Konten dari Pengguna

Kenapa Banyak Mahasiswa Merasa Bingung Menentukan Arah Setelah Lulus?

Aisya Dwi Hapsari

Aisya Dwi Hapsari

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Semester akhir biasanya datang dengan dua perasaan yang bertabrakan. | Created Image by ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
(Semester akhir biasanya datang dengan dua perasaan yang bertabrakan. | Created Image by ChatGPT)

Semester akhir biasanya datang dengan dua perasaan yang bertabrakan. Di satu sisi ada lega karena skripsi mulai terlihat ujungnya. Di sisi lain, muncul pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan revisi dosen pembimbing: setelah ini, mau ke mana? Banyak mahasiswa yang selama bertahun-tahun rajin mengikuti alur kelas, tugas, dan ujian, tiba-tiba berdiri di depan pintu keluar kampus tanpa peta yang jelas. Kebingungan ini bukan tanda kurang usaha. Ada beberapa hal di baliknya yang layak dilihat lebih dekat.

Dari Jalur yang Terstruktur ke Ruang yang Terbuka

Selama sekolah dan kuliah, hidup berjalan dengan struktur yang jelas. Ada kurikulum, jadwal, target nilai, dan tahapan yang sudah ditentukan: semester satu, dua, tiga, sampai lulus. Setiap capaian punya tolok ukur yang mudah dikenali, entah itu IPK, nilai ujian, atau status kelulusan mata kuliah.

Begitu wisuda selesai, struktur itu menghilang. Dunia kerja tidak punya silabus yang seragam. Tidak ada satu jalur yang otomatis menyambung dari ijazah. Ada yang melamar kerja, ada yang lanjut studi, ada yang merintis usaha, ada yang menunggu dulu sambil mencari tahu. Kebebasan memilih ini terdengar menyenangkan, tetapi bagi orang yang terbiasa dengan jalur terarah, ruang terbuka sebesar itu justru terasa membingungkan. Yang hilang bukan cuma jadwal, tapi juga umpan balik yang selama ini menjadi penunjuk apakah kita sudah berada di jalur yang benar.

Jurusan dan Pekerjaan Tidak Selalu Sejalan

Banyak mahasiswa memilih jurusan dengan informasi yang terbatas: masukan orang tua, prospek yang terdengar bagus, nilai yang kebetulan cocok, atau sekadar diterima di pilihan yang tersedia. Baru di tahun-tahun akhir mereka melihat lebih jelas seperti apa dunia profesionalnya, dan kadang gambarannya berbeda dari yang dibayangkan.

Selain itu, hubungan antara jurusan dan pekerjaan sering kali tidak searah. Ada lulusan yang bekerja di bidang yang berbeda dari jurusannya, dan ada pekerjaan yang lowongannya tidak mencantumkan jurusan tertentu sama sekali. Bagi mahasiswa, ini menimbulkan dilema: apakah harus setia pada bidang yang sudah dipelajari selama empat tahun, atau berani mencoba arah lain. Tanpa contoh yang cukup dekat di sekitar, keputusan itu terasa seperti taruhan besar.

Ekspektasi Sosial yang Datang dari Berbagai Arah

Kebingungan menentukan arah jarang murni soal diri sendiri. Sering ada suara dari luar yang ikut menentukan seberapa berat pilihan itu terasa. Orang tua mungkin berharap anaknya segera bekerja di tempat yang stabil. Keluarga besar bertanya kapan wisuda dan kapan dapat kerja. Teman seangkatan mengunggah kabar diterima di perusahaan tertentu, lolos beasiswa, atau mulai bisnis.

Di tengah semua itu, muncul anggapan tak tertulis bahwa ada jadwal yang harus dikejar: lulus tepat waktu, langsung kerja, gaji sekian dalam setahun. Ketika jalur pribadi tidak cocok dengan jadwal itu, muncul rasa tertinggal, walaupun sebenarnya tidak ada aturan yang menyatakan semua orang harus tiba di tempat yang sama pada waktu yang sama. Perbandingan yang terus-menerus, terutama lewat media sosial yang hanya menampilkan capaian, membuat kebingungan yang wajar terasa seperti kegagalan pribadi.

Ketidakpastian Karier yang Memang Nyata

Tidak semua kebingungan berasal dari pikiran. Sebagian lahir dari kondisi yang memang tidak pasti. Persaingan untuk satu lowongan bisa melibatkan banyak pelamar, sementara syarat pengalaman sering kali sudah diminta bahkan untuk posisi pemula. Mahasiswa yang belum sempat magang atau ikut proyek nyata bisa merasa berada di lingkaran yang membingungkan: butuh pengalaman untuk dapat kerja, tapi butuh kerja untuk dapat pengalaman.

Ditambah lagi, dunia kerja terus berubah. Bidang yang populer hari ini belum tentu sama beberapa tahun lagi, dan keterampilan yang dicari perusahaan bergeser dari waktu ke waktu. Menyusun rencana lima tahun terasa sulit ketika lanskapnya sendiri tidak diam. Wajar bila sebagian orang lebih memilih menunda keputusan daripada salah melangkah.

Belum Mengenal Diri Sendiri Sepenuhnya

Ada lapisan lain yang sering terlewat: banyak mahasiswa memang belum punya cukup bahan untuk tahu apa yang mereka inginkan. Kesibukan kuliah biasanya berfokus pada menyelesaikan kewajiban, bukan mengeksplorasi minat secara luas. Akibatnya, ketika ditanya "kamu maunya apa?", jawabannya sering berupa kebingungan jujur, bukan kemalasan berpikir.

Minat, nilai hidup, dan gaya kerja yang cocok biasanya baru terlihat lewat pengalaman langsung, seperti organisasi, magang, proyek, atau pekerjaan paruh waktu. Tanpa pengalaman itu, pilihan terasa abstrak. Ini sebabnya sebagian orang baru menemukan arahnya setelah mencoba, dan sebagian lagi setelah beberapa kali berpindah.

Yang Bisa Dilakukan Saat Belum Punya Jawaban

Belum tahu arah bukan berarti harus diam. Beberapa langkah kecil bisa membantu mengurangi kabut:

  • Cari informasi dari orang yang sudah menjalani. Ngobrol dengan alumni atau kakak tingkat memberi gambaran nyata tentang pekerjaan yang selama ini hanya dibayangkan.

  • Coba dulu dalam skala kecil. Magang singkat, proyek lepas, atau kegiatan sukarela bisa menjadi cara murah untuk menguji apakah suatu bidang cocok.

  • Pisahkan keputusan besar menjadi langkah berikutnya saja. Tidak perlu menjawab "mau jadi apa dalam sepuluh tahun", cukup menentukan apa yang dicoba dalam enam bulan ke depan.

  • Kurangi ukuran diri dengan garis waktu orang lain. Jalur setiap orang berbeda, dan kecepatan bukan satu-satunya tanda keberhasilan.

  • Terima bahwa arah boleh berubah. Pilihan pertama setelah lulus tidak harus menjadi pilihan seumur hidup.

Penutup

Kebingungan setelah lulus bukan tanda ada yang salah dengan mahasiswanya. Ia muncul dari pertemuan beberapa hal sekaligus: perpindahan dari jalur terstruktur ke ruang terbuka, tekanan ekspektasi dari sekitar, ketidakpastian dunia kerja, dan proses mengenal diri yang belum selesai. Memahami sumbernya membantu memperlakukan kebingungan itu sebagai fase yang wajar, bukan vonis. Arah biasanya tidak ditemukan dalam satu keputusan besar, tapi terbentuk dari langkah-langkah kecil yang dicoba, dikoreksi, lalu dilanjutkan