Konten dari Pengguna

Kenapa Kita Lebih Berani Curhat ke Orang Asing di Internet?

Aisya Dwi Hapsari

Aisya Dwi Hapsari

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sebuah cerita yang sudah sering diceritakan berulang: seseorang bisa menuliskan curahan hati paling dalam di kolom komentar sebuah unggahan di media sosial, membalas pesan pribadi seorang pengguna Twitter yang tidak pernah ia temui, atau menumpahkan seluruh isi hati di forum anonim, sesuatu yang mungkin tidak pernah ia ceritakan bahkan kepada sahabat dekatnya sendiri. Ironisnya, justru pada orang yang paling asing itulah kita merasa paling bebas untuk jujur. Kenapa bisa begitu?

(Ilustrasi ketika kita nyaman curhat sebagai anonimous.| Created Image by ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
(Ilustrasi ketika kita nyaman curhat sebagai anonimous.| Created Image by ChatGPT)

Tidak Ada Riwayat yang Perlu Dijaga

Salah satu alasan utama adalah karena orang asing di internet tidak membawa beban masa lalu. Berbeda dengan keluarga atau teman dekat yang sudah mengenal kita bertahun-tahun, orang asing tidak punya gambaran utuh tentang siapa kita sebelumnya. Mereka tidak tahu kesalahan yang pernah kita buat, tidak punya ekspektasi tentang bagaimana seharusnya kita bersikap, dan tidak akan membandingkan cerita kita hari ini dengan versi diri kita di masa lalu.

Ketiadaan riwayat ini membuat kita merasa bisa jujur tanpa takut mengecewakan gambaran yang sudah lama dibangun. Curhat pada orang yang mengenal kita sering kali datang dengan beban tambahan: bagaimana reaksi mereka nanti, apakah ini akan mengubah cara mereka memandang kita, atau apakah ceritanya akan diingat dan dibawa-bawa di kemudian hari. Pada orang asing, beban semacam itu pasti tidak ada.

Efek "Orang Asing di Kereta"

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru yang lahir dari internet. Psikologi sosial sudah lama mengenal apa yang disebut stranger on the train phenomenon yaitu kecenderungan orang untuk lebih terbuka menceritakan hal pribadi kepada orang asing yang kebetulan duduk di sebelahnya dalam perjalanan panjang, dibanding kepada orang-orang terdekat mereka sendiri. Internet pada dasarnya hanya memperbesar skala fenomena yang sudah ada ini, mengubah gerbong kereta menjadi kolom komentar dan pesan langsung yang bisa diakses kapan saja.

Yang membuat versi digital ini terasa lebih kuat adalah karena kita tidak perlu turun di stasiun berikutnya untuk mengakhiri percakapan. Kita bisa menutup aplikasi kapan pun kita mau, dan interaksi itu selesai begitu saja tanpa harus menanggung konsekuensi sosial jangka panjang.

Anonimitas Melepaskan Rasa Takut Dinilai

Bagi banyak orang, ketakutan terbesar dalam bercerita bukan soal isi ceritanya, melainkan soal bagaimana mereka akan dinilai setelahnya. Rasa takut dihakimi ini jauh lebih kecil ketika identitas kita tersembunyi di balik nama pengguna atau akun tanpa foto asli. Ketika seseorang tidak tahu wajah kita, tempat kita bekerja, atau lingkaran pertemanan kita, penilaian mereka terasa tidak akan "menempel" ke kehidupan nyata kita.

Ini berbeda jauh dengan bercerita kepada orang yang mengenal kita secara langsung. Reaksi mereka bisa memengaruhi cara mereka memperlakukan kita di kemudian hari, bisa menyebar ke lingkaran pertemanan yang sama, atau bisa membuat suasana canggung setiap kali bertemu lagi. Anonimitas menghapus semua risiko sosial ini, membuat kejujuran terasa jauh lebih murah untuk diberikan.

Tidak Perlu Menanggung Akibat Jangka Panjang

Interaksi dengan orang asing di internet biasanya bersifat sementara dan tidak berkelanjutan. Kita bisa menceritakan sesuatu yang sangat personal kepada seseorang, lalu tidak pernah berinteraksi dengannya lagi setelah percakapan itu selesai. Sifat sekali pakai ini justru menjadi kekuatan tersendiri: tidak ada kewajiban untuk terus menjelaskan diri, tidak ada risiko cerita itu diungkit lagi di kemudian hari, dan tidak ada perubahan dinamika hubungan yang harus dihadapi setelahnya.

Bandingkan dengan bercerita kepada orang dekat. Sekali sebuah rahasia diungkapkan, hubungan itu berubah selamanya. Orang tersebut akan selalu tahu, dan kita harus terus hidup berdampingan dengan pengetahuan itu di setiap pertemuan berikutnya. Pada orang asing, percakapan itu bisa selesai dan menghilang begitu saja, seolah tidak pernah terjadi.

Empati Tanpa Beban Relasi

Ada juga sisi yang lebih hangat dari fenomena ini. Orang asing di internet sering kali memberikan respons yang lebih murni, karena mereka tidak punya kepentingan pribadi dalam cerita kita. Teman dekat atau keluarga kadang memberi tanggapan yang dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan kita, mereka mungkin merasa perlu membela kita, mengkhawatirkan kita secara berlebihan, atau justru menghindari topik yang sensitif demi menjaga hubungan tetap nyaman.

Orang asing tidak punya beban semacam itu. Mereka bisa memberikan sudut pandang yang lebih objektif, kadang justru lebih jujur, karena tidak ada risiko merusak hubungan yang sudah terjalin lama. Bagi banyak orang, mendapatkan respons yang jujur dan tidak dibumbui pertimbangan hubungan pribadi terasa lebih melegakan dibanding mendapat dukungan yang terasa dipaksakan.

Ruang untuk Mencoba Versi Diri yang Berbeda

Internet juga memberi ruang untuk mengeksplorasi sisi diri yang mungkin belum berani ditunjukkan di kehidupan nyata. Seseorang yang di dunia nyata dikenal pendiam dan tertutup bisa menjadi jauh lebih ekspresif dan terbuka ketika bersembunyi di balik layar. Ini bukan berarti mereka sedang berpura-pura, tapi lebih kepada mendapatkan kesempatan untuk mencoba versi diri yang mungkin selama ini terkubur karena berbagai alasan sosial di kehidupan nyata.

Ruang aman untuk bereksperimen dengan identitas ini menjadi salah satu daya tarik besar dari interaksi dengan orang asing, kita bisa menjadi diri kita yang paling jujur, justru karena tidak ada risiko yang harus ditanggung dari kejujuran itu.

Sisi yang Tetap Perlu Diwaspadai

Meski terasa melegakan, kebiasaan mencurahkan isi hati kepada orang asing juga punya risikonya sendiri. Karena sifatnya yang anonim dan sementara, dukungan yang didapat sering kali bersifat dangkal dan tidak berkelanjutan. Orang asing yang hari ini mendengarkan cerita kita mungkin besok sudah lupa sepenuhnya, atau bahkan tidak pernah benar-benar peduli sejak awal.

Ada juga risiko ketergantungan pada validasi dari orang yang tidak benar-benar mengenal kita, sementara hubungan nyata dengan orang-orang terdekat justru semakin jarang dipupuk. Curhat kepada orang asing bisa menjadi pelarian yang nyaman, tapi tidak bisa menggantikan kedalaman dan konsistensi dukungan dari hubungan yang dibangun dari waktu ke waktu.

Penutup

Keberanian untuk lebih terbuka kepada orang asing di internet bukan tanda bahwa kita tidak percaya kepada orang-orang terdekat, melainkan bukti bahwa kejujuran sering kali lebih mudah muncul ketika tidak ada risiko yang harus ditanggung setelahnya. Internet menyediakan ruang tanpa riwayat, tanpa penilaian jangka panjang, dan tanpa konsekuensi relasi adalah kombinasi yang membuat kita berani berkata jujur dengan cara yang jarang bisa kita lakukan di kehidupan sehari-hari. Yang perlu diingat, ruang ini paling baik digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti, dari hubungan nyata yang tetap membutuhkan kejujuran dan keberanian yang sama untuk dibangun.