mantan santri yang telah lama meninggalkan lingkungan tersebut.

Penugasan itu membawa mereka keluar dari kehidupan yang selama ini dikenal. Mereka perlu mengumpulkan informasi, mendatangi tempat-tempat yang berkaitan dengan kehidupan Bahar, serta menemui orang-orang yang pernah mengenalnya. Pencarian tersebut bukan sekadar usaha menemukan keberadaan seseorang, melainkan juga upaya memahami perjalanan hidup yang belum mereka ketahui.

Tere Liye menyusun cerita melalui penelusuran pengalaman Bahar dari sudut pandang orang-orang yang pernah bersinggungan dengannya. Informasi disampaikan secara bertahap, sehingga setiap pertemuan membuka pemahaman baru dan menjaga rasa ingin tahu pembaca. Cara penceritaan ini sejalan dengan gagasan novel bahwa kehidupan seseorang tidak dapat disimpulkan hanya dari satu kejadian atau cerita yang beredar di masyarakat.

Bagi Hasan, Baso, dan Kaharuddin, perjalanan itu perlahan melampaui tugas dari Buya dan menjadi ruang pembelajaran. Perjumpaan dengan berbagai kisah kehidupan memberi pelajaran yang tidak cukup diperoleh melalui nasihat langsung. Proses mendengarkan dan memahami pengalaman orang lain membuat mereka meninjau kembali keyakinan yang sebelumnya dianggap benar. Mereka pun menyadari bahwa kehidupan manusia jauh lebih rumit daripada kesan pertama, dan bahwa menilai seseorang menuntut pandangan yang lebih utuh.

Pertentangan antara Kesalahan dan Kebaikan

Salah satu aspek paling menonjol dalam Janji adalah penggambaran Bahar sebagai tokoh yang memiliki riwayat kehidupan kelam, tetapi tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui kesalahan yang pernah dilakukannya. Ia bukan sosok tanpa cela. Kehidupannya memperlihatkan bahwa proses memperbaiki diri tidak selalu berlangsung dengan mudah. Setiap keputusan memiliki konsekuensi, sementara perubahan menuntut kesediaan untuk menghadapi kenyataan, bukan sekadar menghindarinya.

Melalui karakter Bahar, pembaca diajak mempertanyakan anggapan bahwa reputasi selalu mencerminkan kepribadian seseorang. Seseorang yang dikenal buruk belum tentu hanya memiliki keburukan, sebagaimana orang yang terlihat terhormat tidak otomatis terbebas dari kekurangan. Penampilan, perkataan, dan cerita yang beredar memang dapat membentuk kesan, tetapi semuanya belum tentu mewakili keseluruhan watak manusia.

Menariknya, persoalan tersebut tidak harus dimaknai sebagai pembenaran atas tindakan yang keliru. Riwayat hidup Bahar tetap menjadi bagian dari dirinya dan tidak serta-merta kehilangan arti. Yang patut diperhatikan ialah bagaimana ia menjalani kehidupan setelahnya. Perubahan tidak menghapus tanggung jawab atas perbuatan terdahulu, tetapi memberikan ruang untuk membuktikan bahwa seseorang mampu mengambil keputusan yang berbeda.

Di sinilah kekuatan persoalan moral yang diangkat novel ini. Pembaca tidak hanya diajak membedakan perbuatan baik dan buruk, tetapi juga memahami bahwa manusia dapat mengalami pergulatan dalam menentukan sikap. Kehidupan tidak selalu menghadirkan tokoh yang sepenuhnya benar atau sepenuhnya salah. Melalui kompleksitas tersebut, kisah Bahar mengingatkan bahwa penilaian yang terburu-buru berisiko mengabaikan sisi lain yang sama pentingnya.

Penghakiman dan Kesempatan untuk Berubah

Tema lain yang diangkat novel ini ialah kebiasaan manusia menilai kehidupan orang lain berdasarkan informasi yang terbatas. Kesalahan seseorang sering kali melekat begitu kuat hingga menutupi tindakan baik yang dilakukannya kemudian. Masyarakat dapat terus mengingat kekurangan orang lain, membicarakannya, bahkan menjadikannya alasan untuk meragukan ketulusan perubahan. Padahal, kehidupan selalu bergerak dan memberikan pengalaman baru yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir maupun bertindak.

Hal ini tercermin dalam perkataan Etek yang mengingatkan Bahar agar tidak terus terbebani oleh penilaian orang lain.

“Semua orang pernah punya masa lalu. Dosa. Maksiat. Aku tahu semua aib pertigaan jalan ini. Aku sering menggunjingkannya. Tapi orang-orang akan lupa, mereka sibuk dengan hal baru lagi. Jadi kau juga tidak perlu memikirkan komentar orang lain.”

Kutipan tersebut memperlihatkan kenyataan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: orang yang gemar membicarakan kekurangan sesamanya pun tidak terlepas dari kekeliruan. Pengakuan Etek bahwa dirinya pernah menggunjingkan orang lain menjadi bagian penting dari perkataannya. Ia tidak menempatkan diri sebagai manusia yang lebih suci, melainkan menyadari bahwa perilaku menghakimi dapat dilakukan oleh siapa saja.

Pernyataan tentang perhatian masyarakat yang mudah beralih juga menghadirkan kritik terhadap kebiasaan menjadikan komentar orang lain sebagai ukuran kehidupan. Seseorang yang hari ini menjadi bahan pembicaraan belum tentu terus dibicarakan esok hari. Ketika persoalan baru muncul, perhatian dapat berpindah begitu saja. Karena itu, menghabiskan kehidupan demi memenuhi penilaian orang lain justru berisiko menghambat usaha untuk memperbaiki diri.

Meski demikian, perkataan Etek tidak berarti bahwa setiap kritik harus diabaikan. Masukan yang disampaikan dengan alasan jelas tetap dapat membantu seseorang mengenali kekurangan. Hal yang perlu dibedakan ialah kritik yang mendorong perbaikan dan gunjingan yang sekadar menjatuhkan. Dengan memahami perbedaan tersebut, pembaca dapat melihat bahwa pesan novel ini bukan hanya tentang kebebasan dari penilaian masyarakat, melainkan juga tentang kemampuan menyikapi perkataan orang lain secara bijaksana.

Kelebihan yang Membuat Novel Ini Layak Dibaca

Kekuatan utama novel Janji terletak pada alur ceritanya yang dekat dengan kehidupan nyata. Kebiasaan menghakimi orang lain berdasarkan masa lalu adalah persoalan yang hampir semua orang pernah temui, baik sebagai pihak yang menilai maupun yang dinilai. Karena itu, pembaca dari berbagai latar belakang dapat dengan mudah menemukan benang merah antara kisah dalam novel dan pengalamannya sendiri. Tere Liye juga mengemas persoalan ini dengan bahasa yang sederhana sehingga pesannya mudah dipahami tanpa harus membaca berulang kali.

Kelebihan lain terletak pada struktur penceritaannya. Penelusuran kehidupan Bahar melalui kesaksian banyak orang membuat cerita bergerak dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya dengan rasa penasaran yang terjaga. Setiap tokoh yang ditemui menghadirkan potongan kisah yang berbeda, sehingga gambaran tentang Bahar terbentuk sedikit demi sedikit. Pilihan ini sejalan dengan tema novel, yakni bahwa seseorang tidak bisa dikenali secara utuh hanya dari satu sudut pandang.

Kekurangan yang Perlu Dicermati

Di balik kekuatannya, novel ini memiliki kecenderungan menyampaikan pesan moral secara cukup lugas. Pembaca kerap diarahkan pada kesimpulan tertentu melalui dialog dan narasi yang eksplisit, sehingga ruang untuk menafsirkan sendiri menjadi lebih sempit. Bagi pembaca yang menyukai cerita dengan makna tersirat, gaya seperti ini bisa terasa menggurui. Padahal, sebuah pesan sering kali terasa lebih kuat ketika pembaca diberi kesempatan menemukannya sendiri.

Selain itu, kedalaman psikologis tokoh kurang tergali. Hasan, Baso, dan Kaharuddin digambarkan berubah seiring perjalanan, tetapi proses batin mereka tidak selalu terasa sedalam perubahan yang dialami. Pergulatan Bahar pun lebih banyak hadir lewat cerita orang lain daripada lewat penjelajahan pikirannya sendiri. Akibatnya, sebagian pembaca mungkin merasa dekat dengan pesan novel, tetapi kurang terhubung secara emosional dengan tokoh-tokohnya.

Untuk Siapa Janji Ditulis?

Bagi pembaca yang menyukai fiksi dengan muatan nilai kehidupan, terutama tema pengampunan, tanggung jawab, dan kesempatan memperbaiki diri, novel ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Bahasanya yang mudah diikuti menjadikannya pilihan yang ramah bagi pembaca remaja maupun dewasa, termasuk mereka yang baru mulai membiasakan diri membaca novel. Latar pesantren dan nuansa religius di dalamnya juga akan terasa akrab bagi pembaca yang menyukai kisah dengan semangat spiritual. Pembaca yang pernah merasa dinilai berdasarkan kesalahan masa lalu mungkin akan menemukan penghiburan dalam kisah ini.

Sebaliknya, pembaca yang mencari alur penuh kejutan, konflik batin yang kelam, atau cerita yang sama sekali bebas dari pesan moral eksplisit mungkin perlu menyesuaikan harapan. Meski demikian, novel ini tetap bisa dinikmati sebagai bacaan yang menenangkan sekaligus mengajak berpikir ulang tentang cara kita memandang orang lain. Bagi pembaca yang bersedia membukanya dengan hati terbuka, Janji menawarkan pengalaman membaca yang sederhana tetapi berkesan.

Menilai Manusia dari Pilihan yang Diambilnya

Pada akhirnya, Janji bukan sekadar cerita tentang pencarian seorang mantan santri. Tere Liye mengajak pembaca meninjau kembali cara memandang orang lain sekaligus mempertanyakan ukuran yang digunakan untuk menilai kehidupan manusia. Bahar Safar memperlihatkan bahwa riwayat hidup tidak dapat dihapus, tetapi juga tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan nilai seseorang.

Novel ini layak dipertimbangkan oleh pembaca yang menyukai fiksi dengan persoalan kehidupan, perjalanan tokoh, dan refleksi moral. Ia tidak menawarkan penyelesaian sederhana atas setiap kesalahan, tetapi menghadirkan ruang untuk memikirkan kembali hubungan antara penilaian, tanggung jawab, dan kesempatan memperbaiki diri. Manusia tidak cukup dinilai dari cerita yang melekat pada dirinya. Pilihan yang diambil, tanggung jawab yang dijalankan, dan kebaikan yang diwujudkan juga menjadi bagian penting dalam memahami siapa dirinya.

Daftar Pustaka

Tere Liye. (2021). Janji. Depok: PT. Sabak Grip Nusantara.