Konten dari Pengguna

Di Balik Panasnya Kota: Ketika Beton dan Aspal Mengubah Suhu

Aisya Dwi Hapsari

Aisya Dwi Hapsari

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu merasa bahwa siang hari di tengah kota terasa jauh lebih menyengat dibanding di kampung halaman yang lebih rindang? Atau malam hari yang seharusnya membawa udara sejuk, tapi di kota rasanya tetap gerah bahkan setelah matahari lama terbenam? Kamu tidak salah rasa. Ada fenomena nyata di balik itu, dan biasa disebut urban heat island atau pulau panas perkotaan.

(Ilustrasi Indonesia dari Perspektif Jalan | Created Image by ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
(Ilustrasi Indonesia dari Perspektif Jalan | Created Image by ChatGPT)

Kota Sebagai "Pulau" yang Lebih Panas

Secara sederhana, fenomena ini terjadi ketika suhu di wilayah perkotaan secara konsisten lebih tinggi dibanding daerah pedesaan di sekitarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa penyebabnya adalah struktur geometris kota yang rumit, kurangnya vegetasi, efek rumah kaca, serta alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun.

Kepala BMKG Dwikorita bahkan menyebut bahwa efek pulau panas ini semakin kuat dirasakan dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, sejalan dengan makin padatnya pembangunan di kota-kota besar Indonesia.

Kenapa Beton dan Aspal Jadi Biang Keladinya?

(Ilustrasi perbandingan permukaan kota (aspal/beton) menyerap panas di siang hari dan melepasnya kembali, dengan area hijau di sebelahnya | Created Image by ChatGPT)

Jawabannya ada pada sifat fisik material itu sendiri. Aspal dan beton memiliki nilai albedo, atau daya pantul cahaya, yang rendah. Sebuah kajian akademik menjelaskan bahwa rendahnya albedo ini membuat penyerapan radiasi matahari mencapai puncaknya di siang hari, lalu panas itu dilepaskan kembali secara perlahan pada malam hari, proses ini disebut pelepasan panas laten.

Inilah yang menjelaskan kenapa kota terasa tetap panas meski matahari sudah lama tenggelam. Rumah dengan atap genteng dan halaman berumput bisa cepat mendingin begitu malam tiba, tapi jalanan aspal dan gedung berdinding beton menyimpan panas jauh lebih lama, lalu perlahan-lahan melepaskannya ke udara sekitar sepanjang malam.

Perbandingan dengan daerah pedesaan pun cukup signifikan. Menurut penjelasan BMKG yang mengutip Climate Portal, rata-rata kota bisa lebih hangat 1 hingga 7 derajat Fahrenheit dibanding pedesaan pada siang hari, dan perbedaan itu bisa berlanjut hingga malam dengan selisih sampai 5 derajat Fahrenheit.

Jakarta Sebagai Contoh Nyata

Ibu kota Indonesia menjadi salah satu kasus yang paling sering dikaji. Sebuah penelitian mencatat bahwa intensitas pulau panas perkotaan di Jakarta berkisar antara 3 hingga 6 derajat Celsius untuk suhu permukaan, dan 1 hingga 2,5 derajat Celsius untuk suhu udara.

Dampaknya bukan sekadar rasa gerah sesaat. Pada Mei 2026, suhu terasa di Jakarta diprediksi bisa mencapai 43 derajat Celsius akibat kombinasi cuaca panas dan efek pulau panas perkotaan yang saling memperkuat. Fenomena serupa juga tercatat di kota-kota lain: data BMKG pada Maret 2026 menunjukkan Jakarta Timur mencatat suhu hingga 35,6°C, sementara wilayah urban lain seperti Tangerang turut masuk daftar kota terpanas karena dominasi permukaan beton dan aspal yang menyerap panas lebih banyak dibanding area hijau.

Bukan hanya Jakarta. Fenomena ini juga menjadi perhatian di kota-kota metropolitan lain di kawasan sekitarnya, karena pola pembangunan yang serupa menghasilkan gejala yang serupa pula, seperti terlihat pada studi perbandingan antara Jakarta dan Kuala Lumpur yang sama-sama mengalami peningkatan suhu akibat alih fungsi ruang terbuka hijau menjadi kawasan terbangun.

Bukan Hanya Soal Tidak Nyaman

Efek urban heat island sering dianggap sekadar membuat hari terasa lebih gerah, padahal dampaknya menjalar lebih jauh. Sebuah analisis menyebutkan bahwa peningkatan suhu ini turut mendorong naiknya konsumsi energi karena masyarakat semakin bergantung pada pendingin ruangan, sekaligus meningkatkan risiko kesehatan bagi warga kota.

Semakin banyak orang menyalakan AC untuk melawan panas, semakin besar pula panas buangan yang dilepas ke udara luar, menjadi sebuah lingkaran yang justru memperparah suhu kota secara keseluruhan.

Menanam Pohon Saja Tidak Cukup

Solusi yang paling sering disebut adalah memperbanyak pepohonan dan ruang hijau, dan itu memang membantu. Namun sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menemukan fakta menarik: pohon-pohon di perkotaan mampu mengurangi efek pulau panas hingga hampir 50 persen, tapi tetap tidak cukup untuk sepenuhnya menetralkan panas yang dihasilkan oleh lautan beton dan aspal di sekitarnya.

Artinya, penghijauan tetap penting, tapi ia perlu dibarengi dengan langkah lain: material bangunan dengan daya pantul lebih tinggi, perencanaan tata kota yang menyisakan ruang untuk sirkulasi udara, hingga pengurangan permukaan kedap air yang selama ini mendominasi wajah kota-kota besar.

Penutup

Panasnya kota bukan sekadar imajinasi atau kebetulan cuaca harian. Ia adalah hasil dari pilihan panjang dalam membangun ruang hidup kita sendiri seperti jalan yang diaspal, gedung yang dibeton, dan pohon yang ditebang untuk memberi jalan bagi keduanya. Semakin memahami mekanismenya, semakin jelas pula bahwa mendinginkan kota bukan pekerjaan satu pihak saja, melainkan pekerjaan bersama antara pemerintah kota, perancang bangunan, dan warga yang menghuninya setiap hari.