Konten dari Pengguna

Produk Olahan Ikan Viral di Media Sosial, Dorong Penguatan Edukasi Nilai Tambah

AISYAH

AISYAH

Staf pengajar dan peneliti di Departemen Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari AISYAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ikan Mas (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ikan Mas (Dokumentasi Pribadi)

Bandung — Tren produk olahan ikan yang viral di media sosial dalam beberapa waktu terakhir dinilai menjadi momentum penting bagi penguatan sektor perikanan nasional. Mulai dari nugget ikan, corndog berbahan ikan nila, hingga berbagai inovasi makanan laut kreatif ramai diperbincangkan di platform digital dan mendorong munculnya pelaku usaha baru di bidang kuliner berbasis perikanan.

Dosen perikanan Aisyah, S.Pi., M.Pi., menilai fenomena tersebut bukan sekadar tren konsumsi, melainkan peluang strategis untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan Indonesia. Menurutnya, viralitas produk olahan ikan harus diikuti dengan edukasi yang kuat agar mampu menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.

“Viral itu bagus sebagai pintu masuk. Tapi kalau hanya fokus pada tampilan tanpa pemahaman nilai tambah, banyak produk akan cepat naik dan cepat hilang. Edukasi menjadi kunci agar tren ini bisa berkembang menjadi gerakan ekonomi yang nyata,” ujar Aisyah dalam keterangannya.

Perubahan Pola Konsumsi dan Peluang Baru

Dalam beberapa tahun terakhir, produk perikanan mengalami transformasi signifikan. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak mengonsumsi ikan dalam bentuk segar atau olahan tradisional, kini inovasi produk berbasis ikan mulai tampil modern dan menarik bagi generasi muda.

Kemunculan konten kreatif tentang makanan laut di media sosial turut mengubah persepsi publik terhadap sektor perikanan yang selama ini dianggap konvensional. Produk olahan ikan kini hadir dengan kemasan modern, konsep praktis, serta strategi pemasaran digital yang menyasar pasar lebih luas.

Menurut Aisyah, perubahan pola konsumsi ini menunjukkan bahwa sektor perikanan memiliki potensi besar untuk berkembang melalui pendekatan kreatif dan teknologi digital. “Perikanan tidak lagi hanya soal menangkap atau membudidayakan ikan. Sekarang kita bicara tentang bagaimana mengolah, mengemas, dan memasarkan produk secara inovatif,” katanya.

Konsep nilai tambah dalam perikanan merujuk pada proses pengolahan hasil tangkapan atau budidaya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Produk seperti nugget ikan, bakso ikan, atau makanan siap saji berbahan ikan tidak hanya meningkatkan harga jual, tetapi juga memperpanjang masa simpan serta memperluas segmentasi pasar.

Aisyah menjelaskan bahwa selama ini banyak masyarakat pesisir masih menjual ikan dalam bentuk mentah dengan keuntungan terbatas. Padahal, pengolahan sederhana dapat meningkatkan pendapatan secara signifikan jika didukung oleh edukasi teknologi pangan dan manajemen usaha.

“Nilai tambah bukan hanya soal rasa atau kemasan. Ada aspek nutrisi, keamanan pangan, hingga strategi branding yang perlu dipahami pelaku usaha,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa edukasi nilai tambah juga dapat membantu meningkatkan konsumsi ikan nasional, terutama di kalangan anak-anak dan generasi muda yang lebih menyukai produk praktis.

Selain inovasi produk, digitalisasi menjadi faktor penting dalam perkembangan UMKM perikanan. Banyak pelaku usaha mulai memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok sebagai sarana promosi sekaligus penjualan produk olahan ikan.

Platform e-commerce juga membuka peluang pasar baru bagi produk perikanan lokal untuk menjangkau konsumen di berbagai daerah. Menurut Aisyah, digitalisasi memungkinkan pelaku UMKM untuk bersaing secara lebih luas tanpa harus memiliki toko fisik.

Namun demikian, ia menilai masih banyak pelaku usaha yang belum memahami strategi pemasaran digital secara optimal. “Banyak yang sudah jualan online, tapi belum tahu bagaimana membuat konten edukatif, storytelling produk, atau membangun identitas merek yang kuat,” katanya.

Karena itu, ia mendorong adanya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan komunitas lokal dalam memberikan pelatihan pemasaran digital berbasis sektor perikanan.

Fenomena viralnya produk olahan ikan juga tidak lepas dari peran generasi muda yang aktif di media sosial. Kreativitas anak muda dinilai mampu mengubah produk sederhana menjadi tren nasional melalui pendekatan visual dan storytelling yang menarik.

Aisyah melihat mahasiswa dan generasi muda memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam pengembangan nilai tambah perikanan. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat maupun program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa dapat membantu masyarakat desa mengenal teknologi pengolahan ikan serta strategi pemasaran digital.

“Anak muda punya kemampuan adaptasi teknologi yang tinggi. Jika diarahkan dengan edukasi yang tepat, mereka bisa menjadi penggerak inovasi produk perikanan di daerah,” ujarnya.

Meski peluang terbuka lebar, pengembangan UMKM olahan ikan masih menghadapi sejumlah tantangan. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan teknologi pengolahan, rendahnya literasi keuangan, serta kurangnya pemahaman tentang standar mutu produk.

Banyak pelaku usaha yang mengikuti tren viral tanpa memiliki perencanaan bisnis jangka panjang. Akibatnya, produk yang sempat populer sering tidak bertahan lama di pasaran.

Aisyah menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan agar pelaku usaha tidak hanya mengejar tren, tetapi juga membangun fondasi usaha yang kuat. “Kita perlu mengubah pola pikir bahwa inovasi bukan sekadar ikut-ikutan, tetapi proses yang berbasis ilmu dan keberlanjutan,” katanya.

Aisyah menegaskan bahwa sektor perikanan Indonesia sedang bergerak menuju era modern yang menekankan kreativitas, inovasi, dan keberlanjutan. Produk olahan ikan yang viral menjadi bukti bahwa masyarakat mulai melihat potensi besar dari sektor ini. Ia berharap fenomena viral tersebut dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat literasi perikanan di masyarakat. Edukasi mengenai manfaat nutrisi ikan, teknologi pengolahan, serta strategi pemasaran digital dinilai perlu diperluas agar sektor perikanan mampu bersaing di pasar global.

“Indonesia adalah negara maritim dengan sumber daya laut yang luar biasa. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kita mengubah kekayaan itu menjadi produk bernilai tambah yang berdaya saing tinggi,” katanya.

Harapan ke Depan

Di tengah maraknya tren produk olahan ikan di media sosial, Aisyah berharap pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dapat bekerja sama membangun ekosistem perikanan yang lebih kuat. Menurutnya, edukasi harus menjadi fondasi utama agar viralitas tidak hanya menjadi fenomena sesaat.

“Ketika sebuah produk ikan menjadi viral, itu bukan hanya soal makanan. Itu tanda bahwa masyarakat mulai melihat masa depan baru sektor perikanan. Tugas kita adalah memastikan masa depan itu berkelanjutan,” tutupnya.