Konten dari Pengguna

Kenapa Tempat yang Viral di TikTok Mendadak Jadi Tujuan Semua Orang?

Aisya Dwi Hapsari

Aisya Dwi Hapsari

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, tren TikTok dan konten viral membuat pola yang sama dan terus berulang. Sebuah kafe kecil di gang sempit, sebuah tebing di pinggir desa, atau sebuah warung makan yang sebelumnya sepi, tiba-tiba dipadati pengunjung hanya dalam hitungan hari. Fenomena ini terjadi berulang kali, dan pertanyaannya bukan lagi “tempat apa yang akan viral berikutnya”, melainkan “kenapa pola ini selalu berhasil?”

Jawabannya ada pada tiga hal yang saling mengunci: cara kerja algoritma, dorongan psikologis bernama FOMO, dan budaya ikut tren yang sudah mengakar dalam kehidupan digital kita.

Bagaimana algoritma TikTok membuat tempat menjadi viral?

TikTok berbeda dari media sosial generasi sebelumnya karena kekuatan utamanya bukan pada siapa yang kamu ikuti, melainkan pada apa yang membuatmu berhenti scroll. Sistem rekomendasinya, For You Page, dirancang untuk menyortir jutaan video dan menyodorkan konten yang paling mungkin membuat penonton bertahan sampai akhir, lalu menonton ulang, lalu membagikannya.

Konsekuensinya, sebuah video tentang tempat wisata tidak butuh akun besar untuk meledak. Yang dibutuhkan hanya visual yang kuat di detik-detik pertama, musik yang sedang naik daun, dan sudut pengambilan gambar yang membuat orang penasaran "ini di mana?". Begitu satu video menembus ambang tertentu, algoritma akan terus mendorongnya ke lebih banyak pengguna dengan minat serupa, menciptakan efek bola salju yang sulit dihentikan.

Yang membuat pola ini makin kuat adalah sifatnya yang berulang. Satu kreator membuat video, lalu diikuti kreator lain datang ke lokasi yang sama untuk membuat versi mereka sendiri, memakai template yang sama, angle yang sama, bahkan caption yang mirip. Algoritma membaca pengulangan ini sebagai sinyal relevansi, sehingga tempat tersebut makin sering muncul di beranda orang-orang yang bahkan belum pernah dengar namanya sebelumnya.

FOMO: Ketakutan Ketinggalan yang Dipercepat Layar Kecil

(Created image by ChatGPT)

Di balik dorongan untuk datang ke tempat yang sedang ramai dibicarakan, ada perasaan yang sebenarnya sudah lama dikenal psikolog: fear of missing out, atau FOMO. Bedanya, dulu FOMO muncul dari cerita teman atau berita di televisi yang butuh waktu menyebar. Sekarang, satu video pendek bisa memicu rasa tertinggal dalam hitungan detik.

Ketika seseorang melihat temannya, atau bahkan orang asing yang videonya lewat di beranda, sudah mengunjungi suatu tempat, muncul perasaan bahwa dirinya sedang absen dari sesuatu yang "semua orang" sudah alami. Perasaan ini diperkuat oleh cara TikTok menampilkan angka, jumlah tontonan, jumlah komentar, jumlah orang yang mengaku "sudah ke sini". Angka-angka itu berfungsi sebagai bukti sosial instan yang meyakinkan otak bahwa tempat tersebut layak dikunjungi, bahkan sebelum seseorang sempat mencari tahu lebih jauh.

FOMO juga bekerja dengan durasi. Tren di TikTok punya usia yang pendek, sehingga muncul tekanan waktu tambahan, harus datang sekarang, sebelum tempat itu dianggap basi atau sudah terlalu ramai untuk difoto dengan bagus. Tekanan ini yang membuat keputusan berkunjung terasa mendesak, padahal sebenarnya tidak ada urgensi nyata selain rasa ingin tetap relevan secara sosial.

Budaya Ikut Tren TikTok: Validasi Lewat Kesamaan

Faktor ketiga adalah budaya ikut tren itu sendiri, sebuah kebiasaan yang tumbuh bersama media sosial dan makin subur di era TikTok. Mengunjungi tempat yang sedang viral bukan cuma soal menikmati lokasi tersebut, tapi juga soal ikut ambil bagian dalam sebuah momen bersama yang sedang dirayakan banyak orang secara online.

Ada semacam kepuasan tersendiri ketika seseorang bisa membuat konten dari tempat yang sama dengan ribuan orang lain, memakai gaya pengambilan gambar yang sudah terbukti disukai algoritma. Ini bukan sekadar meniru, melainkan cara untuk merasa terhubung dengan komunitas yang lebih besar, sekaligus menjamin kontennya sendiri berpeluang lebih besar untuk ikut ditonton banyak orang.

Budaya ini juga mengubah cara orang menilai sebuah tempat. Kualitas pengalaman langsung kadang jadi nomor dua, sementara pertanyaan yang lebih dulu muncul adalah apakah tempat itu instagramable, apakah cocok untuk konten pendek berdurasi lima belas detik, dan apakah sudah dikenal luas sehingga aman untuk diikuti tanpa risiko terlihat "kudet".

Efek Samping yang Sering Terlewat akibat FOMO

(Created image by ChatGPT)

Pola algoritma, FOMO, dan budaya ikut tren yang bekerja bersamaan ini punya dampak nyata di lapangan. Tempat-tempat kecil yang sebelumnya tenang tiba-tiba kewalahan menampung lonjakan pengunjung, infrastruktur yang tidak siap, dan ekspektasi wisatawan yang kadang tidak sesuai dengan kondisi asli lokasi setelah dilihat langsung, jauh dari sudut kamera yang dipilih dengan cermat di video viral.

Di sisi lain, fenomena ini juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha kecil yang sebelumnya sulit menjangkau pasar luas. Satu video yang tepat bisa mengubah nasib sebuah warung dalam semalam, sesuatu yang dulu butuh bertahun-tahun promosi konvensional.

Menyikapi Tren TikTok dengan Lebih Sadar

Memahami mekanisme di balik viralnya sebuah tempat bisa membantu kita mengambil jarak sejenak sebelum ikut memutuskan untuk berkunjung. Bukan berarti harus anti tren, tapi ada baiknya bertanya pada diri sendiri, apakah keinginan datang ke sana muncul dari rasa penasaran yang tulus, atau sekadar dorongan agar tidak tertinggal dari orang lain di linimasa.

Pada akhirnya, algoritma akan terus bekerja dengan caranya, FOMO akan terus muncul selama ada media sosial, dan budaya ikut tren kemungkinan besar tidak akan hilang dalam waktu dekat. Yang bisa kita kendalikan hanyalah seberapa sadar kita saat memutuskan untuk ikut arus, atau memilih menikmati sebuah tempat dengan cara dan waktu kita sendiri.