Konten dari Pengguna

Scroll Media Sosial Sebelum Tidur: Kebiasaan Kecil yang Susah Dihentikan

Aisya Dwi Hapsari

Aisya Dwi Hapsari

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lampu kamar sudah dimatikan, selimut sudah ditarik sampai dagu, tapi tangan masih meraih ponsel di atas bantal. Niatnya cuma mau cek notifikasi sebentar. Lima menit kemudian jadi tiga puluh menit, dan mata yang tadinya sudah berat malah jadi terjaga penuh gara-gara satu video yang "terlalu lucu untuk dilewatkan" atau satu unggahan yang bikin penasaran kelanjutannya.

Kalau ini terdengar familiar, kabar baiknya, kamu tidak sendirian. Kebiasaan scroll sebelum tidur adalah salah satu pola paling umum di era digital, dan ternyata ada alasan yang cukup masuk akal kenapa kebiasaan ini begitu susah dihentikan meski sudah berkali-kali niat berhenti.

(Seseorang scrioll sosmed sebelum tidur | Created Image by ChatGPT)
zoom-in-whitePerbesar
(Seseorang scrioll sosmed sebelum tidur | Created Image by ChatGPT)

Otak yang Sedang Lelah Justru Lebih Gampang Terpancing

Menjelang tidur, otak sebenarnya sedang dalam kondisi lelah dan kemampuan mengambil keputusan sedang menurun. Kondisi ini justru membuat seseorang lebih rentan tergoda melakukan hal-hal impulsif, termasuk membuka aplikasi yang dirancang untuk terus memberi rangsangan baru. Bukannya beristirahat, otak malah diajak bekerja lagi memproses informasi baru setiap beberapa detik.

Ditambah lagi, konten di media sosial tidak pernah benar-benar "selesai". Selalu ada video baru, unggahan baru, cerita baru yang muncul begitu satu konten habis ditonton. Tidak ada titik alami untuk berhenti, karena memang tidak dirancang untuk punya titik akhir. Inilah yang membuat sesi "cek sebentar" berubah jadi sesi berjam-jam tanpa disadari.

Rasa Nyaman yang Menipu

Banyak orang membuka ponsel sebelum tidur bukan karena benar-benar butuh informasi, melainkan karena ingin mengalihkan pikiran dari kepenatan seharian. Scroll jadi semacam pelarian instan, cara paling gampang untuk merasa terhibur tanpa harus mengeluarkan usaha apa pun. Cukup gerakkan jempol, dan otak langsung disuguhi hal-hal baru yang bisa bikin lupa sejenak dengan pikiran yang berseliweran.

Masalahnya, rasa nyaman ini bersifat sementara dan justru menunda rasa kantuk yang sebenarnya sudah muncul. Alih-alih membantu rileks, aktivitas ini malah membuat pikiran makin aktif karena terus menerima rangsangan visual dan informasi baru yang harus diproses.

Cahaya Layar dan Jam Biologis yang Terganggu

Selain soal kebiasaan, ada juga faktor fisik yang berperan. Cahaya biru dari layar ponsel dapat memengaruhi produksi hormon melatonin, hormon yang membantu tubuh merasa mengantuk. Ketika mata terus terpapar cahaya ini menjelang waktu tidur, sinyal ke otak jadi membingungkan, seolah masih siang padahal tubuh seharusnya bersiap istirahat.

Kombinasi antara cahaya layar dan konten yang terus mengalir inilah yang membuat waktu tidur mundur tanpa terasa. Banyak orang baru sadar sudah larut malam setelah melihat jam, padahal niat awalnya cuma mau tidur lebih cepat dari hari sebelumnya.

Kenapa Susah Berhenti Meski Sudah Tahu Dampaknya

(Cahaya layar ponsel sebelum tidur | Created Image by ChatGPT)

Menariknya, kebanyakan orang sebenarnya paham bahwa scroll sebelum tidur tidak baik untuk kualitas istirahat. Tapi pengetahuan ini sering kalah dengan dorongan kebiasaan yang sudah terbentuk berulang-ulang setiap malam. Semakin sering pola ini diulang, semakin otomatis pula tangan meraih ponsel begitu badan berbaring, bahkan tanpa niat sadar untuk membuka aplikasi tertentu.

Kebiasaan ini juga diperkuat oleh rasa penasaran yang terus menerus dipicu. Media sosial dirancang untuk selalu menyisakan sedikit rasa "masih ada yang belum dilihat", sehingga otak terus merasa ada alasan untuk tetap scroll sedikit lebih lama.

Langkah Kecil yang Bisa Dicoba

Menghentikan kebiasaan ini secara total dalam semalam mungkin terasa berat, tapi ada beberapa cara sederhana yang bisa membantu perlahan mengurangi durasinya. Meletakkan ponsel di luar jangkauan tangan saat berbaring bisa mengurangi godaan untuk meraihnya secara refleks. Mengganti rutinitas sebelum tidur dengan aktivitas lain, seperti membaca buku fisik atau sekadar meredupkan lampu tanpa layar, juga bisa membantu tubuh lebih siap beristirahat.

Yang tak kalah penting adalah memberi batas waktu yang jelas, misalnya menentukan jam tertentu untuk berhenti menggunakan ponsel, alih-alih membiarkan diri "main sampai ngantuk" yang seringnya justru tidak pernah benar-benar tercapai.

Pada akhirnya, scroll sebelum tidur bukan sekadar soal kurang niat atau kurang disiplin. Ini soal kebiasaan yang dibentuk oleh cara kerja otak, teknologi yang dirancang untuk terus menarik perhatian, dan rutinitas yang terbentuk tanpa disadari. Menyadari pola ini adalah langkah pertama yang paling sederhana, sebelum mencoba mengubahnya sedikit demi sedikit, malam demi malam.