Konten dari Pengguna

Kenapa Sistem Kebut Semalam Bikin Kita Mendadak Jadi Sat-set?

Aisya Dwi Hapsari

Aisya Dwi Hapsari

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tugas sudah diberikan tiga minggu lalu. Deadline masih jauh, jadi kita santai. Minggu pertama lewat tanpa apa-apa. Minggu kedua kita buka dokumennya, menatap halaman kosong selama sepuluh menit, lalu menutupnya lagi. Minggu ketiga? Masih ada besok, pikir kita.

Lalu tibalah malam sebelum pengumpulan. Tiba-tiba semuanya berubah. Laptop menyala, kopi diseduh, notifikasi dimatikan, dan entah dari mana muncul fokus yang selama tiga minggu terakhir tidak pernah datang. Dalam delapan jam kita menyelesaikan apa yang seharusnya dikerjakan dalam dua puluh satu hari. Pertanyaannya: kenapa baru sekarang?

(Created Image by ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
(Created Image by ChatGPT)

Otak Kita Buruk Menilai Sesuatu yang Jauh

Ada satu kebiasaan pikiran yang cukup konsisten pada hampir semua orang: kita cenderung menganggap remeh hal-hal yang masih jauh di depan. Deadline tiga minggu lagi terasa seperti masalah orang lain, tepatnya, masalah "diri kita di masa depan," sosok yang entah kenapa selalu kita bayangkan lebih rajin, lebih punya waktu, dan lebih bebas dari rasa malas.

Semakin dekat tenggat itu, semakin ia berubah dari konsep abstrak menjadi ancaman yang konkret. Dan pada titik itulah perhitungan di kepala kita berbalik total. Rasa tidak nyaman karena harus mengerjakan tugas tiba-tiba kalah besar dibanding rasa takut tidak mengumpulkan sama sekali.

Tekanan Mengubah Cara Tubuh Bekerja

Ketika tenggat sudah di depan mata, tubuh merespons seperti menghadapi situasi darurat kecil. Detak jantung naik, kewaspadaan meningkat, dan perhatian menyempit ke satu hal saja: menyelesaikan ini sekarang. Inilah kenapa malam-malam kebut semalam sering terasa jernih dan intens, karena hal-hal yang biasanya mengganggu (ponsel, rasa lapar, keinginan mengecek media sosial) mendadak kehilangan daya tariknya.

Di saat normal, pikiran kita terbagi ke banyak arah. Di bawah tekanan, pilihan menghilang. Dan ternyata, hilangnya pilihan itu justru membuat kita produktif. Bukan karena kita jadi lebih pintar, tapi karena kita kehabisan ruang untuk ragu.

Pilihan yang Menyempit Itu Melegakan

Ada alasan lain yang jarang disadari: saat waktu masih panjang, standar kita terlalu tinggi. Kita ingin hasilnya bagus, rapi, terstruktur, kalau bisa sempurna. Standar setinggi itu justru melumpuhkan. Kita tidak mulai karena takut memulai dengan cara yang salah.

Ketika waktu tinggal beberapa jam, standar itu runtuh dengan sendirinya. Tidak ada lagi ruang untuk memikirkan versi terbaik, yang ada hanya versi selesai. Ironisnya, justru menurunnya standar inilah yang akhirnya membuat kita bergerak. Banyak orang yang merasa "cuma bisa kerja kalau kepepet" sebenarnya sedang mengalami hal ini: kepepet bukan memberi mereka kemampuan baru, tapi melepaskan mereka dari tuntutan yang selama ini menahan.

Hasilnya Sering Terasa Lebih Baik dari Kenyataannya

Setelah begadang dan berhasil mengumpulkan tepat waktu, muncul rasa puas yang besar. Kita merasa hebat, merasa terbukti bahwa cara ini berhasil. Perasaan itu yang membuat kebiasaan ini sulit dilepas, jadi otak mencatatnya sebagai strategi yang sukses, lalu mengulanginya di kesempatan berikutnya.

Padahal kalau dilihat lebih jujur, yang kita rasakan sering kali adalah kelegaan, bukan kualitas. Pekerjaan yang dikerjakan dalam kondisi kurang tidur juga berisiko membuat perhatian dan kemampuan memantau kesalahan menurun, sehingga kita kehilangan kesempatan untuk mengecek dan memperbaiki pekerjaan dengan lebih teliti. Kita jarang menyadarinya karena tidak pernah punya pembandingnya.

Harga yang Dibayar Belakangan

Sistem kebut semalam memang bekerja, tapi bukan tanpa harga:

  1. Utang tidur yang menumpuk. Satu malam begadang tidak langsung terbayar dengan satu kali tidur panjang; efeknya bisa terasa berhari-hari pada mood dan konsentrasi.

  2. Tidak ada ruang untuk kesalahan. Kalau laptop bermasalah, internet mati, atau ternyata instruksinya salah paham, tidak ada waktu tersisa untuk memperbaiki.

  3. Kecemasan yang menumpuk diam-diam. Tiga minggu penundaan bukan tiga minggu bebas melainkan tiga minggu dengan tugas yang terus mengintai di belakang kepala.

(Created Image by ChatGPT)

Meminjam Tekanannya, Bukan Bahayanya

Kalau ternyata tekanan adalah kunci yang membuat kita bergerak, pertanyaannya bukan bagaimana menghilangkan tekanan, tapi bagaimana menciptakannya lebih awal. Beberapa cara yang bisa dicoba:

  1. Buat tenggat palsu yang punya konsekuensi nyata. Janji mengirim draf ke teman di hari tertentu jauh lebih efektif daripada niat pribadi tanpa saksi.

  2. Pecah jadi bagian kecil dengan batas waktunya sendiri. Satu tugas besar terasa abstrak; lima tugas kecil dengan tanggal masing-masing terasa mendesak.

  3. Izinkan versi pertama yang jelek. Karena yang menahan kita di awal biasanya bukan malas, tapi takut hasilnya tidak bagus.

  4. Mulai dari yang paling mudah, bukan yang paling penting. Momentum lebih gampang didapat dari langkah kecil yang langsung selesai.

Penutup

Sistem kebut semalam bukan bukti bahwa kita pemalas, dan bukan juga bukti bahwa kita punya bakat khusus di bawah tekanan. Ia sekadar menunjukkan bahwa pikiran kita butuh sesuatu yang terasa mendesak sebelum mau bergerak.

Kabar baiknya, rasa mendesak itu bisa dipinjam lebih awal tanpa harus menunggu jam dua pagi dan kopi gelas ketiga.