Konten dari Pengguna

Bagaimana Mikroplastik Bisa Masuk ke Air dan Makanan Kita?

Aisya Dwi Hapsari

Aisya Dwi Hapsari

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Botol air mineral yang kamu minum tadi pagi, ikan yang dimasak untuk makan malam, bahkan garam dapur di meja makan, semuanya berpotensi menyimpan sesuatu yang tidak terlihat mata: mikroplastik. Bukan cerita fiksi ilmiah, ini adalah temuan berulang dari berbagai penelitian, termasuk yang dilakukan di Indonesia sendiri.

(Ilustrasi mikroplastik dalam air minum dan makanan sehari-hari | Created Image by ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
(Ilustrasi mikroplastik dalam air minum dan makanan sehari-hari | Created Image by ChatGPT)

Dari Sampah Besar Menjadi Partikel Kecil

Mikroplastik didefinisikan sebagai remahan atau pecahan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Prosesnya dimulai dari sampah plastik biasa. Sebuah kajian menjelaskan bahwa sampah plastik tidak benar-benar hilang, melainkan hanya berubah ukuran menjadi lebih kecil ketika terpapar radiasi ultraviolet dan proses pelapukan lain di lingkungan.

Karena Indonesia dikenal sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan, pencemaran mikroplastik saat ini sudah ditemukan di mana-mana, bukan hanya di laut, tapi juga di air limbah, air tawar, makanan, dan udara.

Jalur Masuk ke Air Minum

Air minum menjadi salah satu jalur paling langsung. Riset skala besar yang banyak dikutip media adalah penelitian dari Departemen Kimia State University of New York pada 2018, yang menguji 259 botol air minum dari 11 merek yang dijual di delapan negara termasuk Indonesia, menemukan bahwa 93 persen sampel mengandung mikroplastik berukuran antara 6,5 hingga 100 mikrometer.

Temuan serupa juga muncul dari penelitian lokal. Sebuah studi terhadap air minum isi ulang di Makassar menemukan bahwa seluruh dari sembilan sampel yang diuji, atau 100 persen, positif mengandung mikroplastik, dengan kelimpahan berkisar 3 hingga 103 partikel per liter.

Air kemasan galon sekali pakai pun tidak luput. Pengujian Greenpeace Indonesia bersama Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Indonesia menemukan bahwa air minum dalam kemasan galon sekali pakai mengandung partikel mikroplastik berukuran rata-rata 25,57 hingga 27,06 mikrometer, dan tidak ada satu pun sampel air kemasan yang benar-benar bebas dari mikroplastik.

Jalur Masuk Lewat Rantai Makanan

Selain air, makanan menjadi jalur masuk yang sama pentingnya, terutama produk hasil laut. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Berita Biologi BRIN menemukan adanya mikroplastik pada ikan bandeng dan ikan tongkol yang dijual di Pasar Tradisional Kranggot, Cilegon-Banten. Pada penelitian tersebut, mikroplastik yang ditemukan berbentuk fiber, film, dan fragmen, dengan beberapa jenis polimer seperti Nylon, EVA, PE, dan PP.

Yang mengejutkan, cakupannya ternyata jauh lebih luas dari sekadar hasil laut. Banyak studi menunjukkan bahwa bahan pangan sehari-hari seperti garam, seafood, perikanan air tawar, madu, gula, buah, dan sayur sudah terkontaminasi mikroplastik. Sebuah kajian bahkan mencatat temuan mikroplastik pada tahu dan gula, jenis bahan pangan yang jauh dari kesan "tercemar plastik" di benak kebanyakan orang.

Jalur Ketiga: Udara dan Kulit

Air dan makanan bukan satu-satunya pintu masuk. Menurut peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang dikutip Kompas, ada tiga jalur masuk mikroplastik ke tubuh manusia: lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi, lewat pernapasan karena debu mikroplastik yang beterbangan di udara, dan lewat kulit dari serat sintetis pada pakaian yang kita kenakan.

Begitu masuk, partikel ini ternyata tidak sekadar lewat. Sebuah scoping review yang terbit pada 2024 dan menelaah 26 penelitian pada manusia menemukan mikroplastik pada berbagai sistem organ, termasuk sistem pencernaan, pernapasan, kardiovaskular, reproduksi, dan urinaria. Mikroplastik juga ditemukan dalam sampel seperti feses, ASI, semen, dan urine.

(Ilustrasi mikroplastik di udara yang dapat terhirup manusia | Created Image by ChatGPT)

Seberapa Besar Paparannya di Indonesia?

Skala paparan mikroplastik di Indonesia tergolong tinggi menurut sejumlah kajian. Salah satu perhitungan mencatat bahwa dengan rata-rata konsumsi air minum dalam kemasan sebanyak 1,89 liter per hari, orang Indonesia berpotensi terpapar mikroplastik hingga 9,45 miligram per hari hanya dari sumber air minum kemasan saja.

Data lain yang lebih luas, mengutip jurnal Environmental Science & Technology tahun 2024, menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi mikroplastik hingga 15 gram partikel per bulan yaitu setara dengan berat satu kartu ATM.

Apakah Sudah Terbukti Berbahaya?

Di sinilah letak ketidakpastian yang masih tersisa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa bukti mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih memiliki sejumlah kesenjangan, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menilai risikonya secara lebih pasti. Belum ada pula ambang batas aman yang secara khusus ditetapkan untuk mikroplastik

Meski begitu, bukan berarti isu ini bisa diabaikan begitu saja. Riset awal menunjukkan mikroplastik diduga berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh dan berpotensi menyebabkan stres oksidatif serta perubahan pada DNA, meski penelitian dampak jangka panjangnya pada manusia masih terus berkembang.

Mengurangi Paparan yang Bisa Kita Kendalikan

Karena mikroplastik sudah menyebar luas di lingkungan, menghilangkannya sepenuhnya dari hidup kita hampir mustahil. Tapi beberapa kebiasaan bisa membantu mengurangi paparan:

  1. Kurangi penggunaan wadah plastik sekali pakai, terutama untuk menyimpan makanan panas, karena panas mempercepat pelepasan partikel plastik.

  2. Variasikan sumber air minum, tidak selalu bergantung pada air kemasan botol atau galon sekali pakai.

  3. Kurangi pembakaran sampah plastik, karena proses ini turut menyumbang mikroplastik dan partikel berbahaya lain ke udara.

  4. Pilih pakaian berbahan alami ketika memungkinkan, mengingat serat sintetis juga menjadi salah satu sumber mikroplastik lewat gesekan dan pencucian.

Penutup

Mikroplastik bukan lagi ancaman yang jauh di lautan sana, namun ia sudah ada di gelas minum, piring makan, bahkan di udara yang kita hirup setiap hari. Sains memang belum sepenuhnya menjawab seberapa besar bahayanya bagi tubuh manusia, tapi kehadirannya yang begitu meluas sudah cukup menjadi alasan untuk lebih berhati-hati, sambil menunggu penelitian yang lebih pasti di masa depan.