Saat Semua Teman Terlihat Punya Arah, Kita Masih Bertanya-Tanya

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada masa dalam hidup ketika kita membuka media sosial, lalu perlahan dada terasa sesak. Bukan karena ada yang salah secara nyata, tapi karena satu per satu unggahan teman terasa seperti pengumuman: seseorang baru saja diterima kerja di perusahaan impian, yang lain mengunggah foto wisuda S2, ada juga yang baru menikah, membeli rumah pertama, atau memulai bisnis yang sudah mulai untung. Semua terlihat tahu ke mana mereka melangkah. Sementara kita, masih duduk di tempat yang sama, menatap layar, dan bertanya pada diri sendiri:
"Aku sedang menuju ke mana, sebenarnya?"

Perasaan ini jujur saja sangat manusiawi. Tapi ia juga bisa menjadi racun pelan-pelan jika dibiarkan tumbuh tanpa disadari.
Arah Orang Lain Bukan Peta Kita
Salah satu jebakan terbesar dari perbandingan sosial adalah asumsi bahwa jalan yang terlihat mulus di permukaan berarti benar-benar mulus. Kita tidak pernah melihat proses di baliknya: berapa kali seseorang gagal wawancara sebelum akhirnya diterima, berapa lama ia menabung diam-diam, atau seberapa besar keraguan yang ia simpan sendiri sebelum mengambil keputusan besar.
Media sosial pada dasarnya adalah etalase, bukan cermin. Orang cenderung menampilkan hasil, bukan proses yang berantakan, penuh keraguan, dan kadang menyakitkan. Maka ketika kita membandingkan bagian belakang panggung kita sendiri dengan panggung depan orang lain, hasilnya hampir selalu tidak adil bagi diri kita.
Tidak Punya Arah Bukan Berarti Tersesat
Ada perbedaan penting antara "belum tahu arah" dan "tersesat". Belum tahu arah berarti kita masih dalam proses mencari, mengeksplorasi, mencoba berbagai hal untuk memahami apa yang benar-benar cocok dengan diri kita. Ini bukan kegagalan — ini adalah bagian yang wajar dari perjalanan hidup, terutama di usia-usia awal dewasa ketika banyak hal masih terasa cair dan belum menetap.
Banyak orang yang hari ini terlihat sangat mantap dengan jalan hidupnya sebenarnya pernah melewati fase kebingungan yang sama. Bedanya, fase itu tidak pernah mereka unggah. Ketidakpastian jarang menjadi konten, padahal justru di situlah sebagian besar dari kita sedang berada.
Bertanya-Tanya Adalah Tanda Kita Sedang Berpikir
Alih-alih menganggap rasa bertanya-tanya sebagai kelemahan, ada cara lain untuk memandangnya: sebagai tanda bahwa kita sedang benar-benar berpikir tentang hidup kita sendiri, bukan sekadar mengikuti arus. Orang yang tidak pernah bertanya "apakah ini benar untukku?" kadang justru berjalan di jalur yang bukan pilihannya sendiri, melainkan jalur yang paling mudah diikuti atau paling diharapkan oleh orang lain.
Kebingungan yang jujur, yang lahir dari keinginan untuk memahami diri sendiri lebih dalam, sebenarnya adalah bentuk kedewasaan yang sering diremehkan. Ia menunjukkan bahwa kita peduli untuk hidup dengan sadar, bukan sekadar hidup dengan cepat.
Langkah Kecil Ketika Belum Ada Peta Besar
Ketika arah besar belum terlihat jelas, satu hal yang bisa membantu adalah berhenti mencari peta lengkap dan mulai memperhatikan langkah kecil di depan mata. Beberapa hal yang bisa dicoba:
Kenali apa yang membuat waktu terasa cepat berlalu. Aktivitas yang membuat kita lupa waktu sering kali menyimpan petunjuk tentang apa yang benar-benar bermakna bagi kita.
Batasi konsumsi media sosial saat sedang rentan. Tidak ada salahnya menjauh sejenak dari layar ketika perbandingan mulai terasa berat.
Bicarakan kebingungan itu dengan orang yang tepat. Kadang berbagi rasa tidak pasti dengan seseorang yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi membuat beban itu terasa lebih ringan.
Beri ruang untuk mencoba dan gagal. Arah hidup jarang ditemukan dalam satu momen pencerahan; ia lebih sering ditemukan lewat rangkaian percobaan kecil.
Menutup dengan Kesabaran pada Diri Sendiri
Tidak semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama, dan itu bukan masalah. Ada yang menemukan arahnya di usia dua puluhan, ada yang baru menemukannya jauh lebih lambat, dan keduanya sama-sama sah. Yang lebih penting dari sekadar terlihat "sudah punya arah" adalah kejujuran pada diri sendiri tentang di mana kita sesungguhnya berada saat ini.
Jadi, jika hari ini kamu masih bertanya-tanya sementara teman-teman di sekitarmu tampak sudah melangkah pasti, itu bukan tanda bahwa kamu tertinggal. Itu tanda bahwa kamu masih berproses — dan proses itu, meskipun tidak selalu terlihat rapi, adalah bagian yang tidak bisa dilompati dari perjalanan menemukan diri sendiri.
Aisya Dwi Hapsari, mahasiswi Strata 1 (S1) Sistem Informasi Universitas Pamulang
