Alexithymia: Ketidakmampuan dalam Mengungkapkan Emosi

Seorang Mahasiswa Psikologi di Universitas Brawijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari AISYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berbicara tentang emosi, apa sih emosi itu? apakah ketika kita merasa marah dan kesal kepada orang lain itu dinamakan emosi? Lalu, apakah emosi hanya sebatas rasa kesal dan marah? Tentu tidak, karena begitu banyak jenis emosi yang ada di diri kita seperti emosi negatif dan positif.
Ketika kita marah, takut, dan sedih itu merupakan emosi negatif, dan ketika kita senang, bahagia, dan puas itu merupakan emosi positif. Lalu, apakah kalian pernah mengalami kesulitan untuk mengekspresikan emosi kalian sendiri?
Seperti ketika kalian menerima sebuah kado pemberian dari teman dekat kalian namun kalian bingung bagaimana cara untuk mengekspresikannya, alhasil hanya raut wajah tanpa ekspresi yang mampu ditampilkan.
Keadaan di atas, di mana seseorang yang memiliki kesulitan untuk mengidentifikasi, menjelaskan, dan mengekspresikan perasaannya sendiri merupakan ciri-ciri dari alexithymia. Alexithymia merupakan kesulitan untuk mengidentifikasi perasaannya serta bagaimana membedakan antara perasaan dan sensasi tubuh akan gairah emosi, kesulitan menjelaskan perasaannya kepada orang lain, memiliki keterbatasan dalam berimajinasi, dan gaya kognisi yang berorientasi pada stimulus eksternal (Nemiah, Freyberger & Sifneos, 1976; Taylor, 1994; Taylor, Bagby, & Parker, 1999).
Ternyata ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi alexithymia yaitu, kecerdasan emosi, attachment style, post traumatic disorder, dan faktor genetik serta kerusakan pada amigdala yang berperan dalam kemampuan memodulasi kognisi, sosial, dan perilaku sosial seperti mengatur tanggapan dari perilaku, berperan dalam kecemasan dan stress serta mengenali emosi pada wajah.
Seseorang yang menderita alexithymia cenderung memiliki gangguan dalam hubungan intrapersonal dan interpersonal, kenapa bisa begitu, ya?
Hal ini disebabkan karena kesulitan dalam memahami konteks dasar suatu bahasa, sulit untuk memberikan tanggapan atas perasaan atau emosi yang dirasakannya sendiri maupun orang lain, dan pemikirannya yang cenderung logis dan jujur apa adanya inilah yang menghambat dirinya untuk dapat berkomunikasi dengan orang sekitar bahkan dengan dirinya sendiri.
Bagi kita, untuk menampilkan ekspresi senang saat diberi hadiah, sedih saat mendengar kabar duka atau cemas saat menantikan hasil ujian adalah hal yang mudah, tanpa kita pelajari pun kita mampu untuk berekspresi demikian.
Namun, lain hal nya dengan mereka, mereka cenderung tidak merasakan perasaan takut, cemas, kasihan, gelisah, marah, senang, dan bahagia, serta raut wajah yang diberikan selalu datar tanpa ekspresi.
Lalu apakah seseorang yang menderita alexithymia bisa disebut seorang psikopat? Di mana mereka tidak mampu untuk merasakan rasa bersalah, kasihan, empati, dan lainnya. Jawabannya adalah tidak, bila seorang penderita alexithymia melihat adanya penyiksaan mereka memang tidak akan merasakan rasa sakit, pedih, bahkan simpati.
Namun, dia tahu jika penyiksaan tersebut membuat korban merasa tidak nyaman dan melihat pemandangan tersebut bukanlah hal yang menarik, sedangkan jika seorang psikopat, dia akan merasakan perasaan senang serta puas bahkan akan menganggapnya seperti pertunjukan yang sangat menarik.
Sebagian orang kadang menganggap bahwa memiliki alexithymia merupakan suatu keistimewaan, orang tersebut tidak akan merasakan takut, cemas, atau emosi lainnya, namun, bagi mereka yang mengalaminya akan merasakan bosan dan menganggap hidup tiada artinya, karena mereka ingin hidup normal seperti kebanyakan orang, dapat tertawa ketika melihat film komedi atau sedih ketika mendapatkan kabar buruk dari orang lain.
Daftar Pustaka
Chairani A., Suzy, Y. D., & Yunita, M. L. (2020). Hubungan alexithymia dengan kecanduan media sosial pada remaja di Jakarta Selatan. Scripta Score Scientific Medical Journal, 1(2), 1-9. https://doi.org/10.32734/scripta.v1i2.1229
Meriska, I. R., & Magdalena, S. H. (2018). Alexithymia pada sample non klinis: Keterkaitannya dengan gaya kelekatan. Jurnal Psikologi, 45(3), 200-217. https://doi.org/10.22146/jpsi.29106
Herlim, P. S. (2019). Alexithymia. 1-18. http://eprints.mercubuana-yogya.ac.id/5654/3/BAB%20II.pdf
Wonpyung, S. (2019). Almond. PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
